Ali Alatas, dari Cikini ke Panggung Diplomasi Dunia

Mengenal Sosok Menlu Legendaris (3)

Ali Alatas, dari Cikini ke Panggung Diplomasi Dunia

Sudrajat - detikEdu
Jumat, 26 Des 2025 19:00 WIB
Ali Alatas, dari Cikini ke Panggung Diplomasi Dunia
Mantan Menlu RI Ali Alatas. Foto: Wikimedia Commons
Jakarta -

Menjadi diplomat sama sekali tak masuk radar cita-cita Ali Alatas. Sejak SMA, ia justru terobsesi menjadi ahli hukum.

Mempelajari ilmu hukum, kata Ali, akan membiasakan diri berpikir runtut dan berani berargumentasi untuk mencari kebenaran. Kemampuannya berbahasa Belanda membuat ia percaya diri untuk melahap berbagai buku tentang hukum yang kebanyakan ditulis dalam Bahasa Belanda. Karena itu Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH-UI) menjadi tujuannya selain Akademi Dinas Luar Negeri.

Sejak 1950 ia melakoni kuliah di dua institusi sekaligus. Namun, dua tahun kemudian muncul larangan untuk kuliah rangkap. Ali memutuskan melepas FH-UI.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kelak, kalau sudah bekerja di Departemen Luar Negeri saya bisa melanjutkan kuliah hukum," pikirnya kala itu seperti tertuang dalam rubrik Memoar di Majalah Tempo terbitan 25 Februari 2007.

Perjalanan dari Negosiasi ke Negosiasi

Sebelum gelar sarjana benar-benar diraih, Ali sudah masuk gelanggang diplomasi. Pada 1954, ketika usianya baru 22 tahun, ia dilibatkan dalam perundingan Indonesia-Belanda untuk menyelesaikan sengketa Irian Barat.

ADVERTISEMENT

Sejak itu, hidupnya bergerak dari satu negosiasi ke negosiasi lainnya. Saat bertugas di KBRI di Bangkok, terlibat langsung mengurus pemulangan para mantan romusha yang tersebar di Thailand.

Kebanyakan berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Barat. Mereka dicomot tentara Jepang saat masih belasan tahun, dipaksa bekerja membangun jalur kereta api di Burma, lalu ditinggalkan begitu saja setelah perang berakhir.

Ketika Ali tiba di Bangkok, mereka telah lebih dari sepuluh tahun hidup tanpa status hukum yang jelas. Sebagian telah berkeluarga, tetapi kerinduan pulang ke Indonesia tak pernah padam.

Pengalaman tersebut kelak membuat Ali begitu peka terhadap isu-isu Hak Asasi Manusia. Namun, prestasi terbesarnya tercatat di Kamboja.

Bersama Perdana Menteri Hun Sen, ia menjembatani jalan menuju Konferensi Internasional Paris 1991, mengakhiri perang panjang melawan Khmer Merah yang menewaskan lebih dari satu juta warga sipil. Ia juga membantu penyelesaian konflik di Filipina Selatan antara Moro di bawah kendali Nur Misuasi dan pemerintah Filipina.

Tak Direstui Soeharto sebagai Calon Sekjen PBB

Semua itu memperkuat reputasinya sehingga didorong sejumlah negara Asia sebagai calon Sekretaris Jenderal PBB pada 1996. Namun, pencalonan itu tak berlanjut karena Presiden Soeharto tak memberikan restu.

Kelompok teknokrat yang dipimpin Prof Widjojo Nitisastro juga sangat mempercayai Ali. Sebab ia kerap memimpin langsung diplomasi untuk menjembatani kepentingan pembangunan nasional dengan dinamika pasar dan politik global.

Pendiri CSIS Jusuf Wanandi punya catatan khusus tentang reputasi tersebut. Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB saat itu, Jeane Kirkpatrick, kata Jusuf pernah mengungkapkan kekagumannya atas berbagai usul substantif yang diajukan Indonesia lewat Ali di berbagai forum PBB. Atas perannya pula, hubungan antara negara-negara berkembang dan negara-negara Barat kerap menemukan titik temu, meskipun landasan kebijakan mereka sering kali berbeda.

Di lingkungan diplomasi internasional, tempat para pejabat lazim disapa "His Excellency", Ali Alatas justru sering dipanggil sederhana: Pak Ali. Sapaan itu bukan penghilangan protokol, melainkan bentuk penghormatan dari para kolega dan mitranya.

"Ia kharismatik, berwawasan luas, dan berpenampilan santun," tulis The Guardian, 17 Desember 2008.

Hobi Sepak Bola hingga Membaca

Ali lahir dan besar di kawasan Cikini pada 4 November 1932. Hobinya antara lain bermain sepak bola. Paras Arabnya dan postur tubuhnya yang semampai membuat ia paling mudah dikenali.

"Tidak sulit mencari Ali, cari saja lapangan bola di Cikini, cari yang paling jangkung itulah si Ali," kenang seorang teman kecilnya kepada majalah Kartini, 17 April 1988.

Kala itu, Presiden Soeharto baru saja mengangkat Ali menjadi Menlu, menggantikan Prof Mochtar Kusumaatmadja. Sebelumnya, Ali pernah menjadi Sekretaris Wakil Presiden Adam Malik. Menjadi perwakilan RI untuk PBB di Jenewa, Swiss dan New York, Amerika.

Selain sepak bola, membaca adalah kegemarannya yang lain. Ia biasa melahap berbagai koleksi sang ayah, Abdullah S Alatas, dosen Bahasa dan Sastra Arab di Universitas Indonesia. Selain Inggris dan Belanda, Ali mengaku sedikit menguasai bahasa Prancis dan Jerman.

Pemikiran dan pengalamannya ia endapkan dalam buku. Pada 2002, Ali menerbitkan A Voice for Peace dan A Voice for a Just Peace. Empat tahun kemudian, ia menulis The Pebble in the Shoe: The Diplomatic Struggle for East Timor.

Sebelum menutup mata pada 11 Desember 2008 di Singapura, Ali masih aktif sebagai Utusan Khusus Sekjen PBB untuk masalah Myanmar, penasihat Presiden Megawati untuk urusan Luar Negeri, dan Ketua Dewan Pertimbangan Presiden di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.




(jat/nah)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads