Kisah Zahira, Putri Penjual Kelontong-Difabel Daksa Kuliah di Unesa Lewat KIP Kuliah

ADVERTISEMENT

Kisah Zahira, Putri Penjual Kelontong-Difabel Daksa Kuliah di Unesa Lewat KIP Kuliah

Devita Savitri - detikEdu
Senin, 27 Jul 2026 07:30 WIB
Cerita perjuangan masuk kuliah Zahira, kini diterima di Unesa dengan KIP Kuliah.
Cerita perjuangan masuk kuliah Zahira, kini diterima di Unesa dengan KIP Kuliah. Foto: dok. Universitas Negeri Surabaya
Jakarta -

Di balik bilik toko kelontong sederhana di Kediri, seorang anak bangsa menyimpan mimpi besar untuk melanjutkan kuliah. Ia adalah Zahira Dewi Kirana Lestari.

Zahira, panggilan akrabnya, dikenal sebagai anak yang supel, ceria, dan aktif mengikuti berbagai kegiatan akademik, seperti Olimpiade Sains Madrasah (OSM). Tekun menjadi sifat yang menggambarkan seorang Zahira.

Sifat tersebut juga yang mengantarkannya meraih mimpi untuk berkuliah. Zahira kini telah diterima sebagai mahasiswa program studi S1 Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya (FBS Unesa).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Siap Kuliah Pakai KIP Kuliah

Perjuangan kuliah Zahira bisa dibilang tidak mudah. Sebagai putri dari penjual kelontong sederhana, keterbatasan ekonomi menjadi tantangannya.

ADVERTISEMENT

Selain itu, Zahira juga diketahui merupakan penyandang disabilitas daksa. Namun, kedua keterbatasan itu tidak pernah memadamkan mimpinya hingga kini resmi menjadi calon mahasiswa Unesa dengan KIP Kuliah.

Sejak bersekolah di MAN 3 Kediri, ia telah bertekad untuk melanjutkan studi setelah lulus. Surabaya menjadi kota pilihannya untuk berkuliah lantaran sudah merasa familiar.

"Dari SMA memang sudah ingin kuliah. Saya ingin kuliah di Surabaya karena sejak kecil pernah kontrol di sana, jadi sudah merasa lebih familiar dengan Surabaya," ungkap Zahira dikutip dari laman Unesa, Jumat (24/7/2026).

Pilihannya pada program studi Sastra Inggris berangkat dari hobi menonton film, mendengarkan musik, dan bacaan berbahasa Inggris. Berbagai hal ini kemudian menumbuhkan rasa ingin tahu besar terkait bahasa sekaligus budaya dari berbagai negara.

Di perkuliahannya nanti, Zahira ingin mengikuti program pertukaran mahasiswa. Dengan begitu, ia bisa mempelajari bahasa dan budaya negara lain secara langsung.

"Saya ingin belajar bahasa dan budaya lain. Kalau ada kesempatan, ingin mencoba exchange ke luar negeri," harapnya.

Mahasiswa KIP Kuliah Dapat Pendampingan

Unesa menyambut baik bergabungnya Zahira ke kampus dengan julukan rumah para juara itu. Wakil Rektor I Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa Martadi secara langsung mendatangi Zahira.

Martadi menjelaskan proses seleksi penerima KIP Kuliah di Unesa dilakukan secara menyeluruh. Tujuannya, agar beasiswa tepat sasaran dan diberikan kepada mahasiswa yang memang membutuhkannya.

Tak hanya beasiswa kuliah, Unesa juga memberikan pendampingan pada mahasiswa penerima KIP Kuliah sejak awal. Bentuk pendampingan yang dimaksud mulai dari bantuan akademik, pemberian alat belajar seperti laptop, hingga memfasilitasi kebutuhan tempat tinggal.

"Agar mereka dapat belajar dengan baik, aman, dan nyaman," ungkap Murtadi.

Melihat mimpi Zahira, Martadi menekankan, mahasiswa KIP Kuliah punya kesempatan yang sama untuk mengikuti pertukaran di dalam maupun dalam negeri. Mereka juga diberikan kebebasan yang sama untuk mengembangkan diri dan prestasi

"Bagi Unesa, perjuangan Zahira patut diapresiasi dan menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan pendidikan tinggi yang semakin inklusif. Melalui KIP Kuliah, universitas berupaya memastikan bahwa keterbatasan ekonomi maupun kondisi disabilitas tidak menjadi penghalang bagi talenta muda untuk memperoleh kesempatan belajar, bertumbuh, dan mengembangkan potensi terbaiknya," tekan Unesa.



(det/twu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads