Tak Pernah Telat Meski Jalan Berjam-jam, Kisah Haru Siswa Papua Pedalaman

ADVERTISEMENT

Tak Pernah Telat Meski Jalan Berjam-jam, Kisah Haru Siswa Papua Pedalaman

Cicin Yulianti - detikEdu
Rabu, 04 Feb 2026 13:30 WIB
Tak Pernah Telat Meski Jalan Berjam-jam, Kisah Haru Siswa Papua Pedalaman
Abiro dan Ace membagikan kisah bersekolah pada Seminar Natal Nasional 2025 di Ruang Grand Chapel, Universitas Pelita Harapan (UPH) Kampus Lippo Village, Karawaci, Tangerang, Selasa (3/2/2026). Foto: Cicin Yulianti/detikcom
Jakarta -

Setiap pukul 03.00 dini hari, saat sebagian besar orang masih terlelap, Abiro Busup sudah terjaga. Perjuangannya berangkat sekolah tak mudah.

Bocah asal Mamit, Papua pedalaman ini menyiapkan bekal sederhana sebelum memulai perjalanan panjang menuju sekolah. Ia menempuh perjalanan berjam-jam untuk sampai ke sekolah.

Ia harus jalan kaki melewati gunung, tanjakan terjal, dan sungai. Usahanya tersebut telah menjadi rutinitas hariannya demi satu tujuan yakni bisa terus bersekolah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Jarak Sekolah Jauh, tapi Tak Pernah Telat

Abiro berasal dari daerah pedalaman Provinsi Papua Pegunungan. Di sana tak ada jalan semulus aspal, melainkan jembatan yang membelah sungai.

"Waktu kecil, saya tinggal dengan bapak-mama yang jauh dari sekolah. Bapak-mama titip saya di rumah tante supaya dekat dengan sekolah," kata Abiro dalam acara Seminar Natal Nasional 2025 di Ruang Grand Chapel, Universitas Pelita Harapan (UPH) Kampus Lippo Village, Karawaci, Tangerang, Selasa (3/2/2026).

Dari kelas 1 hingga kelas 3 SD, ia berangkat sekolah dari sana. Memasuki kelas 4 hingga kelas 6, Abiro kembali pindah rumah ke wilayah Duran, tetapi perjuangan menuju sekolah tetap sama beratnya.

"Ke sekolah itu berjalan kaki setiap hari melewati gunung, tanjakan, dan sungai yang sulit. Kami bangun jam 3 pagi, jam 3 subuh. Menyiapkan bekal, lalu jam 4 pagi kami sudah mulai berangkat," tutur Abiro.

Meski melelahkan dan penuh risiko, Abiro tak pernah menyerah. Ia bersyukur bisa tiba di sekolah sekitar pukul 7 pagi dengan selamat.

"Di daerah kami di pedalaman sana tidak ada sekolah yang mendukung kami belajar. Hanya ada sekolah kami yang mendukung kami untuk belajar," ujarnya.

Bahkan, Abiro menurut gurunya adalah siswa yang tak pernah terlambat sekolah. Hal ini yang menjadi inspirasi bagi siswa lainnya.

Berkat Sekolah, Tak Jadi Dijual untuk Dinikahi

Perjuangan serupa juga dialami Ace, siswi asal pedalaman Papua lainnya yang ini bersekolah. Ace tumbuh di lingkungan yang penuh tantangan sosial dan budaya.

Ace menyimpan kenangan pahit masa kecil. Ia pernah merasa sedih dan malu melihat jari ibunya dipotong karena sebuah tradisi lama.

Bahkan, ia juga menjadi korban dari tradisi tersebut. Kini salah satu jarinya telah dipotong.

"Dulu saya sedih dan malu lihat jari mama dipotong, tapi sekarang saya bersyukur karena itu tanda kasih sayang mama supaya saya hidup," katanya.

Namun, ia beruntung karena bisa terlepas dari tradisi lainnya berkat pendidikan. Kakaknya, Ode, turun tangan dan menyelamatkan Ace dari pernikahan dini.

"Di desa saya banyak pernikahan dini. Teman saya 3 orang sudah dinikahkan waktu SD, ada yang kelas 4, ada yang kelas TK," katanya.

"Saya juga hampir dinikahkan. Papa saya mau jual saya ke kampung yang jauh, tapi kakak saya Ode membantu saya supaya tidak dinikahkan," sambungnya.

Tak lama berselang, ayah Ace meninggal dunia akibat keterbatasan obat dan fasilitas kesehatan di daerah mereka. Peristiwa itu menjadi titik balik dalam hidup Ace.

"Cita-cita saya ingin menjadi dokter. Karena kelas 5 SD bapak saya meninggal karena tidak ada obat dan fasilitas kesehatan yang kurang lengkap," katanya.

Keyakinan Perkuat Tekad Bersekolah

Abiro mengaku ia diajarkan untuk selalu ingat dengan Tuhan. Ketika ia yakin Tuhan akan menolong, maka kemudahan selalu datang.

"Mulai dari jam 3 pagi sudah berangkat ke sekolah. Perjalanan itu sangat susah, tapi karena pertolongan Tuhan, kami bisa lewat," katanya.

Abiro kini bersekolah di Sekolah Lentera Harapan (SLH) dan tengah menduduki kelas 8 SMP. Ia memiliki cita-cita menjadi pilot.

"Karena di daerah kami di pedalaman tidak ada pesawat yang masuk. Transportasi sulit, sehingga saya ingin membawa pesawat masuk ke daerah kami," katanya.

Begitu juga bagi Ace, yang juga merupakan siswa SLH. Menurutnya, sebelum Injil masuk ke wilayah Dagoto, masyarakat hidup dalam keterbatasan pengetahuan.

"Sebelum Injil masuk, kami tidak tahu firman Tuhan, hidup dalam kegelapan. Saat misionaris masuk ke Dagoto, mereka membawa terang," katanya.




(cyu/twu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads