Nyaris Tak Kuliah, Leni Kini Kantongi IPK 3,99 di UNY

ADVERTISEMENT

Nyaris Tak Kuliah, Leni Kini Kantongi IPK 3,99 di UNY

Trisna Wulandari - detikEdu
Kamis, 22 Jan 2026 16:00 WIB
Nyaris Tak Kuliah, Leni Kini Kantongi IPK 3,99 di UNY
Ini cerita mahasiswa UNY Leni Firda Kurnia Sari mengembangkan kebiasaan dan menjaga disiplin sehingga berprestasi di kampus. Foto: Dok UNY
Jakarta -

Leni Firda Kurnia Sari tercatat oleh kampus sebagai mahasiswa berprestasi. Saat ini, ia mengantongi indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,99.

Dikutip dari laman Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Leni sedang fokus menggarap skripsi untuk merampungkan studi. Ia bercita-cita lanjut kuliah ke jenjang magister dengan beasiswa.

Siapa sangka, Leni rupanya sempat mempertimbangkan tidak kuliah usai lulus sekolah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Langsung Kerja atau Kuliah

Alumnus SMKN 2 Pengasih, Kulonprogo, DI Yogyakarta tersebut semua menimbang-nimbang pilihan untuk tidak kuliah. Jika pilihan ini diambil, ia akan langsung bekerja.

Pertimbangan langsung kerja usai sekolah menurutnya lebih realistis jika mengingat kondisi ekonomi keluarga. Sedangkan pilihan lanjut kuliah saat itu bagi Leni seperti mimpi yang terlalu tinggi.

ADVERTISEMENT

Peluang KIP Kuliah

Pertimbangan untuk lanjut kuliah menguat saat mengetahui adanya program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah dari media sosial. Program pemerintah ini berupa bantuan biaya pendidikan serta biaya hidup.

Bagi Leni, KIPK juga memberikan rasa aman untuk fokus sepenuhnya pada proses belajar.

"Kekhawatiran soal biaya perlahan berubah menjadi keyakinan. Saya merasa diberi kesempatan yang adil untuk berkembang," ucapnya.

Saat mencari kampus tujuan, atmosfer belajar di Yogyakarta menjadi salah satu pertimbangan Leni memilih UNY. Di kampus ini, ia tertarik belajar pendidikan bahasa Jawa, yang baginya punya kedekatan emosional dengan budaya Jawa, serta sarat nilai luhur dan masih relevan.

Keputusannya lalu bulat untuk lanjut kuliah. Leni kemudian diterima di Program Studi (Prodi) S1 Pendidikan Bahasa Jawa, Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya (FBSB) UNY pada 2022.

Kehilangan Ibu

Ujian kembali datang saat ibu Leni meninggal saat ia duduk di akhir semester tiga. Pengalaman duka tersebut baginya memaksa untuk belajar bertahan dan menguatkan mental dalam melanjutkan pendidikan serta mengemban tanggung jawab di keluarga.

"Saya harus menata ulang hidup, mengatur prioritas, dan belajar menerima kenyataan," tutur putri pasangan Wasiran dan (alm) Sugiyati ini.

Membangun Kebiasaan dan Menjaga Disiplin

Bagi Leni, menjaga kedisiplinan jadi kunci untuk tetap berprestasi. Ia membiasakan diri untuk menyusun to-do-list harian, rutin mengulang materi, membuat mind map, serta menerapkan teknik belajar tertentu agar proses studinya efektif.

Ia juga melatih diri agar aktif di kelas dan berkomunikasi dengan dosen. Baginya, lingkungan akademiknya suportif dan dosen-dosennya terbuka untuk berdialog.

Upaya di kampus ini menurut Leni merupakan fondasi penting dalam proses belajarnya. Tak hanya itu, ia juga aktif memanfaatkan perpustakaan fisik dan digital kampus untuk memperdalam ilmu.

Skill mahasiswa asal Karangtengah Kidul, Margosari, Pengasih ini juga diasah lewat kegiatan di luar kelas. Ia aktif di unit kegiatan mahasiswa (UKM), komunitas sastra, karang taruna, hingga terlibat dalam kegiatan kerelawanan sebagai volunteer.

Beragam aktivitas tersebut bantu Leni memperkaya sudut pandangnya dan melatih empati, komunikasi, serta kemampuan bekerja sama.

Leni juga mengikuti kegiatan Kampus Mengajar. Aktivitas ini memungkinkan ia tidak menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Praktik Kependidikan (PK) karena bisa dikonversi ke satuan kredit semester (SKS). Kini mengantongi IPK tinggi, ia fokus menggarap skripsi

"IPK 3,99 bagi saya bukan sekadar angka, tetapi simbol dari proses panjang, disiplin, dan kesungguhan yang dijalani dengan doa," tuturnya.

Untuk siswa SMA, SMK, dan MA yang mengalami keterbatasan ekonomi tetapi ingin kuliah, Leni berharap agar mereka tidak berhenti bermimpi, sekalipun dianggap sebagai mimpi yang terlalu besar bagi orang lain. Meskipun keterbatasan ekonomi ada di depan mata, ia mengingatkan, kondisi tersebut bukan penentu akhir dari masa depan seseorang.

"Tidak masalah jika ada yang meragukan atau bahkan menertawakan, karena mimpi adalah milik pribadi. Hal yang perlu ditakuti justru ketika kita berhenti bermimpi" ucapnya.




(twu/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads