Sebuah kasus dugaan presentasi palsu di konferensi ilmiah internasional di Denmark tengah menjadi sorotan publik. Seorang warga negara Indonesia (WNI) diduga melakukan pemalsuan riset.
Ia melakukan presentasi dua kali dengan nama yang berbeda, yakni Prihantini dan Rifaldy Fajar. Di balik polemik tersebut, para peneliti mengungkap bahwa mengikuti konferensi ilmiah internasional bukan perkara mudah.
Seperti diungkap oleh seorang peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nuraini Rahma Hanifa. Ia menyebut, keikutsertaan seorang peneliti dalam konferensi ilmiah internasional memang memiliki peran penting bagi peneliti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mulai dari membangun jejaring hingga mendapatkan masukan ilmiah. Dengan mengikuti konferensi ilmiah internasional, seorang periset juga sekaligus memperkenalkan hasil risetnya.
"Di konferensi internasional itu kita memang bisa dapat feedback terhadap metodologi hasil yang kita lakukan, tapi juga salah satu bentuk diseminasi kita, melakukan riset dan berpotensi untuk mendapatkan jejaring baru," ujarnya kepada detikEdu, Sabtu (30/5/2026).
Selain itu, para periset juga bisa tahu perkembangan terbaru di bidang riset di dunia internasional. Riset mereka tidak hanya relevan secara lokal, tetapi juga global.
"Makanya memang menjadi penting ya, kita juga bisa berkontribusi di riset internasional, ditambah kita juga jadi tahu, apa sih yang sedang berkembang di topik riset kita di dunia internasional gitu," tutur Nuraini.
Nuraini juga menjelaskan bahwa proses untuk mengikuti presentasi di konferensi ilmiah internasional itu cukup panjang. Dari mulai pendaftaran hingga presentasi membutuhkan waktu sekitar 6 bulanβ1 tahun.
Memangnya, bagaimana perjuangan seorang periset sampai bisa mempresentasikan hasilrisetnya di konferensi ilmiah internasional?
Seleksi Abstrak-Grant Panjang dan Ketat
Sebelum tampil di konferensi internasional, peneliti akan melewati sederet tahapan seleksi. Mulai dari penyusunan abstrak penelitian.
Nuraini menyebut bahwa abstrak ini harus disusun dengan benar karena menjadi penentu apakah peneliti bisa lanjut ke tahap berikutnya.
"Dari hasil riset apa yang kita lakukan, nanti kita bikin abstrak jadi kita submit abstraknya dulu nah waktu submit abstrak nanti di konferensi itu kadang ada pilihannya, terutama kalau yang buat mahasiswa buat early career scientist sama buat yang dari negara-negara berkembang," katanya.
Setelah seleksi abstrak, berikutnya adalah seleksi travel grant. Travel grant sendiri menjadi salah satu faktor krusial bagi peneliti Indonesia, terutama peneliti muda dan mahasiswa, sebab biaya mengikuti konferensi internasional tidak murah.
Menurut Nuraini, biaya ini juga menjadi salah satu tantangan besar bagi para periset muda jika ingin ikut serta secara mandiri. Biaya registrasi konferensi bisa mencapai Rp 4 jutaβRp 30 juta.
Kemudian, belum termasuk tiket pesawat, akomodasi, transportasi lokal, dan uang makan. Sehingga dengan travel grant, peneliti bisa mengikuti konferensi dengan lebih ringan.
"Kita juga bisa submit, mengajukan travel grant nah itu kalau misalkan nanti abstraknya yang diterima, terus aplikasi travel grantnya juga diterima, kita bisa berangkat, kalau misalkan ternyata gak ada travel grant, kalau jaman setelah pandemi sih biasanya suka bisa hybrid," katanya.
Tak semua bantuan pendanaan bersifat penuh. Ada konferensi yang hanya menanggung registrasi, tiket pesawat, atau penginapan saja. Bahkan, ada pula yang hanya membiayai kehadiran peneliti pada hari presentasi.
Pentingnya Periset Jaga Kredibilitas
Periset BRIN tersebut menegaskan bahwa menjaga kredibilitas menjadi hal paling penting dalam mengikuti konferensi internasional. Sebab, peneliti tidak hanya membawa nama pribadi, tetapi juga institusi dan negara.
"Menurut saya itu menjaga kredibilitas itu penting banget, maksudnya karena saat kita presentasi jangankan di nasional maksudnya jangankan di luar negeri di nasional juga kan kita sebenarnya merepresentasikan kita sendiri merepresentasikan lembaga kita terus kalau di luar negeri itu kan merepresentasikan Indonesia," ungkapnya.
Ia menyayangkan munculnya kasus dugaan presentasi palsu yang ramai diperbincangkan belakangan ini. Menurutnya, satu kasus bisa berdampak terhadap citra peneliti Indonesia secara keseluruhan.
Ia heran, bagaimana bisa peneliti tersebut lolos verifikasi. Pasalnya, peserta konferensi internasional harus menyertakan afiliasi institusi dan surat keterangan resmi dari tempat bekerja.
AI Jadi Tantangan Baru Periset
Di samping penggunaan artificial intelligence (AI) bermanfaat bagi periset dalam menghimpun bahan riset, Nuraini menyoroti bahwa AI juga bisa membuat persaingan untuk menembus konferensi ilmiah menjadi lebih sulit.
Bagaimana tidak, kini siapa pun bisa menggunakan AI untuk membuat abstrak penelitian. Jika prompt yang dipakai sudah tepat, maka dapat menghasilkan abstrak yang rapi.
"AI itu powerful banget ya, jadi kalau kita pintar nge-prompt itu kan, memang bisa dibikinin sama AI kan iya. Jadi misalkan kita ke AI itu pengen riset ini gimana caranya karena kan yang diverifikasi cuma abstract ya, saat kita submit itu, dan abstrak itu memang bisa dibikinin ChatGPT," bebernya.
Namun, menurutnya, penggunaan AI tidak akan mampu menutupi kurangnya pemahaman seseorang terhadap riset yang dipresentasikan. Pasalnya, dalam sesi konferensi, peserta akan berhadapan langsung dengan para ahli di bidang yang sama.
"Tapi kan kita harus mempresentasikan hasilnya, terus mempresentasikan hasilnya. Kalau misalkan dibuat ini, kan, kalau saya baca, kayaknya saat diskusi itu dia tidak bisa menjawab, maksudnya banyak kejanggalan itu muncul saat presentasinya, ya," tuturnya.
Tips Hindari Konferensi Abal-abal
Di akhir, Nuraini memberikan tips untuk menghindari konferensi ilmiah abal-abal. Nuraini sendiri selama ini mendapatkan informasi konferensi dari pihak sesama periset maupun BRIN itu sendiri.
"Yang udah well established itu pasti dilaksanakannya setiap tahun atau setiap dua tahun, ada yang setiap empat tahun, dan di lingkungan kita itu, apa namanya, maksudnya rekan-rekan kita, profesor kita, kalau kita sih biasanya mulai dari kita S3 ya, misalkan dari kita S3, profesor kita," ujarnya.
Ia menyarankan peneliti muda aktif bertanya kepada dosen pembimbing, profesor, atau senior terkait reputasi sebuah konferensi sebelum mendaftar. Hal ini untuk menghindari terlibat dalam konferensi palsu.
"Nah, kalau misalkan yang abal-abal, kadang dia ada sirkulasi di email, tapi kita gak ngerti, ini siapa gitu. Nah itu kadang juga perlu kita verifikasi ya ada yang kita kenal atau enggak gitu, biasanya sih biasanya sih ya apa namanya, pasti ada lah rekan kita yang kita udah kenal," tuturnya.
Nuraini berharap kasus yang ramai belakangan ini tidak membuat mahasiswa dan peneliti muda takut mencoba konferensi internasional. Justru konferensi harus menjadi jalan bagi periset muda untuk membuka wawasan baru.
"Mahasiswa-mahasiswa, kalau ada kesempatan konferensi global, ikutlah cobain karena itu kesempatan yang luar biasa. Kita akan ketemu sama orang-orang yang sebidang, terus kita akan lihat gimana sih di luar negeri bidang yang kita minati itu berkembang metode-metode yang mungkin baru buat kita gitu," serunya.
(cyu/faz)











































