Usai lulus kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM), kemudian diterima di Harvard University, dan kini berhasil tembus ke Massachusetts Institute of Technology (MIT). Begitulah perjalanan studi dari Dylan Jesse Andrian, mahasiswa asal Jakarta.
Dylan, sapaannya, lulus dari Fakultas Hukum (FH) UGM pada Mei 2025 lalu. Beberapa bulan kemudian, ia diterima di Master of Laws (LL.M.) Harvard Law School.
Kini, dia juga telah diterima di program 'micromaster' jurusan ekonomi MIT. Tak main-main, kedua kampus tersebut merupakan top 5 kampus terbaik di dunia menurut Times Higher Education (THE) World University Rankings (WUR) 2026.
Lantas bagaimana Dylan menempuh double degree dengan jurusan berbeda di AS?
Tertarik dengan Hukum dan Ekonomi
Dylan mengatakan memiliki ketertarikan yang kuat terhadap bidang ekonomi di samping bidang hukum yang ia tekuni. Meski tidak lazim mengambil dua jurusan berbeda di kampus top AS, ia merasa tak masalah karena bisa mengambil lebih banyak manfaat.
"Sejauh yang saya tahu, cukup tidak lazim bagi seseorang untuk mengambil gelar di Harvard dan MIT sekaligus. Kedua kampus memang berdekatan, dan cross-registration antarkampus itu hal yang umum; tetapi saya merasa akan mendapatkan lebih banyak manfaat dari mengikuti satu program yang utuh dan terfokus, dibandingkan dengan hanya mengambil beberapa kelas lintas kampus," katanya kepada detikEdu, ditulis Senin (6/4/2026).
"Sejujurnya, saya memutuskan untuk mengambil gelar kedua di MIT karena saya memiliki ketertarikan pada ekonomi dan kebetulan MIT memiliki salah satu, kalau bukan yang terbaik, program ekonomi di dunia," imbuhnya.
Menurutnya, ekonomi dan hukum bisa menjadi dua bidang yang saling mendukung dalam membantu orang. Saat hukum datang terlambat untuk membantu, di banyak kasus, peran ekonomi bisa memberi banyak pilihan.
Ia menjelaskan bahwa ekonomi bisa menangani masalah secara lebih struktural dan preventif. Ekonomi berfokus pada pertukaran dan bagaimana keputusan diambil di antara berbagai pilihan tersebut.
"Ambil contoh sederhana. Jika Anda memiliki satu juta dolar untuk pembangunan infrastruktur di Indonesia, ke mana seharusnya dana itu dialokasikan? Dan bukan hanya ke mana, tetapi bagaimana? Mengalokasikannya ke sektor pendidikan tentu baik, tetapi apakah itu berarti menambah guru? Buku? Teknologi? Tanpa data dan analisis kausal, program yang niatnya baik sekalipun sering gagal dalam implementasi," jelas Dylan.
Ia mencontohkan bagaimana Indonesia berupaya mengatasi masalah nyata seperti gizi dan insentif kehadiran sekolah melalui program Makan Siang Gratis (MBG). Namun, pelaksanaannya juga mendapat kritik yang cukup beralasan.
Menurut Dylan, seorang pembuat kebijakan yang terlatih dalam persimpangan antara data, ekonomi, dan desain kebijakan harus mampu memberikan perbaikan yang lebih tepat sasaran agar program tersebut benar-benar mencapai tujuannya.
Dalam hal ini, MIT memiliki program yang bisa membekali mahasiswanya dengan kemampuan tersebut. Program ekonominya dipimpin oleh sejumlah peraih Nobel, beberapa di antaranya melakukan penelitian penting di Indonesia.
"Selain itu, pendekatan MIT terhadap penanggulangan kemiskinan berbasis pada bukti empiris. Artinya, bukan sekadar spekulasi abstrak, tetapi pengujian yang ketat, ilmiah, dan konkret untuk memastikan bahwa program yang baik secara teori juga efektif dalam praktik," ungkapnya.
Upaya Menembus Beasiswa
Apa yang dilakukan Dylan sejauh ini menggunakan jalur reguler, termasuk saat tembus ke program di MIT, tidak ada jalur khusus bagi mahasiswa Harvard. Ia memutuskan untuk mengambil double degree karena tekad.
"Dengan motivasi yang kuat dan kerja keras, selama saya mengambil kuliah full time di Harvard Law School, saya mengambil beberapa kelas di MIT secara online yang bisa digunakan sebagai dasar untuk melanjutkan S2 dalam bidang ekonomi di MIT," ujarnya.
Di MIT sendiri, Dylan akan menempuh program DEDP (Data, Economics, and Design of Policy). Sebelumnya, ia terlebih dahulu harus mengikuti kursus online. Setelah itu, ia akan belajar di prodi Pembangunan Internasional atau International Development dalam DEDP.
Sementara itu, kini ia sudah menjalani kuliah di Harvard. Program online di MIT yang dijalani Dylan berlangsung hingga Mei.
"Program DEDP di kampus dimulai pada bulan Januari dan berlangsung hingga sekitar Mei, kemudian dilanjutkan dengan proyek capstone dari Juni hingga Agustus," jelasnya.
Di tengah perkuliahannya, ia masih berjuang untuk mendaftar beasiswa. Ia tengah mempertimbangkan beasiswa Fulbright usai dirinya tidak lagi memenuhi syarat untuk mendaftar double degree LPDP.
"Saat ini, saya masih mengeksplorasi berbagai opsi. Saya juga mempertimbangkan Fulbright, meskipun ada pemotongan anggaran belakangan ini yang membuat program tersebut sedikit tidak pasti. Meski begitu, saya tetap optimistis," kata Dylan.
Ia mengatakan perjuangannya masih pada tahap awal. Sebab ia memiliki motivasi besar untuk kembali dan berkontribusi membangun Indonesia. Ia menilai Indonesia sangat membutuhkan sumber daya manusia yang terdidik untuk membantu mewujudkan potensi kemajuan bangsa.
"Saya ingin mengembangkan kemampuan saya semaksimal mungkin agar dapat saya gunakan untuk kepentingan negara," lanjutnya.
Tak hanya berjuang sendiri, ia juga mengajak anak-anak muda lain untuk semangat menempuh studi dan belajar di luar negeri. Terutama dalam mempelajari perbedaan pemikiran dan budaya antarnegara.
"Untuk teman-teman di Indonesia yang ingin belajar ke luar negeri, pastikan Anda pulang dengan sesuatu yang tidak mungkin Anda pelajari di dalam negeri. Kesempatan untuk hidup di lingkungan dan budaya yang berbeda tidak boleh disia-siakan dengan menjalani jalur yang sebenarnya bisa ditempuh di mana saja. Temui orang-orang yang berbeda, diskusikan hal-hal yang tidak biasa, dan terbukalah," tutur Dylan.
"Lakukan semua itu secara kritis. Bandingkan apa yang Anda ketahui dan yakini dengan hal-hal yang baru Anda temui, dan cobalah memahami bahwa ada titik temu di mana kemanusiaan Anda bersinggungan dengan orang lain. Berubah dan biarkan diri Anda juga diubah (untuk kemajuan)," pungkasnya.
Simak Video "Video: Trump Perpanjang Konflik dengan Harvard, Gugat Ganti Rugi Rp 16,7 T"
(faz/nah)