Terimpit masalah ekonomi, Annas Sholihin hampir mengambil cuti kuliah. Namun alih-alih menyerah, ia justru bangkit hingga lulus dengan prestasi akademik gemilang.
Demi biaya kuliah, mahasiswa asalMadura itu bekerja sebagai pembina pramuka di tiga sekolah sekaligus. Uang yang terkumpul ia tabung untuk tugas-tugas kuliah S1.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau saat itu saya menyerah, mungkin ceritanya akan berbeda. Saya selalu percaya bahwa kesulitan hanya meminta kita untuk lebih kreatif mencari jalan," kenang Annas dalam laman Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dikutip Sabtu (21/3/2026).
Kegigihan Annas mengantarkannya ke jenjang magister. Berkat kerja kerasnya, ia mampu menuntaskan studi S2 hanya dalam waktu 1,5 tahun.
Kantongi Ratusan Hak Kekayaan Intelektual
Dari riset tesisnya, Annas berhasil menembus pendanaan DPPM BIMA Kementerian Pendidikan. Karyanya kemudian dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi Scopus Q1 pada Juni 2025.
Perjuangan Annas tidak sampai di situ. Ia terus melakukan riset hingga mencatatkan 142 Hak Kekayaan Intelektual (HKI) serta lebih dari 23 publikasi ilmiah.
Namanya kini diperhitungkan dalam dunia riset pendidikan matematika dengan h-index 10 dan total skor Sinta 88. Salah satu inovasinya adalah pengembangan media pembelajaran berbasis etnopedagogi, yang mengintegrasikan budaya lokal Madura ke dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar.
Pendekatan ini membuat konsep matematika lebih kontekstual dan mudah dipahami siswa.
Lulus Magister dengan IPK Sempurna
Annas bisa saja menyerah sejak di bangku Sarjana. Namun langkah gigihnya mengantarkan Annas sebagai wisudawan terbaik jenjang Magister Unesa dengan IPK sempurna 4,00 pada Wisuda Periode 118.
Kini, Annas sedang melangkah ke jenjang doktoral S3 melalui jalur fast track.
(nir/pal)











































