Dengan kondisi autis, tak mudah bagi Siham Hamda Zaula Mumtaza menempuh pendidikan sarjana di Universitas Gadjah Mada (UGM). Siapa sangka Siham mewakili wisudawan Fakultas Peternakan (Fapet) UGM membagikan kisahnya saat wisuda. Saat lulus, Siham sedang merintis usaha ternak domba.
Saat rata-rata mahasiswa S1 lulus dalam waktu 4 tahun, pemuda yang akrab disapa Siham ini berhasil menuntaskan studi sarjananya dalam waktu 6 tahun 7 bulan. Di balik toga dan senyumnya, perjalanan panjang mahasiswa autis ini menjadi bukti nyata bahwa setiap orang memiliki ruang dan waktunya sendiri untuk tumbuh.
"Saya senang sudah bisa lulus dari Fapet UGM. Perasaan saya senang walau sempat berdebar-debar," ujar Siham, dalam laman UGM, dikutip Jumat (21/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagaimana perjuangan Siham selama kuliah hingga rintis usaha? Simak ceritanya yuk!
Selalu Duduk Bangku Paling Depan Selama Kuliah
Siham memiliki cara tersendiri untuk mengatasi hambatan belajar selama di kelas. Hal ini berkaitan dengan kondisinya yang telah didiagnosis autis Asperger sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).
Bagi Siham, mendengar suara keras atau bentakan menjadi momok tersendiri karena ia sama sekali tidak menyukai hal tersebut. Alasan itulah yang membuat Siham lebih banyak beraktivitas mandiri dan tidak melibatkan banyak teman dalam kesehariannya.
Meskipun demikian, ia selalu menunjukkan semangat yang besar untuk kuliah di Fapet UGM. Setiap hari Siham rela bersepeda dari daerah Condongcatur menuju ke kampus. Kemudian untuk mengurangi kekurangannya dalam belajar, ia selalu memilih duduk di bangku paling depan saat kuliah berlangsung.
Didukung Lingkungan Kampus yang Inklusif
Siham menyebut dirinya tidak berjalan sendirian selama menjalani studi di kampus. Dukungan dari dosen, teman, hingga tenaga kependidikan menjadi kekuatan besar yang membantunya bisa bertahan hingga lulus.
"Saya merasa terbantu dengan mereka semua yang sudah men-support saya selama masa kuliah ini, baik yang langsung maupun tidak langsung," katanya.
Selain lingkungan sekitar, keberadaan Unit Layanan Disabilitas (ULD) UGM juga menjadi bagian penting dalam perjalanan studinya. Fasilitas dan pendampingan yang diberikan kampus terbukti membuat mahasiswa difabel memiliki ruang belajar yang lebih inklusif dan nyaman.
"Untuk mahasiswa difabel baru, jangan khawatir untuk masuk UGM. Unit Layanan Disabilitas (ULD) UGM selalu ada untuk kalian," tuturnya.
Rintis Usaha Ternak Domba di Kampung Halaman
Tidak hanya berhasil lulus, Siham juga mulai membangun mimpi besar di dunia peternakan. Sejak akhir kuliah, ia telah mengembangkan usaha ternak domba di kampung halamannya di Jepara.
Pilihan itu bukan tanpa alasan. Bagi Siham, dunia peternakan menjadi ruang yang membuatnya merasa nyaman sekaligus produktif di tengah tantangan akademik dan adaptasi sosial yang harus dijalani.
Ke depannya, mahasiswa Fapet Angkatan 2019 dari jalur Bidikmisi asal SMAN 1 Jepara ini berkomitmen untuk membesarkan usahanya. Dari kandang sederhana yang dirintisnya, ia ingin membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk mandiri dan berkarya.
"Iya, saya sekarang sedang mengembangkan usaha ternak domba di Jepara. Saat ini sudah ada 15 ekor dan rencana setelah lulus ini akan dikembangkan sampai besar. Target awal 100 ekor ke atas," katanya penuh optimisme.
Keberhasilan ini pun mendapat apresiasi dari Dekan Fapet UGM, Prof Ir Budi Guntoro, SPt, MSc, PhD, IPU, ASEAN Eng. Menurutnya, pihak kampus sangat bangga karena ekosistem pembelajaran yang inklusif, suportif, dan manusiawi terbukti mampu memberikan ruang bagi seluruh mahasiswa untuk berkembang sesuai potensinya.
"Setiap mahasiswa memiliki proses dan perjuangannya masing-masing. Kami bangga karena Siham mampu menyelesaikan studinya dan kini mulai membangun usaha peternakan secara mandiri. Ini menunjukkan bahwa pendidikan harus membuka kesempatan bagi semua untuk bertumbuh dan berdaya," pungkasnya.
(nwk/nwk)











































