Kegagalan tak menyurutkan langkah untuk mencoba lagi dan bermimpi. Setidaknya itu yang dibuktikan oleh Thesen Wijaya, siswa asal SMA Negeri 1 Ambon.
Thesen telah beberapa kali mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) sejak tingkat SD. Hasilnya, ia mengalami kegagalan menjadi juara dan kerap terjebak di posisi finalis saja.
Namun, hal itu tidak membuatnya berhenti dan bermimpi. Sampai ke jenjang SMP hingga SMA, ia terus mengikuti OSN. Meski lagi-lagi, pada 2022, ia bahkan gagal karena tidak lolos pada OSN Tingkat Kab/Kota.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Thesen mengakui, ia sempat ragu untuk benar-benar bisa meraih medali dan menjadi juara.
"Dari dulu saya selalu berpikir, tidak mungkin jadi medalis," ucapnya, seperti dilansir laman Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas).
Keraguan itu seakan jadi penghalang bahwa anak daerah sulit bersaing. Namun, justru dari timur, dari tempatnya berasal, Matahari selalu terbit lebih awal. Cahaya ini yang seolah membawa semangat Thesen terus ada, untuk tidak berhenti mencoba.
Lingkungan yang Mengubah Thesen
Harus diakuinya, lingkungan menjadi faktor penting saat dirinya bangkit dari kegagalan. Salah satunya dengan mengikuti Academy of Champions, sebuah kompetisi bergengsi bagi siswa-siswi dari berbagai penjuru di Indonesia.
Di sanalah, Thesen bertemu pelajar lain dari berbagai daerah. Lingkungan itu, sekaligus membuatnya mengubah cara pandang terhadap pembelajaran dan bidang yang ia minati.
"Ketika bertemu teman-teman dari berbagai daerah. dari situ saya mulai mengubah mindset," ungkapnya.
Selama di Academy of Champions Thesen mengaku mulai giat menata ulang cara dan jam belajarnya. Hampir setiap hari, Thesen fokus mengulik pelajaran bidang informatika.
Bidang tersebut memberinya ruang dan waktu untuk terus belajar dan bertumbuh. Dari situ, ia terus mempelajari algoritma dan logika pemrograman seperti permainan strategi.
Ia juga menjadi sanggup mengatasi kejenuhan dalam belajar dengan menerapkan metode belajar sederhana Pomodoro, belajar 25 menit dan beristirahat 5 menit. Pola ini membantunya menjaga keseimbangan belajar dan istirahat.
"Salah satu kendala utama aku dalam perjalanan ini adalah menjaga konsistensi. Jujur aku juga sering merasa malas untuk belajar. Tapi dengan cukup motivasi, jelas sangat mungkin untuk melawan rasa malas tersebut," paparnya.
Medali Emas OSN Informatika 2025 Berhasil Diraih
Dengan bekal pengalaman baru, dukungan orang tua, teman, serta gurunya, pada akhirnya Thesen meraih mimpinya. Usai melewati kegagalan meraih medali OSN, ia akhirnya berhasil mendapatkan medali emas OSN Informatika 2025.
Tak bisa dipungkiri, Thesen merasakan haru sekaligus tidak percaya. Ia kembali teringat setahun sebelumnya ketika ia merasa sulit meraih medali.
"Di momen itu, aku merasa bangga sekalian terharu, khususnya karena tepat setahun yang lalu aku masih berpikir bahwa hal ini tidak mungkin," ungkapnya.
Petualangan Thesen pada ajang OSN ini tidak berhenti pada capaiannya atas medali emas saja. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Prestasi Nasional (Pusprenas), juga terus mengembangkan talenta para murid dari ajang nasional tersebut.
Saat ini Thesen tengah mengikuti serangkaian Pembinaan Tahap I International Olympiad in Informatics (IOI) 2026 dan akan melanjutkan Pembinaan ke Tahap II IOI 2026.
"Pembinaannya sangat seru terutama karena banyak teman teman dari berbagai daerah yang luar biasa. Banyak materi baru yang menarik," ujar Thesen.
Dengan pengalaman kegagalannya, Thesen berpesan kepada seluruh siswa-siswi di Indonesia untuk berani gagal karena pernah mencoba.
"Lebih baik gagal, daripada tidak pernah mencoba sama sekali," pungkasnya.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
(faz/faz)










































