Periset Oxford Bongkar Alasan Hanya Sedikit Perempuan yang Bekerja di Bidang STEM

ADVERTISEMENT

Periset Oxford Bongkar Alasan Hanya Sedikit Perempuan yang Bekerja di Bidang STEM

Nikita Rosa - detikEdu
Senin, 15 Des 2025 19:30 WIB
Carina Joe, Ilmuwan Indonesia dalam Tim Riset Vaksin COVID-19 Oxford University
Carina Joe, Ilmuwan Indonesia dalam Tim Riset Vaksin COVID-19 Oxford University. (Foto: Nikita Rosa/detikedu)
Jakarta -

UNICEF menemukan hanya 31% perempuan yang menekuni bidang STEM hingga menjadi seorang periset. Berbanding jauh dengan laki-laki, apa penyebab di balik fenomena ini?

Periset vaksinCOVID-19 di Oxford University, Carina Joe, mengatakan beberapa kemungkinan rendahnya jumlah perempuan yang berkarier di bidang STEM. Dalam kariernya sebagai peneliti dan dosen, ia melihatpresentase mahasiswa laki-laki dan perempuan awalnya tidak berbanding jauh.

"Sebenarnya di awal kalau mengambil S1 itu rasionya balance. Biasanya mungkin 48% wanita 52% pria. Nah setelah mengambil spesialisasi atau mungkin jurusan yang penting-penting, mungkin posisi yang penting-penting dan lain-lainnya, jumlah wanitanya menipis," jelas Carina kepada detikEdu usai acara wisuda Universitas Prasetiya Mulya di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Banten, mengangkat tema "Thriving Through Lifelong Learning in the AI Era."

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jabatan kepemimpinan seperti pimpinan riset atau profesor akan banyak dipegang oleh laki-laki. Carina berpendapat jika hal ini bisa disebabkan oleh tuntutan dari keluarga. "Karena dari keluarga mungkin wanita di-expect lebih gitu. Setelah mereka punya anak mereka dituntut untuk mengurus anaknya, lebih daripada pria," ujarnya.

"Dan juga mungkin untuk men-support suaminya," imbuh Carina.

ADVERTISEMENT

Kondisi di Indonesia

Carina yang lama berkarier di luar negeri mengatakan hal ini juga mungkin terjadi di Indonesia.

"Mungkin istri setelah berumah tangga di rumah saja karena harus men-support anaknya," ujarnya.

Kendati demikian, Carina menyatakan jika pemerintah sudah mulai mendukung peranan perempuan di tempat kerja. Kantor-kantor kini mulai memberikan kesempatan kepada perempuan yang sudah berkeluarga untuk kembali ke tempat kerja.

"Karena ide-ide mereka kreatif dan inovasi mereka sangat penting," tegasnya.

Cuti Melahirkan

Carina menuturkan jika tempat ia bekerja memberikan cuti melahirkan untuk para perempuan. Para ibu baru ini diberikan waktu bersama anak mereka. "Tidak ada penalti untuk itu. Mereka tetap bisa kembali ke pekerjaannya," jelasnya.

Selain itu, perempuan juga diberikan tunjangan seperti childcare agar mereka bisa kembali bekerja. "Karena populasi wanita 50% di dunia. Kalau ide mereka dan hasil karya mereka tidak terealisasi, itu ya lost untuk mereka, kehilangan inovasi ini, " ujarnya.

"Jadi kontribusi idenya harus balance. Dari pria dan wanita, itu mulai digalakan sekarang," imbuhnya.

Carina Orasi Ilmiah di Wisuda Universitas Prasetiya Mulya

Dalam pidatonya, Carina menekankan pentingnya lifelong learning sebagai kunci adaptasi di tengah percepatan teknologi. "Di era kecerdasan artifisial yang berkembang sangat cepat, kemampuan untuk terus belajar menjadi kunci utama. AI adalah alat yang sangat kuat, namun dampaknya akan bermakna dan berkelanjutan hanya jika digunakan dengan kreativitas, intuisi, dan tanggung jawab manusia," ujarnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Rektor Universitas Prasetiya Mulya, Dr. Hassan Wirajuda, menegaskan keunggulan lulusan Prasetiya Mulya terletak pada keseimbangan antara
kompetensi teknologi, pemikiran strategis bisnis, dan nilai kemanusiaan. "Kecerdasan artifisial dapat mengoptimalkan proses dan hasil, tetapi tidak dapat menggantikan
makna, empati, dan kebijaksanaan yang lahir dari nurani manusia. Inilah fondasi yang kami bangun dalam pendidikan di Prasetiya Mulya," ungkapnya.

Dalam wisuda tersebut terungkap, sebanyak 28% lulusan Universitas Prasetiya Mulya tercatat telah membangun usaha, baik berupa STEM-driven business maupun traditional business. Selain itu, 40% lulusan telah bekerja di berbagai perusahaan multinasional dan nasional, 5% melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, serta 27% lainnya sedang mengikuti program magang atau berada dalam proses rekrutmen.



(nir/faz)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads