Terbang sejauh lebih dari 18.000 km dari Indonesia ke United Kingdom (UK) atau Britania Raya, membuat diaspora harus merasakan perbedaan suasana Ramadan. Hal ini dirasakan oleh Irawati Liana, mahasiswa S2 di University of Edinburgh, Skotlandia.
Ramadan 2026 menjadi pengalaman pertamanya berpuasa di Skotlandia. Ira, sapaannya, mengatakan harus beradaptasi dengan banyak hal seperti cuaca, makanan, hingga durasi puasa.
"Jadi untuk cuaca masih di winter, jadi suhu terdingin bisa 0 derajat Celsius, paling panas 11 derajat Celsius. Jadi harus adaptasi sama cuaca yang bisa rawan buat masuk angin dan flu. Tapi Alhamdulillahnya belum pernah flu," ucapnya kepada detikEdu, ditulis Minggu (15/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tantangan Menemukan Makanan Halal hingga Durasi Puasa yang Berubah
Karena hidup di negara yang warganya mayoritas menyatakan tidak beragama, Ira mengaku awalnya kesulitan karena kebanyakan makanan yang dijual merupakan nonhalal. Di sisi lain, ia juga harus beradaptasi dengan jenis makanan karena di UK, makanan pokoknya yaitu roti-rotian.
"Untuk makanan juga untuk aku pribadi agak susah menyesuaikan karena di sini makannya roti-rotian dan banyak tempat makan yang jualan nonhalal, jadi harus pilih-pilih," ujarnya.
"Nah daripada harus takut-takut coba (tempat makan), lebih sering masak di rumah dan beli di toko-toko muslim untuk bahan makanan, terutama daging," imbuhnya.
Sementara itu, durasi puasa di sana juga berbeda dengan di Indonesia yang konsisten sekitar 13-14 jam. Saat winter, durasi puasa di Skotlandia bisa berkisar antara 11 jam sampai 14 jam.
Pada akhir Ramadan, durasi puasa di sana bahkan bisa mencapai lebih dari 14 jam. Maka, a harus sering mengecek jadwal azan secara digital setiap harinya.
"Durasi puasanya juga tidak konsisten sama, jadi dari awal puasa sampai sekarang durasinya tambah panjang, dari yang sebelumnya Subuh pukul 05.45 pagi - Magrib 16.30, tambah lama durasinya mundur sampai hari ini Subuh pukul 04.30 dan Magrib 18.12. Jadi menurut jadwal sampai akhir Ramadan, kita bakal puasa sampai jam 7 malam (Magrib) dengan Subuhnya jam 4 pagi. Jadi tiap hari harus cek jadwal azannya yang setiap hari berbeda," kata mahasiswi jurusan Language Education tersebut.
Meski begitu, Ira mengaku puasa pertama di UK tidak terlalu berat karena cuaca yang sedang dingin. Aktivitas yang membuatnya harus bepergian juga tidak bikin cepat haus.
Ikut Acara Bagi-bagi Takjil Bareng Diaspora Lain
Menurut Ira, yang paling membedakan antara Ramadan di Indonesia dan Skotlandia yaitu riuh ramai suasananya. Bahkan, di sana menurutnya lumayan banyak orang yang belum tahu tentang Ramadan.
Namun, ia tak kehilangan suasana Ramadan meski tak ada ngabuburit. Sebab, ia masih bisa berkumpul bersama orang Indonesia lainnya di Edinburgh untuk berbagai takjil gratis.
"Kebetulan komunitas muslim Indonesia di sini sering ngadain bagi-bagi takjil gratis untuk mahasiswa/orang Indonesia yang di Edinburgh. Jadi kita harus RSVP dulu untuk dapat makanannya," ucap Ira.
"Buka puasa juga dijadwalin sama PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) dan komunitas muslimnya sebagai acara resmi kumpul orang Indonesia. Tapi kadang, aku juga mengadakan buka bersama dengan teman-teman dekat saja," imbuhnya.
Di Edinburgh, Ira mengakui tak kesulitan untuk mencari masjid. Sebab, dari tempat tinggalnya, terdapat Central Mosque yang bisa ditempuh dengan jalan kaki 10 menit.
Buka bersama diaspora Indonesia di Skotlandia pada Ramadan 2026 Foto: Irawati Liana |
Kampus Mendukung Mahasiswa Muslim
Sebagai mahasiswa yang kuliah di kampus terbaik ke-5 di UK menurut THE WUR 2026, Ira merasa aman karena selama Ramadan, mahasiswa muslim mendapat dukungan. Misalnya dengan informasi terkait komunitas muslim di kampus dan acara religi yang diselenggarakan.
"Sejauh ini kuliah aman-aman saja dengan jadwal yang sama (selama Ramadan). Kampus sangat aware dengan festival/perayaan dari berbagai komunitas etnis/religi di sini. Jadi biasanya selalu ada pengumuman untuk kasih mahasiswa informasi terkait acara tersebut termasuk Ramadan ini," ujar perempuan asal NTB tersebut
Bahkan, kampusnya membuka kesempatan bagi mahasiswa muslim untuk menyesuaikan jadwal ujian selama berpuasa. Tujuannya agar mahasiswa bisa fokus beribadah.
"Jadi sempat dapat imbauan bagi mahasiswa yang merayakan Ramadan dan berpuasa, bisa konsultasi untuk adjust schedule (khususnya deadline ujian), jikalau selama Ramadan ini study-nya merasa kurang maksimal karena harus fokus ibadah dan puasa," kata Ira.
"Dosen-dosen juga aware dengan hal tersebut, kadang mengingatkan mahasiswa di kelas untuk enggak minum/makan di kelas jika tahu ada mahasiswa muslim di sana," tuturnya.
(faz/twu)

