Bakat melukis Rayaka Agashtya Wibowo kian menemukan bentuknya. Seniman muda asal Yogyakarta ini dikenal dengan kekhasannya: kereta api sebagai bahasa visual utama. Dari goresan demi goresan rel, lokomotif, dan gerbong, Rayaka membangun dunia yang bukan sekadar teknis, melainkan penuh emosi, relasi, dan makna.
Sejak dua tahun lalu, karya Rayaka mulai melaju ke panggung internasional. Pada 2024, lukisannya tampil dalam ParaArt Tokyo, Jepang. Tahun ini, langkah itu berlanjut lebih jauh. Karyanya terpilih untuk dipamerkan dalam ArtWorks Together International Festival 2026 yang akan digelar di Millennium Gallery, Sheffield, Inggris, pada 24 Januari hingga 31 Mei 2026.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rayaka sudah mulai mengikuti seleksi sejak September 2025, dan dinyatakan lolos menjadi satu-satunya perwakilan seniman dari Indonesia. Karyanya terpilih bersama sekitar 70 seniman disabilitas dari 20 negara yang lolos kurasi," ujar Sri Utami, ibunda Rayaka, saat berbincang dengan detikEdu, Selasa (3/2/2026).
Tak berhenti di situ, lukisan Rayaka berjudul "Dancing Through the Storm" juga masuk nominasi penghargaan The Spirit Time Award. Karya ini bersaing dengan sepuluh finalis lain dari berbagai negara, di antaranya Oh, There Is Thunder in Our Hearts karya Alice Bulmer (Inggris), La FΓͺte karya Cecile Jeanne Fraeye (Prancis), serta Self Portrait / Explosion of Self karya Gabriel Bennet Lovejoy (Skotlandia).
Lukisan Rayaka berjudul 'Dancing Through Storm' Foto: (Dokumentasi Sri Utami) |
Lewat Dancing Through the Storm, Rayaka bercerita tentang perjuangan anak dan orang tua dengan bahasa yang paling ia cintai: bahasa kereta api. Dua kereta yang melaju berdampingan dalam lukisan tersebut menjadi simbol kasih sayang, kekuatan, dan dukungan. Bagi Rayaka, keberanian bukan berarti ketiadaan rasa takut. Keberanian justru hadir saat seseorang tetap bergerak-bahkan menari-di tengah badai.
"Dalam hidup kita tidak bisa menghindari badai. Tapi kita bisa memilih dengan siapa kita bergandengan tangan untuk melewatinya. Dengan kasih sayang dan penerimaan keluarga, badai pun bisa dilukis dengan indah, seperti dalam karya Rayaka," tutur Utami.
ArtWorks Together International Festival (artworkstogether.co.uk) merupakan ajang seni yang bertujuan memberi ruang dan visibilitas bagi seniman dengan learning disabilities dan/atau autisme dari berbagai negara. Atas capaian ini, Rayaka juga mendapatkan dukungan dari Kementerian Ekonomi Kreatif agar dapat menghadiri langsung pameran di Inggris.
Sebelumnya, karya Rayaka berjudul "Timeless Stream Train" terpilih dalam ParaArt Tokyo 2024, sebuah pameran tahunan yang mengusung slogan "Art Goes Beyond Borders and Disabilities". Ajang ini menjadi ruang pertemuan seniman penyandang disabilitas dari seluruh dunia sekaligus sarana meningkatkan pemahaman publik tentang isu disabilitas.
Informasi mengenai ParaArt Tokyo diperoleh Utami dari jejaring sesama seniman disabilitas, sementara pendaftaran ArtWorks Together diketahui melalui media sosial. Namun, sebagai siswa kelas 12 di Sekolah Tumbuh High School, Sewon, Bantul, Rayaka tentu tidak bisa bepergian sendiri. Utami-yang merupakan mantan jurnalis televisi-berupaya mencari sponsor dengan menawarkan sejumlah karya Rayaka agar dapat mendampingi putranya ke Inggris.
Bakat Rayaka sendiri telah terlihat sejak usia sangat dini. Ia mulai mencoret-coret krayon pada usia satu hingga dua tahun. Bahkan sebelum lancar berbicara, krayon sudah lebih dulu akrab di tangannya. Kemampuan menggambar bentuk mulai terlihat jelas pada usia empat hingga lima tahun.
"Selain kereta, dia juga suka menggambar mobil dan bus. Tapi kalau dihitung, 90 persen itu kereta api," kata Utami sambil tersenyum.
(jat/nwk)












































