Usia muda bukan halangan untuk menapaki pendidikan hingga tingkat tertinggi. Di usia 26 tahun 11 bulan, Dea Angelia Kamil berhasil meraih gelar doktor dari Program Studi Doktor Ilmu Komputer, Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada (UGM). Capaian ini menjadikannya salah satu lulusan doktor termuda di kampus tersebut.
Dea menjadi satu dari 1.061 lulusan pascasarjana yang diwisuda pada Januari 2026. Keberhasilannya bukan hasil kebetulan, melainkan buah dari persiapan matang, disiplin tinggi, serta dukungan beasiswa yang membawanya menempuh pendidikan S2 dan S3 hanya dalam waktu sekitar empat tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari Akselerasi SMA hingga Doktor di Bidang Kecerdasan Buatan
Perjalanan akademik Dea dimulai jauh sebelum memasuki dunia perkuliahan. Sejak di bangku SMA, ia sudah mengikuti program akselerasi yang mempercepat waktu tempuh pendidikannya. Langkah ini menjadi fondasi awal yang membuatnya bisa menyelesaikan jenjang pendidikan lebih cepat dibandingkan rekan seusianya.
Dea mengaku sejak awal telah menyukai dunia komputasi. Minat itu bermula dari masa kuliahnya di jurusan Matematika sebelum akhirnya beralih ke Ilmu Komputer untuk memperdalam bidang machine learning dan artificial intelligence (AI).
"Saya tertarik di bidang machine learning atau AI karena ketika S1 terdapat mata kuliah tersebut. Saya ingin lebih terfokus sehingga mengambil program studi Ilmu Komputer di UGM," jelasnya, dikutip dari UGM pada Jumat (23/1/2026).
Pencapaiannya juga tak lepas dari program Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) yang ia peroleh. Melalui beasiswa ini, Dea bisa menempuh pendidikan magister dan doktor secara berkesinambungan, termasuk kesempatan mengikuti Program Peningkatan Kualitas Publikasi Internasional (PKPI) di luar negeri.
Dalam program tersebut, ia melakukan penelitian di University of Ulsan, Korea Selatan, dengan topik intelligent transportation system yang berfokus pada estimasi kecepatan kendaraan otomatis.
"Pengalaman dalam mengikuti PKPI bagi saya sangat mengesankan. Karena waktu itu, saya melakukan penelitian di University of Ulsan dengan topik intelligent transportation system khususnya di vehicle speed estimation. Jadi saya membuat sistem yang akan berjalan secara otomatis sehingga sangat meminimalkan adanya intervensi secara manual," tuturnya.
Tantangan, Dukungan, dan Pesan untuk Pengejar Mimpi Akademik
Menjalani riset di negeri orang membawa pengalaman berharga sekaligus tantangan tersendiri bagi Dea. Ia mengaku harus beradaptasi dengan ritme kerja yang disiplin dan cuaca ekstrem musim dingin di Korea Selatan.
"Etos kerja di sana sangat tinggi, dari Senin hingga Sabtu penuh kegiatan riset dan seminar. Itu menjadi ujian mental tersendiri," kenangnya.
Namun, di balik kesibukan akademik, Dea merasa beruntung memiliki lingkungan yang suportif. Dukungan dari keluarga, rekan satu laboratorium, dan promotor menjadi kekuatan besar di balik kesuksesannya.
Ia juga bersyukur dapat diwisuda bersamaan dengan sang suami yang merupakan rekan seperjuangan di program PMDSU.
Menutup kisahnya, Dea berbagi pesan inspiratif bagi mereka yang ingin menempuh jalan serupa.
"Kejarlah mimpimu, tapi perlu dipahami bahwa perjalanan S3 itu memiliki tantangan tersendiri, seperti tuntutan publikasi dan proses riset yang panjang. Ada pepatah yang mengatakan bahwa 'PhD is not for everyone', tapi jika telah menemukan jalan di sana, setiap prosesnya akan terasa sangat berharga," ujarnya.
(nah/nah)











































