Saat S1 Pernah Ber-IPK 2,97, Kini Jadi Guru Besar UGM

ADVERTISEMENT

Saat S1 Pernah Ber-IPK 2,97, Kini Jadi Guru Besar UGM

Cicin Yulianti - detikEdu
Kamis, 18 Des 2025 09:30 WIB
Saat S1 Pernah Ber-IPK 2,97, Kini Jadi Guru Besar UGM
Prof Nurul Indarti, Guru Besar FEB UGM. Foto: UGM
Jakarta -

Gelar Guru Besar di sebuah perguruan tinggi merupakan hasil dari perjalanan panjang seorang akademisi. Gelar tersebut akhirnya diraih oleh Prof Nurul Indarti, Sivilokonom, Cand Merc, Ph D pada 2024 lalu.

Berdiri, memberikan orasi ilmiah sebagai peneliti dari kampus besar Universitas Gadjah Mada (UGM) sangat membanggakan bagi Nurul. Namun, kesuksesan tersebut pastina tidak diraih secara instan, ada banyak halang rintang di baliknya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pernah Dapat IPK 2,97 Saat Kuliah

Jauh berbeda dengan cerita suksesnya saat ini, dulu Nurul sempat dapat IPK jeblok. Saat menempuh S1 semester 1, ia hanya mendapat IPK 2,97.

Nurul menyesal karena dirinya merasa jumawa berasal dari SMA jurusan IPA. Ia dulu berpikir bahwa berkuliah di jurusan IPS lebih mudah, tetapi kenyataan menunjukan sebaliknya.

ADVERTISEMENT

"Saya menggampangkan perkuliahan karena dulu dari jurusan IPA. Waktu itu, Kartu Hasil Studi (KHS) dikirim ke rumah dan Bapak bertutur mau jadi apa kamu kalau IPK tidak sampai 3," katanya dikutip dari laman FEB UGM, Rabu (17/12/2025).

Ia sampai diragukan oleh sang ayah dengan IPK rendah tersebut. Nurul mengaku bahwa alasannya saat itu karena aktif berorganisasi.

Nurul memang dikenal aktif selama kuliah. Ia ikut organisasi di kampus sekaligus menjadi asisten dosen.

Akhirnya Nurul mundur dari kegiatan Ikatan Pelajar Muhammadiyah yang banyak menyita waktunya. Ia mulai fokus kuliah dan akhirnya hasilnya lebih baik.

"Saya pun mundur dari kegiatan IPM dan mulai serius kuliah dan akhirnya hasilnya pun bisa bagus. Pesannya memang kita harus menghargai ilmu, tidak boleh arogan pada ilmu," tegasnya.

Bangkit, Lulus Cumlaude hingga Lanjut S2-S3

Meski sempat dapat IPK rendah, Nurul terus bersemangat agar nilai akademiknya lebih baik tahun ke tahun. Usahanya membuahkan hasil baik, ia meraih predikat cumlaude saat lulus dari UGM pada 1998.

Setelah lulus, Nurul bertekad untuk mengabdi di almamaternya. Ia melanjutkan S2 di School of Management, University of Adger, Kristiansand, Norwegia.

Nurul juga sekaligus meraih Master of Science in Strategic and Operations Management (Candidata Mercatoria) di Norwegian School of Economics and Business Administration, Bergen, Norwegia pada 2003.

Tak berhenti di situ, Nurul memperpanjang langkah studinya dengan mengambil Doktor (Ph D) dalam bidang Knowledge Management and Innovation dari Faculty of Economics and Business, University of Groningen, The Netherlands.

Jadi Guru Besar Manajemen UGM Pertama

Setelah menempuh banyak studi, Nurul menduduki jabatan demi jabatan di UGM. Pada 2024 lalu, ia resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang manajemen UGM.

Pengukuhannya menjadi sejarah baru bagi FEB UGM. Nurul adalah perempuan pertama yang menjadi Guru Besar Manajemen UGM.

"Setiap pencapaian dalam hidup, termasuk jabatan akademik profesor, tidak pernah bersifat personal semata. Dalam prosesnya, banyak pihak yang berkontribusi dan melapangkan jalan, semua itu atas kehendak Allah Yang Maha Melapangkan. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah," katanya.

Fokus Riset Wirausaha Marginal

Nurul adalah peneliti UGM yang berfokus pada kajian riset kewirausahaan dari kelompok marginal. Contohnya perempuan atau penyandang disabilitas.

Dalam orasinya, ia menyampaikan pidato berjudul Melihat Kewirausahaan dari Pinggiran: Perspektif Etnis, Perempuan, dan Sosial. Ia mengajak para akademisi agar lebih melihat kewirausahaan dari kacamata yang jarang dipakai.

"Kewirausahaan etnis, perempuan, dan sosial sering kali dipinggirkan atau termarginalisasi karena berbagai faktor struktural dan kultural. Mereka menghadapi berbagai hambatan yang membatasi akses mereka terhadap peluang dan sumber daya yang dinikmati oleh kelompok mayoritas," bebernya.

Sejak 2004, Nurul telah memperjuangkan agar kurikulum kewirausahaan dapat menjadi kurikulum wajib di prodi Manajemen UGM. Selain itu, ia aktif menginisiasi kurikulum berkelanjutan di Master in Sustainability Development and Management (MASUDEM) MM FEB UGM.




(cyu/cyu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads