Puasa Ramadan Bantu Kurangi Stres, Begini kata Psikolog UI-Unesa

ADVERTISEMENT

Puasa Ramadan Bantu Kurangi Stres, Begini kata Psikolog UI-Unesa

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Rabu, 25 Feb 2026 03:00 WIB
an asian modern muslim malay woman with hijab and sunglasses carrying her daughter outdoor on the street of kuaala lumpur bonding time
Foto: iStock
Jakarta -

Puasa Ramadan tidak hanya bermakna spiritual, tetapi bisa membawa manfaat besar bagi keseimbangan mental dan emosional seseorang. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, praktik menahan diri dari makan, minum, serta emosi negatif selama Ramadan terbukti memberi ruang bagi tubuh dan pikiran untuk beristirahat dan beradaptasi.

Sejumlah pakar dari berbagai lembaga, termasuk Universitas Indonesia (UI), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes), menegaskan bahwa puasa berperan penting dalam menjaga kesehatan mental. Puasa mampu membantu menurunkan tingkat stres dan kecemasan serta meningkatkan rasa syukur, kebahagiaan, dan empati terhadap sesama.

Melalui pengendalian diri, ibadah, dan refleksi spiritual, puasa menjadi bentuk terapi alami yang menyeimbangkan tubuh, pikiran, dan jiwa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Latihan Pengendalian Emosi dan Empati Spiritual

Menurut Pakar Psikologi Klinis Universitas Indonesia, Dini Rahma Bintari, SPsi, MPsi, PhD, Psikolog, puasa mengajarkan seseorang untuk mengendalikan emosi negatif dan memperkuat kesabaran.

ADVERTISEMENT

"Dengan menahan lapar, haus, serta emosi negatif, puasa mengajarkan seseorang untuk lebih sabar dan tawakal," ujarnya.

Dini menegaskan berpuasa juga melatih empati dan meningkatkan emosi positif, seperti rasa syukur serta kebahagiaan. Ia menambahkan, kebiasaan bersedekah dan mengeluarkan zakat selama Ramadan turut memperkuat koneksi sosial dan menumbuhkan rasa berarti.

"Aktivitas sedekah dan zakat tidak hanya membantu orang lain, tetapi juga meningkatkan kebahagiaan diri sendiri karena merasa berkontribusi dalam meringankan beban orang lain," ujarnya, dikutip dari laman resmi UI.

Ia menilai praktik spiritual seperti membaca dan merenungkan ayat-ayat Al-Quran berperan penting dalam menjaga keseimbangan batin. Melalui proses ini, seseorang dapat menemukan makna hidup yang lebih dalam dan mengurangi kecemasan serta kesedihan yang berlebihan.


Menyeimbangkan Tubuh dan Pikiran Secara Ilmiah

Dekan Fakultas Psikologi Unesa, Dr Diana Rahmasari, SPsi, MSi, Psikolog, juga mengatakan puasa dapat berkontribusi terhadap penurunan stres dan depresi melalui mekanisme biologis dan psikologis.

"Dengan pola makan yang lebih teratur selama puasa, kemampuan berpikir meningkat dan stres lebih terkendali," ujarnya, dikutip dari laman resmi Unesa.

Diana menjelaskan puasa mampu menekan kadar hormon stres seperti kortisol dan meningkatkan produksi Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF) (protein yang berperan dalam memperbaiki sel otak dan suasana hati). Ia juga menyebutkan peningkatan hormon dopamin dan oksitosin selama puasa mendukung munculnya perasaan bahagia dan makna hidup.

Selain itu, puasa membantu menata ritme sirkadian tubuh agar pola tidur lebih teratur. Dengan pola tidur yang lebih teratur, tubuh mendapatkan kualitas kesehatan mental dengan baik.

"Kurang tidur dapat menyebabkan mood swing, ketidaksabaran, dan gangguan konsentrasi. Oleh karena itu, menjaga kualitas tidur selama puasa sangat penting untuk kesehatan mental," jelasnya.

Sejumlah penelitian turut memperkuat temuan ini. Studi oleh Jandali et al. (2024) menunjukkan bahwa puasa Ramadan meningkatkan kebahagiaan dan kepuasan hidup, sekaligus menurunkan tingkat stres dan kecemasan.


Terapi Jiwa untuk Tantangan Mental Modern

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Imran Pambudi, menilai bahwa puasa yang dilakukan dengan benar dapat menjadi terapi jiwa yang efektif di tengah tekanan hidup modern.

"Puasa yang dilakukan dengan benar membangun harmoni antara tubuh, pikiran, dan jiwa," ujarnya dalam keterangan resmi (18/2/2026), dikutip dari Antara.

Ia menambahkan, Ramadan sering kali menjadi momen refleksi dan perbaikan diri, yang berkontribusi menurunkan gejala stres dan kecemasan.

Imran juga mengutip pernyataan Prof Dr Siti Nur Azizah yang menyebut puasa dapat berfungsi sebagai terapi jiwa karena menyeimbangkan sistem hormon stres dan memberikan efek menenangkan.

Ia menegaskan bahwa praktik spiritual seperti doa dan zikir selama Ramadan juga berfungsi sebagai bentuk mindfulness yang membantu individu tetap fokus pada momen saat ini serta mengurangi kecemasan sekaligus meningkatkan rasa damai.




(rhr/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads