Kisah Anisa Farida, Alumnus Unair yang Kawal Isu Kemanusiaan

ADVERTISEMENT

Kisah Anisa Farida, Alumnus Unair yang Kawal Isu Kemanusiaan

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Rabu, 04 Feb 2026 06:30 WIB
Kisah Anisa Farida, Alumnus Unair yang Kawal Isu Kemanusiaan
Anisa FaridaFoto: Dok Unair
Jakarta -

Bagi Anisa Farida, perjalanan menuju dunia diplomasi bukanlah jalan yang sudah direncanakan sejak awal. Alumnus Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (Unair) ini kini menjabat sebagai Counsellor Perwakilan Tetap Republik Indonesia di Jenewa, Swiss, setelah lebih dari 15 tahun mengabdi di Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI.

Dari Toronto hingga London, dari isu kemanusiaan hingga perdagangan internasional, Anisa membuktikan bahwa latar belakang apa pun bisa menjadi pijakan untuk berkontribusi bagi negara di kancah global.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menapaki Jalan Diplomasi dari Nol

Dilansir dari laman Unair, Anisa semula merampungkan kuliah pada 2007. Saat itu, ia belum menyangka akan berkarier sebagai diplomat.

Latar belakang pendidikannya di bidang sastra membuatnya lebih akrab dengan dunia penerjemahan dan pengajaran. Namun, takdir membawanya pada jalan berbeda.

ADVERTISEMENT

"Waktu masuk itu benar-benar dari nol. Saya bukan yang dari HI atau hukum, jadi semua teori dan cara berpikir diplomasi itu baru," ujarnya.

Setelah lolos seleksi diplomat pada 2008, Anisa menempuh pendidikan di Sekolah Dinas Luar Negeri (Sekdilu). Penugasan pertamanya di Toronto, Kanada, membuka matanya pada isu-isu kemanusiaan lintas negara.

Ia turut terlibat dalam kegiatan kekonsuleran dan penggalangan dana bersama masyarakat Indonesia di luar negeri. Pengalaman ini kelak membentuk arah kariernya di bidang hak asasi manusia.

Sekembalinya ke Indonesia, Anisa bergabung dengan Direktorat HAM dan Kemanusiaan Kemlu RI. Di sinilah ketertarikannya terhadap isu perlindungan WNI dan pekerja migran semakin kuat.

Salah satu kisah paling membekas adalah keberhasilannya membantu pemulangan seorang pekerja migran perempuan yang disekap selama 18 tahun oleh majikannya.

"Di situ saya benar-benar merasa, oh ini lho fungsi negara. Ketika orang sudah di posisi paling rentan, negara harus hadir," katanya.

Dari Isu HAM ke Forum Multilateral di Jenewa

Setelah bertugas di London dan Jakarta, Anisa kini ditempatkan di Perwakilan Tetap RI di Jenewa sejak 2022. Namun, kali ini bidang yang ia tangani berbeda, yaitu isu perdagangan internasional dalam forum multilateral. Perubahan itu menantangnya untuk kembali belajar dari awal.

"Awalnya saya merasa keluar dari jalur yang sudah saya bangun. Tapi ternyata isu perdagangan ini menarik, karena hasil negosiasinya itu mengikat dan ada mekanisme penegakannya. Jadi dampaknya terasa langsung," ungkapnya.

Dari pengalaman ini, Anisa belajar bahwa diplomasi tak hanya soal nilai dan norma. Diplomasi membutuhkan strategi yang punya dampak nyata bagi negara. Ia percaya bahwa belajar adalah proses seumur hidup.

"Hidup itu lifelong learning. Kalau kita berhenti belajar, ya kita akan stuck. Justru ketika dipaksa belajar hal baru, di situ kita berkembang," tuturnya menutup cerita.




(rhr/twu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads