Pengalaman pertukaran pelajar bisa membuka peluang lebih besar untuk kuliah di luar negeri. Setidaknya itulah yang dirasakan Ahmad Ali Rayyan Shahab sebelum akhirnya menerima 15 letter of acceptance (LoA) dari sejumlah universitas top dunia.
Siswa MAN IC Pekalongan ini pernah mengikuti program pertukaran pelajar ke Finlandia. Dari yang tadinya tidak terbesit untuk berkuliah ke luar negeri, tekad Rayyan menjadi bulat untuk melanjutkan studi ke luar negeri setelah mengikuti program tersebut.
Rayyan menceritakan bahwa pencapaiannya saat ini bisa dibilang dimulai dari nol. Dahulu, Rayyan merasa jika berkuliah ke luar negeri hanyalah angan semata. Apalagi dapat diterima di universitas bergengsi di dunia, ia sempat merasa sangat jauh dari levelnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi bahwa saya ketika dulu SMP kemudian masuk ke MAN ICP ini, saya belum ada bayangan sama sekali akan melanjutkan studi di luar negeri. Artinya ketika saya kelas 10 awal saya melihat bahwa meraih universitas di luar itu adalah yang sangat terlampau jauh gitu lah. Bukan levelku gitu. Aku awalnya berpikir gitu di kelas 10.," ungkapnya kepada detikEdu, ditulis Rabu (8/4/2026).
Lingkungan yang Mendukung
Selain motivasi dari dalam dirinya, ia juga mengaku mendapat dukungan dari orang tua, teman, dan guru di sekolahnya. Dirinya menggambarkan sekolahnya memiliki nuansa akademik yang begitu kental. Bahkan ia menyebut teman-temannya sebagai "academically smart" atau cerdas secara akademik.
"Aku didorong untuk bisa berkembang melampaui apa yang bahkan bisa aku bayangkan. Ketika aku kelas 10 semester 2 aku itu mendapatkan informasi terkait dengan AFS Intercultural Programs-jadi program pertukaran pelajar," terangnya.
Pulang dari pertukaran pelajar yang dijalankannya selama 9 bulan, ia memantapkan diri untuk berkuliah ke luar negeri usai lulus nanti.
"Dis itu aku tertarik untuk mengikuti itu. Jadi itulah yang menjadi awal bagi aku mau pergi keluar gitu loh. Merasakan gimana sih kehidupan di luar, sekolah di luar, berteman dengan orang luar," tambahnya.
Barulah ketika menginjak kelas 12 semester satu, ia mulai mencari berbagai informasi terkait pendaftaran kampus-kampus di beberapa negara. Selain mencari informasi secara mandiri dengan bantuan orang tua, pihak sekolah juga membantunya untuk mendaftar di beberapa kampus di Australia melalui agen.
"Saya tidak bisa melakukan itu semua sendiri dengan ini. Apalagi saya di boarding school jadi yang saya lakukan adalah saya itu di sekolah alhamdulillah juga difasilitasi oleh program madrasah goes abroad," jelasnya.
"Jadi di Australia itu saya mendaftar menggunakan agent, bukan saya sendiri yang pribad. Nah, kemudian saya di Australia itu ada 4 kampus yang diterima," imbuhnya.
Bersiaplah Sedini Mungkin
Semua pihak saling bekerja sama hingga akhirnya siswa kelas XII MAN ICP itu berhasil diterima oleh 13 universitas top dunia. Rayyan menyarankan bagi siswa siapapun yang ingin kuliah ke luar negeri terutama yang masih SMA, untuk mempersiapkan segala keperluannya sedini mungkin.
"Sekitaran bulan ini nanti di bulan Agustus, atau di bulan September itu sudah banyak universitas di Amerika dan Kanada dan Australia yang sudah buka pendaftaran. Jadi, teman-teman carilah informasinya dari sekarang terkait dengan dokumen-dokumen yang perlu sehingga nanti tidak ada hambatan paling itu sih kak kalau terkait dengan itu," ujarnya.
Berawal dari program pertukaran pelajar, saat ini Rayyan tengah mengajukan beasiswa Garuda LPDP untuk berkuliah di University of British Columbia di Kanada.
"Nah, yang akan aku ambil dan yang aku telah ajukan ke beasiswa Garuda itu di University of British Columbia di Kanada, aku sedang mengajukan untuk funding dari Garuda di Prodi Bachelor of Applied Sciences," tuturnya.
"Aku pengen memberitahu bahwa aku di sekolah bukan yang paling pintar secara akademik dan organisasi, aku juga bukan yang paling ahli, tapi aku bisa melakukan hal ini. Walaupun tanpa hal-hal itu, karena aku punya visi, aksi, dan konsistensi jadi teman-teman yang mau juga mengikuti jejak aku untuk bisa daftar dan diterima juga di kampus luar negeri," tandasnya.
Penulis adalah peserta program magang Kemnaker di detikcom.
