×
Ad

Pakar: Membeli Blind Box Berlebihan Picu Gangguan Kesehatan Mental

Devita Savitri - detikEdu
Senin, 08 Jun 2026 17:00 WIB
Pakar singgung pembelian blind box bisa berdampak pada kesehatan gangguan mental. Foto: Dok. pribadi Sonia Permata.
Jakarta -

Pakar sekaligus Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University dr Samuel Stemi singgung maraknya tren membeli blind box di masyarakat. Menurutnya, pembelian blind box secara berlebihan bisa membahayakan kesehatan mental seseorang.

Blind box awalnya hadir untuk menjadi hiburan. Daya tarik utamanya terletak pada rasa penasaran dan kejutan saat membuka isi kotak yang kemudian memicu perasaan senang.

Perasaan senang ini mendorong seseorang ingin mengulangi pengalaman yang serupa. Sayangnya, jika dilakukan berulang tanpa kontrol, Samuel menyebut akan ada dampak yang ditimbulkan.

"Jika dilakukan berulang tanpa kontrol, kebiasaan ini dapat berkembang menjadi perilaku yang sulit dihentikan karena adanya dorongan untuk mendapatkan item atau karakter yang diinginkan," paparnya dikutip dari IPB University, Senin (8/6/2026).

Blind Box Bisa Timbulkan Stress

Dibandingkan hadiah yang pasti, blind box dapat memicu pelepasan hormon dopamin yang lebih kuat. Alasannya, karena blind box memiliki unsur ketidakpastian, kejutan, dan ekspetasi.

Di sisi psikologi, perilaku membeli blind box berlebihan bisa meningkatkan berbagai hal, dari impusivitas, menurunkan kemampuan menunda keinginan, hingga menimbulkan stres akibat pengeluaran yang tidak terkontrol.

Jika stres psikologi berlangsung dalam jangka panjang, kadar hormon kortisol bisa meningkat. Kondisi ini bisa berkaitan dengan percepatan penuaan biologis, seperti penurunan kualitas kulit, munculnya inflamasi kronis, dan gangguan metabolik.

Mirip dengan Perjudian

Samuel juga menilai, mekanisme psikologi dalam fenomena blind box memiliki kemiripan dengan perilaku adiktif lain, seperti perjudian. Kesamaannya ada pada sistem hadiah yang tidak pasti, aktivasi jalur dopamin di otak, serta dorongan untuk terus mengulangi perilaku tersebut.

"Meskipun tidak identik secara klinis dengan judi, pola ini berada dalam spektrum perilaku adiktif yang perlu diwaspadai," ungkapnya.

Ketika seseorang mendapat hasil yang tidak diinginkan atau duplikat, biasanya muncul rasa kecewa atau disforia. Kondisi ini dapat memicu reward chasing behavior atau keinginan untuk membeli kembali demi dapat hasil yang dianggap lebih memuaskan.

"Dorongan untuk memperbaiki hasil inilah yang berpotensi memperkuat siklus adiksi," sambung dia.

Cara Mencegah Gangguan Kesehatan Mental

Untuk langkah pencegahan, Samuel menyarankan masyarakat untuk memahami mekanisme psikologi di balik fenomena blid box, menerapkan prinsip mindful buying dengan menetapkan batas anggaran dan frekuensi pembelian, meningkatkan literasi finansial, dan kemampuan mengendalikan impuls.

Samuel juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi pola konsumsi anak dan remaja. Apabila perilaku mulai bersifat kompulsif dan menggangu aktivitas, ia menyarankan agar hubungi psikolog atau psikiater.

"Blind box tidak sepenuhnya negatif jika dilakukan secara sadar dan terkontrol. Namun tanpa regulasi diri yang baik, terdapat potensi dampak terhadap kesehatan mental dan secara tidak langsung terhadap proses penuaan karena eratnya hubungan antara stres, hormon, dan kesehatan jangka panjang," tandasnya.



Simak Video "Video: Fokus Kesehatan Mental, Lauv Putuskan Hiatus"

(det/faz)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork