×
Ad

Lulusan S2 UGM Ini Raih IPK 4.00, Hadirkan Solusi UVB untuk Embun Tepung Melon

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Sabtu, 30 Mei 2026 16:00 WIB
Foto: Dok. Putri Nabila
Jakarta -

Di tengah tantangan pertanian modern, inovasi berbasis sains terus dibutuhkan, terutama untuk mengatasi penyakit tanaman yang sulit dikendalikan. Salah satu upaya datang dari Universitas Gadjah Mada (UGM), melalui riset mahasiswa magister yang mengangkat solusi alternatif ramah lingkungan bagi petani melon.

Putri Nabila Naziroh, lulusan Program Studi Magister Fitopatologi Fakultas Pertanian, berhasil menyelesaikan studinya dengan IPK sempurna 4.00 lewat penelitian tentang pengendalian penyakit embun tepung (powdery mildew) pada melon menggunakan sinar ultraviolet B (UVB). Penyakit yang disebabkan jamur Podosphaera xanthii ini dikenal cepat menyebar dan kerap membuat petani mengalami gagal panen.

UVB Jadi Alternatif, Kurangi Ketergantungan Pestisida

Dalam penelitiannya, Putri mengeksplorasi pemanfaatan UVB sebagai metode pengendalian yang lebih aman dibanding penggunaan pestisida kimia secara terus-menerus. Ia menilai pendekatan ini menarik karena sumber UVB sebenarnya tersedia secara alami dari sinar matahari.

"Alasan saya memilih topik ini karena sangat menarik untuk dibahas. Kemudian, UVB sendiri berasal dari cahaya yang sebenarnya sudah kita dapatkan secara alami dari matahari," ujarnya, dikutip dari laman resmi UGM.

Meski masih berada pada tahap awal, riset ini membuka peluang baru dalam praktik pertanian berkelanjutan. Jika dikembangkan lebih lanjut, metode ini berpotensi membantu petani mengurangi dampak lingkungan sekaligus menjaga produktivitas tanaman.

Perjalanan Tak Mudah, Tapi Proses Jadi Kunci

Di balik capaian akademik yang tinggi, perjalanan Putri tidak lepas dari berbagai tantangan. Ia mengaku sempat menghadapi banyak kegagalan, terutama karena metode yang digunakan masih tergolong baru dan belum dikuasai sebelumnya.

Dukungan dari dosen pembimbing dan lingkungan sekitar menjadi faktor penting yang membantunya bertahan hingga akhir studi. Baginya, proses belajar justru menjadi bagian paling berharga, bukan sekadar hasil akhir berupa IPK.

"Yang terpenting bukan sekadar IPK, tapi bagaimana ilmu yang kita dapatkan bisa bermanfaat bagi orang lain dan lingkungan sekitar," katanya.

Ia juga berpesan kepada mahasiswa lain untuk tetap konsisten dan menikmati proses.

"Segala sesuatu yang kita mulai pasti akan selesai, jadi jalani pelan-pelan dan nikmati prosesnya," tutupnya.

Penulis adalah peserta MagangHub Kemnaker di detikcom.



Simak Video " Video IPK 4.00! Ini Wisudawan Terbaik UI Semester Gasal 2025/2026"

(rhr/nah)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork