Karier Minimalis Jadi Tren Gen Z, Pekerjaan Impian Bukan Kantoran

ADVERTISEMENT

Karier Minimalis Jadi Tren Gen Z, Pekerjaan Impian Bukan Kantoran

Callan Rahmadyvi Triyunanto - detikEdu
Minggu, 28 Des 2025 11:59 WIB
Ilustrasi WNA di Bali, Ilustrasi WNA bisnis di Bali, ilustrasi WNA kerja di Bali, ilustrasi bisnis WNA di Bali. (Freepik)
Foto: Ilustrasi Gen Z bekerja (Freepik)
Jakarta -

Generasi Z atau Gen Z yang tengah menghadapi dunia kerja dianggap berbeda dari generasi sebelumnya. Salah satunya karena Gen Z banyak memaknai kesuksesan karier bukan hanya dari jabatan atau gaji. Lantas apa yang dilihat Gen Z?

Menurut survei Glassdoor baru-baru ini terhadap lebih dari 1.000 profesional AS, 68 persen responden Gen Z mengatakan tidak ingin mengejar jabatan karier atau gaji. Gen Z menganggap kesuksesan kerja dengan pendekatan baru yaitu karier minimalis (career minimalism).

Karier minimalis berarti, Gen Z tetap bekerja sebagai sumber keuangan tetap tetapi sambil menyalurkan ambisi dan kreativitas mereka di luar pekerjaan utamanya. Pola pikir ini mulai menjadi tren di kalangan Gen Z.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gen Z Tidak Lagi Tertarik dengan Karier Kantoran

Selama ini, pekerja telah mengikuti jenjang karier panjang untuk mencapai kesuksesan. Mulai dari bekerja keras saat awal kerja, mengorbankan waktu, hingga mendapat keamanan finansial saat sukses.

Namun, bagi Gen Z, jenjang karier semacam itu kurang menarik. Sebab, seiring karier menanjak, tanggung jawab juga semakin besar, sementara kompensasi tidak bertambah.

ADVERTISEMENT

"Banyak pekerja merasa bahwa mereka tidak dihargai atas tingkat usaha dan kinerja yang mereka berikan," kata Daniel Zhao, kepala ekonom Glassdoor, dilansir Forbes.

Dalam hal ini, keterlibatan kecerdasan buatan atau AI juga andil dalam pergeseran mengenai karier masa kini.

Banyak Gen Z Punya Pekerjaan Sampingan

Menurut survei, 57 persen Gen Z mengaku punya pekerjaan sampingan. Generasi lain juga punya, dengan milenial 48 persen dan Generasi X sekitar 31 persen.

Bagi Gen Z, pekerjaan sampingan menawarkan fleksibilitas. Di sisi lain, keuntungan finansial bisa didapatkan secara langsung tanpa harus dinilai oleh atasan untuk karier yang lebih baik.

Dengan beragam platform digital dan alat AI, Gen Z lebih mudah mendapatkan pekerjaan sampingan. Ini yang membuat mereka bisa menyalurkan keterampilan dan kreativitasnya tanpa harus dikontrol atasan.

Perilaku Toksik di Tempat Kerja Bikin Burnout

Faktor burnout juga dipandang serius oleh kalangan Gen Z. Penelitian dari McKinsey menunjukkan bahwa perilaku toksik di tempat kerja merupakan prediktor terkuat terjadinya burnout.

Dengan karier minimalis, Gen Z akan menghindari burnout karena jam kerja akan terbagi dengan baik. Worl-life balance berjalan dan batasan tanggung jawab kerja lebih jelas.

Alih-alih jabatan di kerjaan kantoran, Gen Z memandang beban kerja yang sesuai lebih penting diperhatikan. Kemudian bebas dalam berkembang sesuai keterampilan dan kreativitas masing-masing.

Semua pergeseran ini, menurut survei, salah satunya terjadi karena pekerjaan jarak jauh. Efektivitas pekerjaan jarak jauh membuat banyak lowongan kerja semakin banyak tersedia dan Gen Z lebih cocok dengan cara kerja tersebut.

Kerja jarak jauh mengubah ekspektasi karier karena:
- Kontrol lebih besar atas waktu, tanpa perlu bepergian ke kantor
- Mengurangi tugas-tugas yang bersifat rutin dan membuang waktu serta fokus.
- Fleksibilitas untuk bekerja selama jam-jam produktivitas puncak.
- Kebebasan untuk hidup di tempat di mana kehidupan terjangkau dan bermakna.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.



(faz/faz)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads