Ini cerita Raissa Azarine atau yang akrab disapa Arin, mahasiswa S2 di University College London (UCL), Inggris. Menjalani Lebaran jauh dari Indonesia, Arin merasakan suasana yang berbeda, lebih tenang dan justru terasa lebih personal.
"Everything feels more quiet here," cerita Arin saat berbagi pengalamannya kepada detikEdu, ditulis Senin (23/3/2026).
Tidak ada takbiran, tidak ada kumpul keluarga besar seperti di Indonesia. Namun, di balik kesederhanaan itu, ada pengalaman baru yang membuat Lebaran terasa berbeda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Arin mengatakan, momen Lebaran di London justru membuatnya lebih peka terhadap hal-hal kecil yang sering terlewat saat di rumah.
"Buat makna Lebaran di luar negeri jadi di sini aku jadi lebih ngerasain makna Lebaran dibanding biasanya soalnya nggak ada distraksi, nggak seramai di Indonesia," ujar perempuan yang menempuh Magister Science bidang Artificial Intelligence for Biomedicine and Healthcare di UCL sejak September 2025 ini.
Lebaran Lebih Sepi, Tapi Jadi Lebih Personal
Menurut Arin, Lebaran di London terasa jauh lebih sunyi dibandingkan di Indonesia. Tidak ada tradisi keliling rumah keluarga atau suasana ramai khas hari raya. Namun, justru di situlah ia menemukan makna yang lebih dalam.
Ia mengaku lebih sering memikirkan keluarga dan momen kebersamaan yang biasanya terjadi setiap Lebaran.
"Jadi, kayak aku lebih kepikiran hal-hal kecil seperti kangen keluarga, inget momen salaman," katanya.
Meski begitu, suasana Lebaran tetap terasa hangat lewat pengalaman baru yang ia jalani. Arin sempat melaksanakan salat Id di London Central Mosque yang dipenuhi jemaah dari berbagai negara. Baginya, suasana ini memberikan nuansa internasional yang berbeda dari Indonesia.
Raissa Azarine saat berlebaran di London Foto: (Dokumentasi pribadi Raissa Azarine) |
"Salat Id di London Central Mosque yang rame banget dan diverse," ungkapnya.
Pengalaman ini membuatnya melihat Lebaran dari sudut pandang yang lebih luas, tidak hanya soal tradisi, tetapi juga keberagaman.
Komunitas Jadi Tempat Pulang Sementara
Meski jauh dari keluarga, Arin tetap bisa merasakan kebersamaan lewat komunitas. Ia mengaku banyak menghabiskan waktu dengan sesama orang Indonesia dan komunitas kampus selama Lebaran.
Setelah salat Id, Arin dan teman-temannya merayakan dengan cara sederhana tapi bermakna. Mereka makan bersama di restoran Indonesia dan melanjutkan waktu dengan berkumpul santai.
"Setelah salat pun aku dan teman-teman langsung ke restoran Indonesia dan kita have all you can eat makanan-makanan lebaran seperti opor, rendang, dan ketupat," ceritanya.
Tradisi khas Indonesia juga tetap dipertahankan, meski dalam versi yang lebih sederhana. Mulai dari video call keluarga hingga halal bihalal bersama teman-teman di London.
Raissa Azarine saat berlebaran di London Foto: (Dokumentasi pribadi Raissa Azarine) |
Namun, rasa rindu tetap menjadi tantangan tersendiri. Arin mengakui Lebaran tanpa keluarga terasa berbeda, terutama saat momen salaman.
"Lebaran without family itu weird banget," katanya.
Untuk mengatasinya, ia memilih tetap terhubung dengan keluarga dan menghabiskan waktu bersama teman-teman yang mengalami hal serupa. Kebersamaan itu justru menciptakan rasa saling menguatkan di perantauan.
Bagi Arin, pengalaman ini membuat makna Lebaran tidak berubah, tetapi terasa lebih dalam.
"Menurut aku maknanya nggak berubah, tapi di sini tuh lebih kerasa lebih personal, lebih real aja," tutupnya.
(nwk/nwk)













































