Di tengah hiruk-pikuk kampus teknologi terbaik dunia, seorang dosen di Massachusetts Institute of Technology (MIT), Leslie Tilley, justru menemukan inspirasi mendalam dari Bali. Ia mempelajari tabuhan kendang tradisional dan ritme gamelan bukan sekadar sebagai bunyi, tetapi sebagai cara memahami hubungan manusia dengan musik, budaya, dan kreativitas.
Dilansir dari MIT News, Tilley adalah seorang etnomusikolog sekaligus pakar teori musik yang meneliti bagaimana masyarakat di berbagai belahan dunia menciptakan dan menafsirkan musik. Pengalamannya meneliti musik Bali menjadi fondasi dari penelitian besar tentang improvisasi kolektif.
Dari Kendang Bali hingga Teori Musik Dunia
Ketertarikan Tilley pada musik Bali bermula saat ia menempuh studi pascasarjana. Ia menghabiskan waktu bertahun-tahun di Bali untuk mempelajari teknik dua penabuh kendang yang memainkan ritme saling mengunci (interlocking), menciptakan harmoni kompleks yang khas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suatu hari, seorang penabuh Bali menjelaskan kepadanya dan membuka wawasan baru bagi Tilley.
"Kendang tinggi itu sopir bus, dan kendang rendah itu orang yang menaruh barang di atap bus," ujar penabuh tersebut.
Ia menyadari bahwa analogi lokal semacam itu sesungguhnya adalah bentuk teori musik sekaligus cara masyarakat memahami struktur, fungsi, dan peran dalam permainan musik mereka sendiri.
"Itu bukan teori musik seperti yang saya pelajari selama ini, tetapi sepenuhnya merupakan teori musik juga," ujarnya.
Perumpamaan itu menggambarkan cara masyarakat memahami struktur dan interaksi dalam permainan musik. Temuan tersebut menjadi pijakan bagi buku karyanya berjudul Making It Up Together, yang menggunakan musik Bali sebagai studi kasus untuk menjelaskan konsep improvisasi kolektif lintas budaya.
Membangun Kurikulum Musik yang Lebih Inklusif
Saat ini, Tilley memimpin proyek besar yang didanai Mellon Foundation senilai 500 ribu dolar AS untuk menyusun kurikulum teori musik global dan terbuka.
Proyek ini akan menghasilkan buku ajar audiovisual serta kurikulum empat semester yang lebih luas dari materi teori musik konvensional.
Menurut Tilley, selama ini teori musik yang diajarkan di banyak universitas terlalu berpusat pada musik klasik Eropa seperti Bach dan Beethoven. Ia menilai, banyak sistem musik di dunia lain yang sama kaya dan kompleksnya. Melalui kurikulum baru ini, ia ingin memperkenalkan cara pandang baru dalam memahami musik, yaitu memahami perspektif dari beragam tradisi dan cara manusia menafsirkan harmoni.
Baginya, belajar musik dari berbagai konteks budaya membuka cara pandang yang lebih manusiawi karena musik mengajarkan bagaimana orang saling berinteraksi dan membangun makna lewat bunyi.
Dari Bali untuk Dunia, Musik sebagai Bahasa Universal
Selain proyek kurikulum, Tilley juga sedang menulis buku tentang fenomena lagu daur ulang atau cover song dalam musik populer modern. Ia meneliti cara musisi dunia menafsirkan ulang lagu-lagu terkenal dan mengubah maknanya melalui gaya, suara, serta konteks sosial dan politik.
Menurutnya, proses mencipta ulang lagu memiliki kesamaan dengan improvisasi di Bali. Musisi membawa pengetahuan yang sudah mereka miliki, lalu menciptakan sesuatu yang baru dari dasar yang telah ada. Ia menjelaskan, musik yang dihasilkan seseorang tidak pernah lahir dari kekosongan karena selalu ada hubungan antara karya lama, pengalaman, dan ekspresi pribadi.
Dari pengalaman itu, Tilley ingin menunjukkan bahwa setiap budaya memiliki cara tersendiri dalam memaknai musik. Semua cara itu, katanya, layak dipelajari.
Pengalamannya di Bali menjadi salah satu momen penting yang mengubah pandangannya terhadap dunia musik sekaligus pengingat bahwa musik adalah bahasa universal yang menghubungkan manusia di mana pun berada.
(nah/nah)











































