Kenapa Akhir-akhir Ini Malam Terasa Lebih Dingin? Ini Penjelasan Pakar IPB

ADVERTISEMENT

Kenapa Akhir-akhir Ini Malam Terasa Lebih Dingin? Ini Penjelasan Pakar IPB

Trisna Wulandari - detikEdu
Jumat, 24 Jul 2026 20:15 WIB
Ornamen cahaya berwarna-warni menghiasi kawasan Bundaran HI, Jakarta, Selasa (23/12/2025), menghadirkan suasana malam yang lebih semarak di pusat ibu kota.
Ilustrasi malam cerah. Foto: Mohammad Farrel/detikFoto
Jakarta -

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan Indonesia memasuki masa puncak kemarau sekitar Agustus 2026. Namun, sepanjang kemarau, ada fenomena unik yang terjadi, yakni malam hari terasa lebih dingin.

Fenomena suhu dingin pada malam hari ini terutama terjadi di Pulau Jawa. Bagi masyarakat Jawa, kondisi ini dinamakan bedhidhing atau juga disebut bediding.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengapa Malam Kemarau Terasa Lebih Dingin?

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Dr Givo Alsepan mengatakan, fenomena malam kemarau yang lebih dingin atau bediding merupakan fenomena yang dipicu beberapa kondisi atmosfer di musim ini.

"Tidak berdiri sendiri, melainkan manifestasi dari proses fisik atmosfer. Kondisi ini terjadi ketika suhu minimum harian turun cukup signifikan akibat pendinginan radiasi yang berlangsung sangat efektif," kata Givo, dikutip dari laman IPB University, Jumat (24/7/2026).

ADVERTISEMENT

Langit Malam Cerah

Givo menjelaskan, penyebab utama malam hari terasa lebih dingin pada musim kemarau adalah langit malam yang cenderung cerah.

Pada langit cerah malam hari musim kemarau, tutupan awan lebih sedikit. Alhasil, panas pada siang hari yang sudah diserap oleh permukaan bumi bisa dipancarkan lagi ke atmosfer dan ke luar angkasa dengan lebih mudah.

"Sehingga suhu udara di dekat permukaan turun lebih cepat," jelasnya.

Udara Lebih Kering

Udara umumnya lebih kering pada musim kemarau daripada musim hujan. Kandungan uap air di atmosfer pun berkurang. Kondisi ini turut memengaruhi malam hari yang terasa lebih dingin.

"Ketika udara lebih kering, pelepasan panas dari permukaan bumi berlangsung lebih efektif. Akibatnya, udara pada malam hingga pagi hari terasa jauh lebih dingin," ujarnya.

Angin Monsun Australia

Pada Juni-Agustus, Australia justru sedang mengalami musim dingin karena berada di belahan bumi selatan, berkebalikan dengan negara-negara belahan bumi utara.

Massa udara yang bergerak dari Australia menuju Indonesia membawa udara yang lebih sejuk dan kering, terutama ke wilayah selatan khatulistiwa seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

"Indonesia saat ini berada pada musim kemarau yang dipengaruhi oleh Monsun Australia, sedangkan Eropa, Amerika Utara, maupun sebagian Asia Timur sedang memasuki musim panas," terangnya.

El Nino

BMKG juga memprediksi fenomena El Niño akan bertahan sampai awal 2027, dengan kategori kuat 63 persen dan kategori moderat 98 persen.

El Niño merupakan fenomena pemanasan suhu muka laut di atas normal yang terjadi di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, sedangkan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik bagian barat dan perairan Indonesia yang biasanya hangat menjadi lebih dingin dari normalnya.

Pada saat terjadi anomali ini, daerah pertumbuhan awan bergeser dari wilayah Indonesia ke wilayah Samudra Pasifik bagian tengah, sehingga curah hujan di Indonesia, dikutip dari laman Deputi Bidang Klimatologi BMKG.

Givo berpendapat bahwa fenomena El Nino saat ini juga berpotensi memperkuat kondisi kemarau di Indonesia, antara lain curah hujan yang lebih rendah, kelembapan udara yang menurun, serta langit yang lebih sering cerah pada malam hari.

Hal-hal tersebut membuat proses pendinginan radiasi berlangsung lebih optimal. Alhasil, malam bisa terasa lebih dingin saat musim kemarau.

Bukan Aphelion

Terpisah, Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi (GFM) FMIPA IPB University Dr Akhmad Faqih mengatakan, fenomena aphelion tidak berpengaruh signifikan pada menurunnya suhu di malam hari di Indonesia.

Aphelion merupakan fenomena tahunan saat titik terjauh dalam orbit Bumi saat mengelilingi Matahari. Fenomena ini terjadi bertepatan dengan musim kemarau di Indonesia.

Ia menjelaskan, kondisi suhu harian yang perubahan meteorologinya cepat tidak relevan dikaitkan dengan fenomena aphelion tahunan yang siklus kejadiannya lebih lambat.

"Ketika kita berbicara tentang kejadian cuaca dan iklim dan ingin melihat pengaruhnya karena apa, maka kita harus melihat time scale-nya," ucapnya.



(twu/faz)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads