Bekerja hingga larut malam atau terus memikirkan pekerjaan sering dikaitkan dengan stres dan burnout. Namun, riset terbaru dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) justru menemukan fakta berbeda tentang karyawan yang 'gila kerja' atau workaholic.
Penelitian yang melibatkan lebih dari 400 karyawan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menunjukkan bahwa kecenderungan workaholic tidak selalu berdampak buruk. Dalam kondisi tertentu, kerja keras justru dapat meningkatkan kebahagiaan kerja, terutama jika karyawan merasa terus berkembang dan mendapat dukungan dari lingkungan kerja yang positif.
Peran Penting Pemimpin
Temuan tersebut berasal dari penelitian berjudul Inclusive Leadership and Workplace Happiness: Thriving as Mediator and Workaholism as Moderator in Indonesia yang dipimpin oleh Guru Besar Departemen Manajemen FEB UGM, Prof Reni Rosari.
Dalam risetnya, Reni menyoroti pentingnya inclusive leadership atau kepemimpinan inklusif dalam menciptakan kebahagiaan di tempat kerja. Menurutnya, pemimpin yang inklusif adalah pemimpin yang berfokus pada pencapaian target dan tetap memastikan setiap karyawan merasa dihargai, didengar, dan memiliki ruang untuk berkembang.
"Dalam konteks seperti ini, kepemimpinan bukan hanya soal mencapai hasil, tetapi juga tentang bagaimana manusia diperlukan dalam proses mencapai hasil tersebut. Di sinilah konsep inclusive leadership menjadi penting," ujarnya, dilansir dari laman UGM, Minggu (7/6/2026).
Tak Selalu Berujung Burnout
Salah satu temuan menarik dalam penelitian ini berkaitan dengan fenomena workaholism atau kecenderungan bekerja secara berlebihan. Berbeda dengan banyak studi sebelumnya yang mengaitkan workaholism dengan stres dan kelelahan, hasil riset UGM menunjukkan kondisi tersebut tidak selalu berdampak negatif.
Reni menjelaskan bahwa karyawan yang memiliki kecenderungan workaholic dapat tetap merasakan kebahagiaan kerja ketika mereka mengalami thriving at work, yakni kondisi saat seseorang merasa produktif sekaligus terus belajar dan bertumbuh dalam pekerjaannya.
"Bekerja keras tidak selalu identik dengan penderitaan. Dalam konteks budaya kolektivitas seperti Indonesia, kerja keras bisa menjadi sumber makna, selama ada rasa berkembang dan dukungan dari pemimpin yang inklusif," tutur Reni.
Budaya Kerja Berpengaruh
Menurut Reni, budaya kerja di Indonesia, termasuk di banyak BUMN, memiliki karakteristik tersendiri. Struktur organisasi yang cenderung hierarkis serta tuntutan kerja yang tinggi sering membuat kerja keras dipandang sebagai bentuk dedikasi, loyalitas, bahkan nilai moral.
Karena itu, keberadaan pemimpin yang mampu menciptakan lingkungan kerja yang adil dan suportif menjadi sangat penting. Temuan ini juga menunjukkan bahwa meningkatkan kebahagiaan kerja tidak cukup hanya melalui fasilitas atau insentif, tetapi perlu dibarengi dengan hubungan yang sehat antara pimpinan dan karyawan.
"Pada akhirnya, inclusive leadership mengajarkan satu hal yang sederhana tetapi juga mendalam. Ketika manusia diberi ruang untuk bertumbuh, bahkan kerja keras sekalipun bisa menjadi sumber kebahagiaan," tutupnya.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
Simak Video "Video: Demi DNA Purba, Peneliti RI Ini Jalani Hari 'Tanpa Malam' di Antartika"
(rhr/faz)