Sejarah Kebaya yang Diusulkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO

Sejarah Kebaya yang Diusulkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO

Nikita Rosa - detikEdu
Sabtu, 29 Okt 2022 18:00 WIB
FRANCE - CIRCA 1889:  Paris 1889 Worlds Fair. Javaneses. ND-15433.  (Photo by ND/Roger Viollet via Getty Images)
Sejarah Kebaya di Indonesia. (Foto: Roger Viollet via Getty Images/ND)
Jakarta -

Gerakan Kebaya Goes To UNESCO sedang ramai digaungkan. Mulai dari figur publik hingga ibu-ibu rumah tangga menyerukan dukungan kebaya sebagai warisan budaya tak benda.

Direktorat Jenderal Kementerian Pendidikan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah mengadakan pertemuan sosialisasi pendaftaran kebaya ke UNESCO seperti dilansir dari Wolipop Sabtu (29/10). Tak hanya itu, tagar #KebayaGoesToUNESCO juga ramai di Instagram dengan total 12.000 unggahan.

Kebaya sendiri adalah pakaian tradisional Indonesia sejak dahulu kala. Kebaya digunakan oleh perempuan dengan ciri khas bukaan depan, simetris kiri dan kanan, serta berlengan.

Sejarah Kebaya

1. Didatangkan dari Cina

Asal-usul kebaya berasal dari negara Arab dan membawa baju kebaya (yang Arabnya "abaya") ke Nusantara ratusan tahun yang lalu. Namun beberapa sumber meyakini kebaya dibawa dari negara Cina kemudian menyebar ke Malaka, Jawa, Bali, Sumatera, dan Sulawesi seperti dilansir dari buku Pesona Solo oleh Anita Chairul Tanjung.

Setelah penyesuaian budaya yang berlangsung selama ratusan tahun, pakaian itu diterima oleh penduduk setempat.

2. Pakaian Keluarga Kerajaan

Pada abad ke-16, di sekitar Pulau Jawa kebaya menjadi pakaian yang hanya dikenakan oleh golongan keluarga kerajaan di sana. Selama zaman penjajahan Belanda di Pulau jawa, mayoritas perempuan Eropa juga mulai mengenakan kebaya sebagai pakaian resmi.

Dalam sehari-harinya kebaya diubah dari hanya menggunakan barang tenunan mori menggunakan sutera dengan sulaman warna-warni.

3. Muncul Kebaya Panjang dan Pendek

Dalam perkembangannya, kebaya di Jawa terbagi atas kebaya pendek sepinggul dan kebaya panjang selutut. Model kutubaru juga menjadi ciri khas budaya Solo.

Perancang busana Didiet Maulana dalam cuitannya, Senin (21/3/2022) menjelaskan, menurut modelnya secara garis besar, kebaya terbagi atas model Kartini dan kutubaru.

"Kebaya menurut modelnya secara garis besar dibagi menjadi dua, yaitu kebaya Kartini (berpotongan V, model ini sering dipakai oleh Ibu Kartini), dan kebaya kutubaru, [yaitu] kebaya dengan potongan bahan yang menghubungkan sisi kanan dan kiri badan," kata Didiet.

Kebaya pendek dapat dibuat dari berbagai jenis bahan katun dan biasanya tanpa motif atau polos, namun bisa dilengkapi hiasan bordir atau sulam. Seiring waktu, kebaya pendek juga muncul dari bahan sutra, brokat, nilon, lurik, hingga bahan sintetis.

Kebaya panjang, di sisi lain, lebih banyak dibuat dengan bahan beludru, brokat, sutra yang berbunga, dan nilon bersulam. Kain kebaya panjang biasanya digunakan pada upacara pernikahan.

Kebaya masih digunakan sebagai pakaian tradisional di berbagai wilayah di Indonesia hingga saat ini. Adapun jenis-jenis kebaya seperti Kebaya Kartini, Kebaya Kutubaru, Kebaya Krancang, dan Kebaya Noni/Nyonya.



Simak Video "Dua Pemeran Video Kebaya Merah Kini Berbaju Tahanan"
[Gambas:Video 20detik]
(nir/nwy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia