Kisah Inspiratif Uga, Dari Penderita Menjadi Peneliti Autisme

ADVERTISEMENT

Kisah Inspiratif Uga, Dari Penderita Menjadi Peneliti Autisme

Cicin Yulianti - detikEdu
Jumat, 29 Agu 2025 07:30 WIB
Uga, lulusan S2 UNY yang merupakan seorang autis
Uga, lulusan S2 UNY yang merupakan seorang autis. Foto: UNY
Jakarta -

Perjalanan hidup Anugrah Fadly Kreato Seniman bukanlah kisah biasa. Didiagnosis mengalami Autism Spectrum Disorder (ASD) sejak bayi, pria yang akrab disapa Uga ini membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih mimpi.

Di tengah berbagai tantangan sejak masa kecil, Uga kini resmi menyandang gelar Magister Pendidikan Luar Biasa dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dengan tesis yang menyuarakan ekspresi anak-anak autis lewat seni.

"Seni dan pendidikan adalah jalan pengabdian saya," kata Uga dalam keterangannya, Kamis (28/6/2025).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perjalanan Uga dari Kecil hingga Dewasa

Sejak kecil, Uga harus melewati hari-hari yang tidak mudah. Selain autisme, ia juga mengalami gangguan tidur yang berat. Berbagai terapi dijalani atas inisiatif orang tua, namun tantangan semakin besar saat ia mulai masuk sekolah.

ADVERTISEMENT

Dari sekolah negeri hingga swasta, bahkan sekolah khusus, Uga tak lepas dari stigma dan lingkungan yang belum sepenuhnya inklusif. Saat itu, Uga selalu mendapat dukungan untuk terus bersemangat dalam belajar.

Namun, situasi semakin berat di bangku SMP. Kepadatan kegiatan sekolah dan minimnya dukungan membuatnya harus berpindah-pindah sekolah, bahkan sempat mengalami penolakan dari beberapa sekolah kejuruan.

Kuliah di ISI Jogja Jadi Titik Balik Uga

Namun titik balik datang saat ia diterima di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, jurusan Seni Rupa. Di sanalah Uga untuk pertama kalinya merasakan lingkungan yang suportif, bebas dari bullying, dan terbuka terhadap perbedaan.

Bahkan, ia mulai akrab berinteraksi dengan mahasiswa asing dari berbagai negara. Ia membangun kepercayaan diri yang selama ini sempat rapuh.

Usai lulus sarjana, Uga melanjutkan studi Magister di Program Pendidikan Luar Biasa UNY atas arahan dosen FBSB UNY, Dr Hajar Pamadhi. Di sinilah mimpinya makin terarah yakni untuk memperjuangkan ruang ekspresi bagi anak-anak autis melalui seni.

"Saya ingin agar anak-anak autis memiliki ruang yang luas untuk mengekspresikan diri, didengar, dan dihargai," katanya.

Buat Penelitian Soal Isu Autisme

Tak sekadar menyelesaikan studi, Uga juga menyumbangkan penelitian yang menyentuh banyak hati. Lewat tesis berjudul 'Respon Anak Autis Terhadap Kegiatan Pameran Seni Rupa I'M POSSIBLE: Ekspresikan Dirimu', ia mengeksplorasi bagaimana seni rupa bisa menjadi sarana komunikasi dan terapi bagi anak-anak autis.

Penelitiannya melibatkan anak-anak autis sebagai seniman dalam pameran seni. Hasilnya menujukkan anak-anak menjadi lebih percaya diri, lebih mampu menyalurkan emosi, serta meningkat dalam konsentrasi dan interaksi sosial.

Yang membuat penelitiannya semakin kuat adalah latar belakang pribadinya. Sebagai penyandang autisme, Uga mampu membaca dan merasakan respon anak-anak autis dengan sensitivitas yang tinggi. Ia tak sekadar meneliti, ia memahami dan mengalami langsung.

Keberhasilan Uga tak lepas dari dukungan berbagai pihak, terutama Pusat Studi Disabilitas UNY yang dipimpin oleh Prof Dr Ishartiwi, M Pd. Lembaga ini menjadi rumah kedua bagi mahasiswa penyandang disabilitas, menyediakan layanan konsultasi, dukungan moral, hingga advokasi akademik.




(cyu/nwk)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads