4 Momen Kuliah Wamen Stella di Harvard: Ubah Jurusan hingga Jadi Petugas Kebersihan

ADVERTISEMENT

4 Momen Kuliah Wamen Stella di Harvard: Ubah Jurusan hingga Jadi Petugas Kebersihan

Devita Savitri - detikEdu
Minggu, 12 Apr 2026 17:00 WIB
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof Stella Christie
Wamendiktiasintek Stella dalam acara Alumni United States of America di Grand Sahid Jaya Hotel, Jakarta, Sabtu (11/4/2026), ditulis Minggu (12/4/2026). Foto: Devita Savitri/detikEdu
Jakarta -

Pendidikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie jadi satu hal yang paling disorot ketika ia dipanggil oleh Presiden Prabowo Subianto. Bagaimana tidak, ia lulusan S1-S3 kampus top di Amerika Serikat.

Stella bercerita, sebagian masa hidupnya dihabiskan di Negeri Paman Sam. Ia menetap di negara tersebut selama 16 tahun dan menempuh kuliah di Harvard University (S1) dan Northwestern University (S2 dan S3).

Ketika berkuliah di Harvard University, Stella menyebut ada empat kenangan kisah yang paling berkesan. Ia menyebut, momen ini merupakan masa yang paling berkesan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya menceritakan sebuah kisah dari masa saya di Harvard, tentu saja itu adalah salah satu masa paling berkesan dalam hidup saya yang benar-benar membentuk saya menjadi seperti sekarang ini," kata Stella di acara Alumni United States of America di Grand Sahid Jaya Hotel, Jakarta, Sabtu (11/4/2026), ditulis Minggu (12/4/2026).

1. Ubah Jurusan di Tahun Ketiga Kuliah

Kisah pertama dari Wamen Stella adalah ia membuat keputusan besar untuk mengubah jurusan di akhir tahun kedua kuliah. Memasuki tahun ketiga kuliah, ia resmi mengubah jurusan dari Ekonomi ke Perilaku Otak-Pikiran (Mind-Brain Behavior).

ADVERTISEMENT

Orang tuanya ikut memberikan komentar terkait perubahan jurusan ini. Mereka menyebut Stella mengubah jurusan dari yang bermanfaat menjadi jurusan yang tidak langsung bermanfaat.

Kendati demikian, keputusan ini justru membuka matanya untuk menjadi seorang ilmuwan. Kala mempelajari jurusan Mind-Brain Behavior, Stella mempertanyakan berbagai hal yang tidak pernah ia ajukan dan menjawabnya secara sistematis.

"Menemukan jawabannya secara sistematis dengan cara yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya," paparnya.

2. Fasih Bahasa Mandarin, Belajar di Harvard

Kini berstatus sebagai Guru Besar Tsinghua University China, Stella mengaku belajar bahasa Mandarin saat kuliah di Harvard. Ia mengambil mata kuliah bahasa Mandarin.

"Harvard memberi saya beasiswa untuk mengikuti program pertukaran dan menghabiskan setengah tahun di Fudan University di Shanghai. Itulah (cara) bagaimana saya sebenarnya tahun dan belajar bahasa Mandarin, karena saya mengambilnya (mata kuliah) ketika saya berada di Harvard," kenangnya.

3. Tak Ingin Terjun ke Politik dan Pemerintahan

Saat tahun kedua kuliah, Wamen Stella sempat galau terkait apa yang ia minati. Akan tetapi, ada satu hal yang tidak ingin ia lakukan, yakni terjun ke dunia politik dan pemerintahan.

"I guess, never say never, right? (jangan pernah mengatakan tidak mungkin)," candanya mengingat profesinya kini menjadi wakil menteri.

Tak lama ia mengatakan tidak ingin terjun ke dunia politik dan pemerintahan, Stella mengambil kelas di Harvard yang disebut dengan Moral Reasoning 62 (Penalaran Moral 62).

Kelas ini mengajak mahasiswa mengembangkan kemampuan bernalar kritis, pemecahan masalah dilema etika, dan penerapan teori moral dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyebut, sampai saat ini, kelas itu masih ada di Harvard.

"Kelas penalaran moral ini membahas tentang filsafat pemerintahan. Saya membaca karya John Locke, Rousseau, Hobbes, tentang apa itu atau apa pentingnya memiliki pemerintahan, mengapa kita membayar pajak, mengapa kita ingin menjadi bagian dari masyarakat yang berada di bawah hukum umum suatu pemerintahan, dan saya terpesona oleh logikanya," ungkapnya.

Stella menyatakan ia tidak pernah berpikir bahwa dirinya akan masuk ke pemerintahan. Bahkan selesai mengikuti kelas tersebut, ia masih tegas tidak ingin bekerja di pemerintahan.

"Dan tahun-tahun kemudian, saya bersyukur atas kesempatan yang diberikan presiden (Prabowo Subianto) saya untuk menjadi bagian darinya," imbuh Stella.

Berbagai materi yang ia dapatkan dalam kelas Penalaran Moral 62 memberinya landasan pemahaman yang sangat besar dari tanggung jawab yang tengah ia emban saat ini.

4. Kerja Jadi Petugas Kebersihan

Momen terakhir yang paling berkesan adalah, ia sempat bekerja sebagai petugas kebersihan di Harvard. Memang, ia menerima beasiswa penuh dari Harvard, tapi bantuan itu tidak memberikan uang saku.

"Mereka hanya membayar biaya kuliah dan biaya tempat tinggal, serta makan. Selebihnya, tanggung jawab ada di pundakmu," katanya.

Harvard memperbolehkan mahasiswanya bekerja sesuai dengan persyaratan visa yang masih berlaku. Kala itu, ia haya boleh bekerja di kampus dan pilihannya adalah sebagai petugas kebersihan dengan ruang kerja toilet.

Mengapa Prof Stella memilih pekerjaan ini? Jawabannya adalah karena pekerjaan itu memberikan upah yang cukup besar.

Perpustakaan memberikan upah kepada mahasiswa sebanyak $8 per jam, sedangkan petugas kebersihan di toilet di bayar $13,50 per jam. Meski hari-harinya disibukan dengan kuliah dan bekerja, Stella menyebut ia tetap bisa menghabiskan waktu bersama dengan teman-temannnya.

"Saya menceritakan kisah ini untuk menunjukkan bagaimana Harvard telah membuka wawasan saya terhadap berbagai lapisan masyarakat, untuk memberi saya keyakinan bahwa Anda bisa membersihkan toilet dan bergaul pada saat yang besamaan, dan tetap menjadi mahasiswa Harvard," tandasnya.




(det/nah)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads