Kebaya Diajukan ke UNESCO oleh Negara Lain, Dosen Unair Jelaskan Hal Ini

Kebaya Diajukan ke UNESCO oleh Negara Lain, Dosen Unair Jelaskan Hal Ini

Anisa Rizki Febriani - detikEdu
Minggu, 04 Des 2022 16:00 WIB
Kebaya Khas Indonesia
Foto: Kemenparekraf/ilustrasi kebaya Indonesia
Jakarta -

Beberapa waktu lalu, rencana usulan kebaya sebagai salah satu warisan tak benda The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organizations (UNESCO) oleh Brunei Darussalam, Thailand, Malaysia dan Singapura tuai kontroversi.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Uno turut menanggapi isu tersebut. Ia menegaskan kebaya adalah budaya luhur milik bangsa Indonesia.

Tak sampai disitu, secara resmi Menparekraf memutuskan untuk mendaftarkan kebaya melalui jalur single nomination. Berkaitan dengan hal tersebut, dosen program studi (prodi) Universitas Airlangga (Unair), Moordiati SS MHum memberikan tanggapan.

Menurutnya, keputusan yang diambil oleh pemerintah menjadi langkah yang tepat. Namun, pemerintah harus menjelaskan kembali terkait patron kebaya Indonesia untuk meluruskan kontroversi tersebut, demikian dikutip dari laman resmi kampus pada Minggu (4/12/2022).

Masyarakat Asia Tenggara Tidak Memiliki Gaya Pakaian Khas

Moordiati menuturkan, masyarakat Asia Tenggara tidak memiliki kekhasan dalam berpakaian, tidak ada keunikan tersendiri.

"Kalau kita membaca secara general tulisan Anthony Reid yang berjudul Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680, sebenarnya masyarakat Asia Tenggara itu sama, tidak punya kekhususan atau keunikan dalam cara berpakaian," ungkapnya.

"Tapi ketika Barat masuk, mereka hidup bersama dan berpakaian ala Barat. Kemudian, ada itikad baik dari masyarakat Indonesia untuk memakai pakaian yang mencerminkan locality. Dari sanalah masyarakat Indonesia menampilkan pakaian-pakaian khasnya," lanjut Moordiati.

Terdapat Banyak Jenis Kebaya di Asia Tenggara

Negara-negara yang ada di Asia Tenggara mengenal dan memiliki banyak kebaya, tiap-tiap kebaya memiliki karakteristik yang berbeda. Kebaya Indonesia tentu berbeda dengan kebaya-kebaya di Asia Tenggara lainnya.

Menurut pandangan masyarakat Indonesia, kebaya dipakai pada masa pemerintahan Soeharto. Tidak ada representasi atau identifikasi mengenai keislaman seperti kebaya orang muslim di Malaysia dan Brunei yang bertujuan untuk menutup aurat.

Lebih lanjut Moordiati menguraikan bahwa kegaduhan harus diluruskan dengan cara menjelaskan terkait patron yang disebut kebaya itu seperti apa.

"Jangan digeneralisir karena kita juga mengenal kebaya encim Cina yang itu juga ada di kawasan Malaysia dan Singapura. Artinya, kebaya yang made in Indonesia itu seperti apa, yaitu ada kuduk baru, tidak ada leher shanghai. Pelengkap dari kebaya itu apa, panjangnya berapa," katanya.

Hal-hal itulah yang patut dijelaskan ketika mengusulkan sebagai warisan UNESCO.

Kebaya Diklaim Indonesia Sejak 1964

Pada proses sejarahnya, kebaya telah diklaim oleh bangsa Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Soekarno dalam Kongres Wanita Indonesia tahun 1964 silam.

Soekarno menjelaskan bahwa kebaya merupakan busana nasional Indonesia, tanpa informasi mengenai pelengkap apa pun. Catatan sejarah itu yang perlu Indonesia sampaikan kembali ketika proses pengusulan ke UNESCO.

Moordiati menekankan penjelasan mengenai pelengkap, tipologi, jenis dari kebaya perlu dipaparkan lebih lanjut.

"Meskipun banyak orang mengklaim budaya kita, jika kita berkaca ke sejarah, kita bisa menampilkan karakteristik budaya kita sendiri. Karena yang selama ini kita lihat itu hanya menjelaskan kebaya, tapi what kind of kebaya, itu tidak ada, seperti jenisnya, tipologinya, pelengkapnya. Ini yang perlu dijelaskan lagi oleh pemerintah. Jadi memang perlu ada single nomination," pungkasnya.



Simak Video "Sandiaga Sebut Kasus Video Syur Kebaya Merah Coreng Dunia Perhotelan"
[Gambas:Video 20detik]
(aeb/faz)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia