Tren Cyberdeck di Kalangan Gen Z, Apa Itu?

ADVERTISEMENT

Tren Cyberdeck di Kalangan Gen Z, Apa Itu?

Trisna Wulandari - detikEdu
Kamis, 02 Jul 2026 09:45 WIB
Framedeck, cyberdeck dari Richard Sutherland yang berbasis komputer Framework.
Framedeck, cyberdeck dari Richard Sutherland yang berbasis mainboard komputer Framework. Foto: Wikimedia Commons
Jakarta -

Tren cyberdeck muncul di kalangan Gen Z dalam beberapa bulan terakhir. Gadget yang sekilas berupa komputer portabel bermacam-macam ini jadi pembahasan di Reddit hingga TikTok.

Sejumlah anak muda Gen Z menggunakannya untuk main game jadul. Beberapa lainnya menjajal komunikasi dengan gelombang radio hingga hacking yang etis. Sebenarnya, apa itu cyberdeck?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cyberdeck, Sejenis Laptop atau Komputer?

Cyberdeck adalah komputer portabel unik hasil rakitan sendiri. Komponennya bisa menggunakan barang bekas atau baru, baik dari papan ketik mekanis, sistem papan tunggal (single board), layar kecil, dan baterai yang bisa dicopot, seperti dijelaskan dalam laman Prodi Teknik Informatika (TI), Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya (FT Unesa).

Kendati jadi pembahasan beberapa waktu terakhir, cyberdeck rupanya sudah muncul sejak 1984 lewat novel sci-fi distopia "Neuromancer" karya William Gibson. Cyberdeck dalam novel tersebut digambarkan sebagai konsol komputer portabel para hacker yang bisa menembus jaringan virtual global 'cyberspace'.

ADVERTISEMENT

Kelebihan Cyberdeck

Tampilan cyberdeck lazimnya tidak semulus laptop atau komputer saat baru dikeluarkan dari boks. Terlebih, perakitnya biasa menggunakan komponen bekas atau komponen baru, tetapi tidak diberi penutup khas produksi pabrik.

Kendati demikian, ada beragam kelebihan cyberdeck yang menjadi alasan ketertarikan Gen Z.

Bermacam Fungsi

Perakit cyberdeck bisa memasukkan beragam fungsi pada perangkatnya. Jika tidak berminat terhubung ke internet, tinggal tidak usah dipasang.

Annike Tan alias Ube Boobey, kreator TikTok, membuat cyberdeck-nya bisa terhubung ke internet. Namun, agar tetap bisa berfungsi secara offline, ia juga memasukkan file lagu, file buku, artikel Wikipedia, foto kucing, game, sampai peta ke perangkatnya, dilansir dari Wired.

Sementara itu, YouTuber W6IWN SOTA & HAM RADIO merakit cyberdeck yang bisa mengirimkan email atau message tanpa internet, dengan memanfaatkan gelombang radio.

Banyak TikToker dan YouTuber lain juga membagikan fungsi cyberdeck karya mereka, mulai dari menulis, bermain game, hingga mengumpulkan data. Dengan opsi tidak memiliki koneksi internet, penggunanya bisa menjaga kegiatan dari distraksi seperti notifikasi aplikasi yang biasanya muncul di smartphone.

Desain Sesukanya

W6IWN SOTA & HAM RADIO menggunakan desain khas cyberdeck untuk perangkatnya, yaitu layar dan keyboard seperti laptop, tetapi dipasang di koper. Style apokaliptik alias mengantisipasi kiamat ini selaras dengan narasi distopia dalam sejarah kemunculan cyberdeck sendiri.

Sementara itu, Annike Tan menggunakan purse bekas untuk membuat cyberdeck berdesain nuansa laut dan putri duyung. Di cyberdeck miliknya yang lebih besar, ia juga memasukkan solar panel (panel surya), penunjuk baterai, hingga kipas kecil dan lampu, dengan hiasan gaya tumbuhan.

Sejumlah desain cyberdeck lainnya yang banyak ditemukan di TikTok antara lain model mesin tik, konsol game, Macbook versi 1990-an dan awal 2000-an, kerang mutiara, Tamagotchi, kotak catur, ponsel jadul, kotak perhiasan, TV retro, sampai bola PokΓ©mon.

Prinsip do-it-yourself (DIY) ini dipandang membangkitkan semangat untuk mengekspresikan kreativitas dan identitas diri, serta rasa tak mau kalah dari teknologi. Terlebih, tren ini muncul lagi di masa kecerdasan buatan (AI) memangkas kesempatan kerja hingga kreativitas manusia dengan pembuat gambar, lagu, hingga tugas sekolah atau tugas kantor bertenaga AI.

Menurut Annike Tan, cyberdeck juga bisa jadi langkah awal untuk meningkatkan literasi teknologi masing-masing. Meskipun tidak lepas dari HP sehari-hari, baginya, cyberdeck jadi cara untuk menolak budaya serba AI.

Merakit cyberdeck baginya juga melatih diri untuk mampu berekspresi dan bekerja keras.

"Semua (gadget) yang kita gunakan dan berinteraksi dengannya setiap hari selama ini, itu kita sangat terputus dari proses pembuatannya, dari mana asalnya, dan bagaimana cara kerjanya, kan," tuturnya.

Upcycle dan Antikorporasi

Penggunaan kembali komponen komputer, laptop, atau smartphone lama pada cyberdeck juga dipandang positif karena bersifat upcycle dan ramah lingkungan. Limbah elektronik yang terbengkalai bisa 'punya kehidupan baru'.

Di samping itu, prinsip pakai ulang ini juga bisa lebih ekonomis dari segi biaya. Beragam barang bisa dimanfaatkan, mulai dari casing bekas, tas atau kotak kosmetik, kaleng permen, atau kotak perhiasan bekas.

Praktik DIY cyberdeck dengan barang bekas juga jadi bentuk penentangan terhadap budaya konsumtif ala perusahaan teknologi, yang merancang agar smartphone atau perangkat tertentu hanya bisa dipakai selama beberapa tahun.

Merakit sendiri cyberdeck jadi pembuktian bahwa siapa saja bisa belajar membuatnya dan dengan gayanya sendiri, meskipun tidak punya latar teknik formal dari kampus.

Hal ini menumbuhkan budaya aktif, kreatif, dan berkesenian, alih-alih pasif dan seragam. Merakit perangkat sendiri juga jadi cara yang menyenangkan agar teknologi terasa lebih manusiawi dan seru untuk dipakai lagi.




(twu/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads