Tak hanya SMA, masa menempuh studi di bangku kuliah juga punya cerita yang membekas sepanjang hidup. Hal itu pula yang dialami Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie.
Stella menyebut ada satu cerita yang tak terlupakan ketika ia menempuh studi S1 di Harvard University, Amerika Serikat (AS). Bagaimana tidak, kenangan itu bersama dengan sosok yang kemudian jadi aktris kenamaan AS, Natalie Portman!
Ngajar Nari Bareng Natalie Portman
Ia menyebut, kenangan itu terjadi sekitar 2000-2001. Sama seperti kampus lainnya, termasuk di Indonesia, Harvard punya banyak kegiatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu program yang ia ikuti bernama "City Step". Program itu disebutnya masih eksis di Harvard bahkan hingga saat ini.
"Ini adalah program di mana mahasiswa Harvard yang terpilih, karena melalui audisi, kami membuat program untuk siswa sekolah dasar," cerita Stella di sela-sela acara Alumni United States of America di Grand Sahid Jaya Hotel, Jakarta, Sabtu (11/4/2026).
Pada program ini, para mahasiswa membuat dan mengajarkan koreografi tari kepada murid SD. Program City Step berlangsung selama setahun penuh dan berujung penampilan tari di atas panggung.
Tak hanya Stella yang terpilih dalam program tersebut, sosok lainnya adalah Natalie Portman. Natalie memang diketahui menempuh studi di Harvard University program studi (prodi) Psikologi dari 1999-2003.
"Salah satu dari sedikit guru tari ini dan koreogorafer tari ini adalah Natalie Portman," imbuh Stella.
Kala itu, Stella tengah menempuh studi tahun kedua dan ketiganya di Harvard University. Ia bertemu seminggu sekali dengan Portman untuk membuat koreografi tari.
"Jadi seminggu sekali saya bersama dengannya untuk membuat koreografi tari untuk siswa sekolah dasar. Jadi itu salah satu dari sekian banyak pengalaman berharga yang saya dapatkan di Harvard," kenangnya lebih lanjut.
Mahasiswa AS Memang Didorong Terjun ke Masyarakat
Menanggapi, Kuasa Usaha Ad Interim di Misi AS untuk Indonesia, Kedutaan Besar AS, Peter Haymond menyatakan punya pengalaman yang mirip dengan Wamen Stella. Pengalaman ini juga mungkin dirasakan oleh mahasiswa yang menempuh studi di AS lainnya.
"Di universitas, mereka mendorong mahasiswa untuk terjun ke masyarakat dan bekerja dengan siswa SMA, SMP, SD untuk memberi mereka ambisi, memberi mereka pandangan tentang masa depan yang dapat mereka raih," ungkap Haymond.
Proses ini juga dianggap menjadi bagian penting dari pendidikan di universitas. Hal ini ikut dibenarkan Wamen Stella, banyak SD yang jadi tujuan berisi murid yang kurang mampu secara ekonomi dan tidak berpikir bisa masuk Harvard.
"Namun kemudian kami mengajari mereka menari, membuat koreografi tari, dan mereka tampil di Harvard. Dan ini memang bagian yang sangat penting dari pendidikan Amerika, yaitu inklusivitas," tandas Stella.
