Gen Z Pertama Anggota DTKJ Ini Suarakan Idealnya Transum Jakarta Seperti Ini

ADVERTISEMENT

Gen Z Pertama Anggota DTKJ Ini Suarakan Idealnya Transum Jakarta Seperti Ini

Trisna Wulandari - detikEdu
Kamis, 09 Jul 2026 10:30 WIB
Jessica Shally Anisa
Jessica Shally Anisa, Gen Z pertama yang jadi anggota Dewan Transportasi Kota Jakarta. Foto: Dok Jessica Shally Anisa
Jakarta -

Jessica Shally Anisa dikukuhkan menjadi anggota Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) 2026-2029, Jumat (3/7/2026). Gen Z pertama di antara ke-17 anggota DTKJ periode ini tersebut masih berusia 25 tahun.

Kendati masih muda, Jessica membawa bekal pendidikan dan pengalaman risetnya ke DTKJ. Diketahui, lembaga mitra strategis DKI Jakarta ini berperan dalam memberikan masukan, rekomendasi, dan solusi terhadap berbagai persoalan transportasi di ibu kota.

Jessica mengantongi gelar Bachelor of Engineering dari perguruan tinggi di Turki, dengan fokus di bidang Urban and Regional Planning. Ia juga sebelumnya terlibat dalam riset proyeksi penumpang LRT Jakarta dan aktif dalam beragam diskusi transportasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ingin Transum Diperkuat Data dan Kondisi di Lapangan

Bertugas di Komisi Hukum dan Humas DTKJ, Jessica berharap rekomendasi kebijakan ke depannya dapat DTKJ semakin berbasis data, responsif terhadap kondisi lapangan, dan terbuka terhadap pengembangan teknologi. Ia menjelaskan, data menjadi dasar penting dalam perencanaan transportasi modern untuk membaca pola perjalanan, kebutuhan pengguna, kapasitas layanan, serta potensi integrasi antarmoda.

"Ke depannya, kebijakan transportasi Jakarta perlu semakin adaptif terhadap berbagai macam teknologi. Beberapa hal yang dapat diperkuat, antara lain integrasi data perjalanan, sistem informasi real-time, pembayaran yang lebih mudah, perencanaan rute berbasis pola mobilitas warga, serta pengembangan armada yang lebih ramah lingkungan, termasuk elektrifikasi kendaraan umum," ucapnya kepada detikEdu, Rabu (8/7/2026).

ADVERTISEMENT

Transum yang Dorong Beralih dari Kendaraan Pribadi

Ia menambahkan, teknologi juga perlu ditempatkan sebagai alat untuk menjawab kebutuhan pengguna generasi muda. Anak muda membutuhkan layanan transportasi yang cepat, transparan, mudah diakses, aman, dan terintegrasi secara digital.

Jessica menambahkan, transportasi publik juga perlu diarahkan untuk mendukung pengurangan emisi dan ketergantungan pada kendaraan pribadi. Hal ini selaras dengan anak muda yang kini juga semakin peduli terhadap isu lingkungan. Strategi ini diproyeksi dapat mendukung pembangunan kota yang lebih berkelanjutan.

"Hal ini mungkin sejalan dengan tugas besar untuk mendorong lebih banyak masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum itu sendiri. Semakin kuat kualitas layanan transportasi publik, semakin besar peluang masyarakat untuk menjadikan pilihan utama dalam mobilitas sehari-hari," ucapnya.

Gen Z Bukan Sekadar Pengguna Transum

Jessica menekankan, anak muda jangan sampai menempatkan diri semata-mata sebagai pengguna transportasi publik. Ia menjelaskan, anak muda juga dapat menjadi bagian dari pembentuk ekosistem transportasi Jakarta.

Peran ini bisa dimulai dari hal sederhana, seperti menggunakan transportasi umum, menjaga fasilitas umum, membangun budaya ketertiban, memberi masukan konstruktif, serta ikut menyebarkan informasi yang benar tentang layanan transportasi itu sendiri.

Ia menambahkan, pilihan mobilitas anak muda juga berdampak. Semakin banyak anak muda memilih transportasi umum, maka semakin anak muda terlibat dalam mengurangi kemacetan, menekan polusi, dan membangun budaya mobilitas yang lebih bertanggung jawab.

"Anak muda juga punya ruang besar untuk terlibat melalui riset, diskusi publik, komunitas, inovasi digital, dan advokasi kebijakan. Dan kota yang lebih baik membutuhkan suara dari generasi yang akan merasakan dampaknya paling lama ke depan, yaitu anak muda itu sendiri. Naik transportasi umum adalah bagian dari cara kita sebagai anak muda untuk membentuk Jakarta yang lebih nyaman, lebih sehat, dan lebih manusiawi," ujarnya.

Gen Z di Dewan Transportasi Kota Jakarta

Jessica terpilih di antara praktisi dan ahli transportasi yang menjadi anggota DTKJ. Mewakili anak muda, ia berupaya membangun kredibilitas melalui kesiapan belajar, kerja berbasis data, dan kontribusi yang relevan.

Ia mengakui, para figur-figur terpilih sudah lebih dulu terjun ke dunia transportasi dan mengantongi pengalaman teknis, kelembagaan, dan historis berharga. Sementara itu, ia membawa membawa perspektif pengguna muda serta cara pandang generasi yang akan merasakan dampak jangka panjang dari kebijakan transportasi hari ini.

"Perspektif Gen Z perlu dilihat sebagai cara membaca kebutuhan, pengguna masa kini dan masa depan. Generasi muda adalah pengguna aktif transportasi publik, terbiasa dengan teknologi, cepat merespon perubahan, dan memiliki perhatian besar terhadap isu keberlanjutan, aksesibilitas, dan kualitas layanan," ucapnya.

"Dan perpaduan pengalaman dan perspektif baru dapat membuat rekomendasi DTKJ menjadi lebih utuh," tuturnya.

Sementara itu, berdasarkan pengalamannya di bidang riset dan diskusi transportasi, ia mendapati ada tantangan besar di bidang koordinasi antarpihak. Terlebih, transportasi kota melibatkan banyak instansi, operator wilayah, dan kepentingan publik.

Untuk itu, sinkronisasi data komunikasi yang jelas, serta kemauan bekerja lintas sektor baginya menjadi sangat penting agar kebijakan tidak berhenti sebagai wacana dan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

Ia menambahkan, sikap rendah hati dan kolaboratif menurutnya penting untuk dapat bekerja sama dengan sosok-sosok lintas usia dan pengalaman.

"Bagi saya, amanah ini merupakan kesempatan untuk membawa perspektif generasi muda dalam menjawab tantangan transportasi Jakarta. Saya juga percaya kontribusi tidak ditentukan oleh usia, melainkan oleh kemauan untuk terus belajar, terbuka terhadap masukan, dan mampu bekerja sama dengan berbagai pihak," ucapnya.

"Dan menurut saya sendiri, cara terbaik agar perspektif Gen Z diakui adalah dengan hadir secara konsisten dan menyampaikan pandangan secara terukur, lalu ada mendengarkan pengalaman pihak lain, dan yang terakhir menunjukkan bahwa suara anak muda dapat memberi nilai tambah dalam proses perumusan kebijakan transportasi," tutur Jessica.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Penduduk RI Tembus 289 Juta, Jumlah Gen-Z Mendominasi"
[Gambas:Video 20detik] (twu/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads