Gen Z Malas Membaca? Ketua IKAPI Ungkap Faktanya

ADVERTISEMENT

Gen Z Malas Membaca? Ketua IKAPI Ungkap Faktanya

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Rabu, 13 Mei 2026 07:00 WIB
Di tengah suasana libur Lebaran yang identik dengan keramaian, kawasan Taman Menteng justru menghadirkan pemandangan berbeda. Puluhan warga memilih menghabiskan waktu dengan cara yang tak biasa: duduk tenang dan tenggelam dalam buku masing-masing mel
Foto: Rifkianto Nugroho/detikFoto
Jakarta -

Ada fenomena di Amerika Serikat (AS). Banyak mahasiswa Generasi Z di Amerika Serikat (AS) dilaporkan kesulitan membaca, bahkan untuk memahami kalimat pendek dalam konteks akademik.

Di Indonesia sendiri, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti ungkap ada dua faktor yang tidak terpisahkan dari rendahnya skor PISA (Programme for International Student Assessment) Indonesia. Kedua hal itu adalah tingkat literasi dan numerasi anak Indonesia yang masih minim.

Kerap kali soal matematika dijelaskan dalam sebuah narasi atau soal cerita. Ketika literasi anak Indonesia rendah dan dia malas membaca, maka soal cerita itu tidak akan terpecahkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Banyak soal yang disebutkan dalam bentuk narasi cerita, (contohnya) 'Saya berangkat jam 6.35 dari rumah dinas, perjalanan ke SD 4 Meruya membutuhkan waktu 30 menit. Jarak dari rumah dinas ke SD 4 Meruya kira-kira 11 kilo. Maka pertanyaannya berapa kecepatan mobil dari rumah dinas ke SD 4 Meruya yang jaraknya 11 kilo?'" ucap Mendikdasmen mencontohkan soal cerita terkait numerasi.

ADVERTISEMENT

Benarkah ada fenomena Gen Z malas membaca?

Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Arys Hilman Nugraha, mengungkapkan hal sebaliknya. Arys menyoroti meningkatnya minat generasi muda terhadap buku dan perpustakaan dalam Seminar Nasional "Merawat Pustaka dan Memartabatkan Bangsa" yang digelar Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dan juga secara daring di Zoom Meeting dan Youtube, Selasa (12/5/2026).

Menurut Arys, hasil riset industri perbukuan pada akhir 2025 menunjukkan bahwa anak muda Indonesia masih memiliki ketertarikan tinggi terhadap budaya membaca.

"Alhamdulillahnya, ini hasil survei akhir tahun 2025. Bahwa anak-anak kita itu suka membaca," ujarnya dalam penyampaian materi seminar.

Pameran Buku Dipadati Pengunjung Gen Z

Arys mencontohkan ramainya penyelenggaraan Indonesia International Book Fair tahun 2025 lalu di Jakarta Convention Center (JCC). Menurutnya, pameran tersebut dipadati pengunjung muda dari pagi hingga malam selama lima hari pelaksanaan.

"Ternyata dari pagi sampai malam, setiap hari dari hari Rabu sampai Minggu itu penuh. Dan mereka amat muda, apa yang kita sebut sebagai Gen Z," katanya.

Ia juga menyebut generasi muda saat ini semakin terhubung dengan dunia baca global. Menurutnya, banyak anak muda sudah mengetahui tren buku terbaru bahkan sebelum diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

"Mereka terhubung dengan dunia baca secara global. Mereka tahu bahwa akan ada buku yang baik hadir di bulan depan," ujarnya.

Perpustakaan Dinilai Tetap Relevan di Era Digital

Selain pameran buku, Arys juga menyoroti tingginya antusiasme masyarakat terhadap perpustakaan di berbagai daerah. Ia menyebut kondisi tersebut menunjukkan bahwa perpustakaan masih relevan meskipun masyarakat hidup di tengah perkembangan teknologi digital.

"Perpustakaan Nasional Sabtu-Minggu penuh," katanya.

Ia juga menyebut sejumlah perpustakaan daerah, seperti di Bandung dan Jawa Timur, tetap ramai dikunjungi masyarakat, terutama anak muda. Menurutnya, kondisi ini menjadi sinyal positif bagi dunia literasi dan industri penerbitan nasional.

Meski demikian, Arys tetap mendorong adanya kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat ekosistem perbukuan dan perpustakaan di Indonesia.




(nwk/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads