Beberapa bulan lalu publik Inggris menyorot toserba Waitrose yang memberhentikan pemuda autisme setelah empat tahun bekerja. Kisah ini memicu dukungan publik yang membuatnya ditawari pekerjaan baru.
Pemuda autisme tersebut adalah Tom Boyd, yang berusia 28 tahun. Ia telah berkerja sebagai sukarelawan pelayan autisme di Waitrose Cheadle, dengan menata rak-rak toko.
Kisahnya menjadi sorotan setelah ia diberhentikan dan kemudian datang penawaran kerja dari perusahaan grosir, Asda. Bukan sebagai sukarelawan, melainkan sebagai pekerja berbayar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Merespons publik dan kejadian ini, Waitrose datang kembali ke Tom dan menawarkan pekerjaan berbayar untuk beberapa jam, mulai tahun 2026 mendatang.
"Kami membuat kabar baik itu sangat menggembirakan, yaitu dia mendapat pekerjaan sebagai 'pekerja' di Asda dan dia sangat senang," kata ibu Tom, Frances, dikutip dari BBC.
"Dia juga sangat senang bisa kembali ke Waitrose karena dia sudah sangat mengenal tempat itu," imbuhnya.
Perusahaan Memastikan Tom Mendapat Dukungan
Setelah Tom menerima kembali pekerjaan dari Waitrose dan akan dibayar, perusahaan mengatakan ingin memastikan Tom dapat dukungan.
"Kami mengutamakan kepentingan terbaik Tom dan kami telah bekerja sama erat dengan keluarganya selama ini untuk memastikan Tom mendapatkan dukungan yang dibutuhkannya," kata seorang juru bicara Waitrose.
Dukungan untuk Pekerja Autisme dari Sukarelawan Menjadi Berbayar
Sebelumnya, Frances telah bertemu dengan Menteri Jaminan Sosial dan Disabilitas pemerintah, Stephen Timms, sejak ia mempublikasikan kisah Tom.
Dia menyerukan pengaktifan kembali skema Access to Work Plus, yang sebelumnya memberikan dukungan berkelanjutan untuk memastikan orang-orang seperti Tom dapat beralih ke pekerjaan berbayar. Masa uji coba selama dua tahun berakhir pada Maret 2024.
"Menteri itu sangat tertarik, dia sangat baik, dan dia mendengarkan," kata Frances.
Sementara itu, juru bicara Departemen Tenaga Kerja dan Pensiun mengatakan sangat gembira, karena akhirnya Tom mulai bekerja dan menerima gaji.
"Kami mendoakan yang terbaik untuk masa depannya," ujarnya.
Mereka mengatakan pemerintah "menginvestasikan" USD 1 miliar per tahun untuk dukungan ketenagakerjaan pada akhir dekade ini. Tujuannya untuk membantu orang sakit, penyandang disabilitas, atau orang dengan kebutuhan khusus (neurodivergen) untuk mendapatkan pekerjaan yang baik dan aman.
"Panel ahli independen sedang meneliti bagaimana perusahaan dapat meningkatkan inklusivitas di tempat kerja," tambah mereka.
Penulis adalah peserta program Magang Hub Kemnaker di detikcom.
(faz/faz)











































