Rektor Prasmul & Eks Menlu Hassan Wirajuda Akui Menumpas Kasus TPPO WNI Masih Sulit

ADVERTISEMENT

Rektor Prasmul & Eks Menlu Hassan Wirajuda Akui Menumpas Kasus TPPO WNI Masih Sulit

Nikita Rosa - detikEdu
Selasa, 16 Des 2025 14:00 WIB
Rektor Prasmul & Eks Menlu Hassan Wirajuda Akui Menumpas Kasus TPPO WNI Masih Sulit
Rektor Prasetiya Mulya & Eks Menlu Hassan Wirajuda. (Foto: Nikita Rosa/detikedu)
Jakarta -

Kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) masih menjadi momok di masyarakat. Para WNI dinilai masih sering tertipu lowongan kerja bergaji besar ke Kamboja. Menteri Luar Negeri periode 2001-2009,HassanWirajua, mengatakan persoalan ini bisa muncul karena mudahnya seseorang keluar-masuk dari Indonesia.

"Persoalannya dengan lintas orang yang bebas di sini. Ke mana dia pergi, sukar untuk memonitor, " ujar Hassan kepada detikEdu, Senin (15/12/2025) usai acara wisuda Universitas Prasetiya Mulya di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Banten yang mengangkat tema "Thriving Through Lifelong Learning in the AI Era."

Rekrutmen TPPO yang Berlapis

Hassan juga menceritakan rekrutmen pekerja ilegal yang bertingkat-tingkat. Mulai dari desa dan kecamatan. Menurutnya, kemudahan TPPO ini juga lantaran tidak adanya exit permit dari Indonesia. Para pekerja ilegal ini bertolak ke negara lain dengan alasan untuk liburan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dibawa judul turis, siapa yang bisa memastikan, untuk lalu dia belok pekerja pada kegiatan-kegiatan yang illegal," tuturnya.

Kesadaran Rendah

Hassan mengungkapkan alasan utama para WNI memutuskan untuk bekerja ke luar negeri adalah ekonomi.

ADVERTISEMENT

"Sebenarnya tergantung pada kesadarannya, tapi kadang-kadang mungkin alasan ekonomi," ujarnya.

Ia juga mengatakan ada praktek memalsukan tiket kepulangan. Meski tiket yang dibawa terlihat untuk pulang-pergi, namun sebenarnya tiket itu hanya tiket keberangkatan.

"Kadang-kadang punya round trip ticket. Sebagian diperoleh padahal sesungguhnya tidak. Termasuk misalnya mereka yang berangkat ke Saudi Arabia dengan one-way tiket sebetulnya, tampilannya dia tiket bolak-balik, tapi sampai di sana menghilang, bekerja secara ilegal," lanjutnya.

WNI yang Ngumpet di Kolong Jembatan Arab

Saat berkunjung ke Arab Saudi, Hassan menceritakan pengalamannya mengecek kolong-kolong jembatan. "Di bawah jembatan banyak orang kita tiduran, bawa koper kecil. Mungkin tidak pernah terjadi di tempat lain, tapi terjadi oleh orang kita di Saudi Arabia," ungkapnya.

"Dia mengejar-ngejar polisi supaya ditangkap. Tapi ketika mau dipulangkan oleh KBRI, dia tidak mau. Karena KBRI tahu bahwa mereka sudah bekerja gelap 2-3 tahun, punya uang untuk beli tiket. Jadi dengan dia ditangkap, ditahan di imigrasi, repatriasi, dipulangkan, dengan biaya Saudi,"imbuhnya.

Kerja Sama Antar Negara di ASEAN

Mengenai kasus TPPO di kawasan ASEAN, Hassan menyarankan perlu adanya kesepakatan antar negara. Mengingat tindakan ini tidak hanya merugikan WNI, tapi juga warga negara ASEAN lainnya.

"Apa yang terjadi di Kamboja, di Myanmar, dan bukan hanya warga kita saja kan, warga dari Thailand, Philippines juga. Jadi, itu yang perlu secara politis perlu disepakati," ujarnya.

Wisuda Universitas Prasetiya Mulya Hadirkan Ilmuwan Carina Joe

Wisuda Universitas Prasetiya Mulya menghadirkan Prof (H.C.UA) Carina Citra Dewi Joe, BSc, MSc, PhD sebagai pembicara utama. Ilmuwan Indonesia yang berkontribusi dalam pengembangan vaksin Oxford-AstraZeneca serta penerima Bintang Jasa Utama Republik Indonesia itu menekankan pentingnya lifelong learning sebagai kunci adaptasi di tengah percepatan teknologi. "Di era kecerdasan artifisial yang berkembang sangat cepat, kemampuan untuk terus belajar menjadi kunci utama. AI adalah alat yang sangat kuat, namun dampaknya akan bermakna dan berkelanjutan hanya jika digunakan dengan kreativitas, intuisi, dan tanggung jawab manusia," ujarnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Rektor Universitas Prasetiya Mulya, Dr. Hassan Wirajuda, menegaskan keunggulan lulusan Prasetiya Mulya terletak pada keseimbangan antara
kompetensi teknologi, pemikiran strategis bisnis, dan nilai kemanusiaan. "Kecerdasan artifisial dapat mengoptimalkan proses dan hasil, tetapi tidak dapat menggantikan
makna, empati, dan kebijaksanaan yang lahir dari nurani manusia. Inilah fondasi yang kami bangun dalam pendidikan di Prasetiya Mulya," ungkapnya.

Dalam wisuda tersebut terungkap, sebanyak 28% lulusan Universitas Prasetiya Mulya tercatat telah membangun usaha, baik berupa STEM-driven business maupun traditional business. Selain itu, 40% lulusan telah bekerja di berbagai perusahaan multinasional dan nasional, 5% melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, serta 27% lainnya sedang mengikuti program magang atau berada dalam proses rekrutmen.




(nir/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads