×
Ad

Nilai Rapor 6-7, Sekarang Mahasiswa Ini Kuliah di Harvard University

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Rabu, 27 Mei 2026 12:00 WIB
Ariel Adhidevara. Foto: Dok Ariel Adhidevara
Jakarta -

Nama Ariel Adhidevara ramai dibicarakan setelah kisahnya viral di media sosial. Banyak orang menyoroti nilai rapornya yang disebut berada di kisaran 6 hingga 7, tetapi kini ia berhasil melanjutkan studi di Master in Design Studies, Harvard Graduate School of Design.

Di balik perjalanan itu, Ariel mengaku dirinya dulu bukan tipe siswa yang menikmati proses belajar di sekolah. Ia bahkan merasa tidak terlalu tertarik dengan dunia akademik dan kompetisi.

"Bukan salah sekolahnya juga sih sebenarnya, emang aku aja yang nggak terlalu suka belajar waktu itu," ujar Ariel kepada detikEdu dalam wawancara pada Kamis (21/5/2026).

Menurut Ariel, pandangannya soal belajar mulai berubah setelah menempuh pendidikan tinggi. Dari situ, ia mulai memahami alasan di balik proses belajar dan menemukan motivasinya sendiri.

Belum Mengerti Tujuan Belajar

Ariel mengatakan dirinya dulu sulit menikmati pelajaran di sekolah karena belum memahami alasan kenapa harus mempelajari materi itu dan apa relevansinya dengan kehidupan.

"Mungkin kadang-kadang kita belum bisa menikmati sesuatu karena kita belum terlalu paham terhadap hal tersebut, jadi menganggapnya kayak, kenapa sih? Tapi ternyata pas tahu kalau itu dekat sama kita, jadi kita merasa lebih menikmati," kata Ariel.

Menurut Ariel, perubahan pemikirannya mulai terasa ketika ia menempuh pendidikan tinggi. Saat itu, ia baru saja pindah ke Amerika Serikat dan mendapatkan green card lottery (undian untuk tinggal di Amerika). Di sana, alumnus Diablo Valley College (DVC) dan California Polytechnic State University ini mulai belajar (Cal Poly) ini memahami konteks dari pelajaran yang dipelajari.

Bangun Rasa Ingin Tahu Lewat Orang Baru

Ariel kemudian mulai bertemu banyak orang dengan kemampuan akademik yang menurutnya jauh lebih maju. Dari situ, ia merasa pola pikirnya juga perlahan berubah.

"Bahaya kalau we don't know what we don't know," kata Ariel.

Menurutnya, seseorang kadang merasa baik-baik saja karena belum sadar masih ada banyak hal penting yang belum dipahami.

"Kadang-kadang orang yang tidak tahu itu kan nggak tahu kalau dia nggak tahu. Jadi, itu yang lebih bahaya. Jadi akhirnya kita selalu terbelenggu dengan ketidaktahuan itu," ujarnya.

Ia menyarankan agar membuka pandangan dan melihat lebih luas. Menurutnya, melihat orang-orang di luar sana jauh lebih pintar membuatnya memiliki motivasi untuk belajar.

"Untuk mendapatkan ilham tersebut, kita harus lebih banyak mencari tahu atau berkenalan sama orang lebih banyak gitu ya. Biar kayak, 'kok dia bisa ngomongin ini', gitu. Jadi pengen tahu sendiri," ujar Ariel.

Lingkungan Kuliah Mendukung

Ariel mengatakan lingkungan belajar menjadi salah satu faktor yang membuatnya lebih bersemangat selama kuliah.

Ia merasa banyak orang di sekitarnya memiliki pola pikir kritis dan kemampuan yang luar biasa. Selain itu, dukungan fasilitas kampus juga membuat proses belajar terasa lebih nyaman.

"Di S2 ini cukup dimanjakan, apalagi dengan lingkungannya yang tadi aku bilang, dan fasilitas yang dipunyai sama sekolah," katanya.

Menurut Ariel, pengalaman tersebut membawanya ke rasa ingin tahu terhadap banyak hal baru yang lebih banyak.

Pesan untuk Siswa yang Merasa Nilainya Biasa Saja

Di akhir wawancara, Ariel berpesan agar siswa tidak langsung menyerah hanya karena merasa nilainya kurang bagus dibanding orang lain.

"Coba kenali diri sendiri, coba kenali apa yang kita inginkan," kata Ariel.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa seseorang tetap perlu mengikuti aturan dasar yang ada sambil mengembangkan kelebihan dirinya sendiri.

"Kadang-kadang kita tetap harus ikuti jalur mainnya, tapi nanti bisa pakai jalur kita sendiri sebagai additional," pungkasnya.



Simak Video "Video: Mahasiswa Harvard Asal Palestina Resah soal Rencana Deportasi Trump"

(rhr/twu)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork