Sejarah Kebaya, Busana RA Kartini hingga Maudy Ayunda

Trisna Wulandari - detikEdu
Senin, 23 Mei 2022 20:00 WIB
Maudy Ayunda
Mengenal sejarah kebaya, pakaian tradisional yang dipakai RA Kartini hingga Maudy Ayunda. Foto: Instagram @maudyayunda
Jakarta -

Sejarah kebaya mengakar sejak sebelum masa penjajahan Belanda. Tokoh emansipasi perempuan di masa kolonial Belanda, RA Kartini hingga perempuan masa kini pun masih menggunakan warisan budaya ini. Salah satunya artis Maudy Ayunda yang tak segan mengenakan kebaya dan kain batik dalam berbagai acara, termasuk wisuda S2 di Stanford University, Amerika Serikat.

Rampung studi S1 di University of Oxford, Inggris jurusan jurusan Philosophy, Politics, and Economic (PPE) pada 2016, Maudy Ayunda meneruskan pendidikan S2 di Stanford University, AS program joint degree administrasi bisnis dan pendidikan.

Di wisuda S2 Stanford University, Maudy Ayunda mengenakan kebaya wisuda rancangan Didiet Maulana berupa kebaya kutubaru warna merah menyala yang diserasikan dengan warna selempang Stanford dan makna semangat kelulusan.

Kebaya wisuda Maudy Ayunda dipakai bersama kain batik babon angrem yang bermakna kasih sayang. Melengkapi look wisuda, Maudy mengenakan kalung berdesain sederhana dan hiasan rambut berwarna emas kuno.

Maudy Ayunda juga mengenakan kebaya tradisional berupa kebaya jambon rancangan Didiet Maulana dalam pernikahan Putri Tanjung pada Maret 2022. Pakaian Maudy terdiri dari kebaya kutubaru merah muda, kain jarit, dan angkin (penutup stagen) merah marun dengan gaya tatanan rambut sasak rendah dan menggunakan sanggul.


Seperti apa sejarah kebaya tradisional di Indonesia?

Sejarah Kebaya, Digemari RA Kartini hingga Maudy Ayunda

Sejumlah catatan sejarah mendapati sejarah kebaya tidak hanya mengakar dari Jawa, tetapi juga di kawasan peradaban Melayu, terutama Indonesia dan Malaysia, seperti dikutip dari Pesona Solo oleh Anita Chairul Tanjung.

Asal kata kebaya yaitu dari kata abaya yang dalam bahasa Arab berarti pakaian. Di Arab, abaya umumnya berbentuk sederhana mirip jubah. Namun, kebaya diyakini datang dari China, lalu menyebar ke Malaka, Sumatra, Jawa, Bali, dan Sulawesi setelah migrasi warga China ke Asia Tenggara.

Di nusantara yang kelak jadi Indonesia, kebaya sebagai atasan dikombinasikan dengan bawahan dari kain khas daerah masing-masing. Contoh, kebaya di Jawa dipadukan dengan kain batik aneka motif.

Sementara itu, kebaya di Sumatra dikenakan dengan kain songket, tenun, dan sutra. Kebaya sendiri umumnya terbuat dari kain tipis, mulai dari katun hingga brokat.

Pakaian Keluarga Kerajaan

Sebelum tahun 1600-an, kebaya belum identik sebagai busana perempuan Jawa. Saat itu, kebaya adalah pakaian yang hanya dikenakan keluarga kerajaan.

Memasuki masa penjajahan Belanda di Jawa, perempuan-perempuan Eropa di Jawa mulai mengenakan kebaya sebagai pakaian resmi. Kebaya mereka saat itu menggunakan bahan kain mori atau sutra dengan sulaman warna-warni.

Muncul Kebaya Panjang dan Pendek

Dalam perkembangannya, kebaya di Jawa terbagi atas kebaya pendek sepinggul dan kepaya panjang selutut. Model kutubaru juga menjadi ciri khas budaya Solo.

Perancang busana Didiet Maulana dalam cuitannya, Senin (21/3/2022) menjelaskan, menurut modelnya secara garis besar, kebaya terbagi atas model Kartini dan kutubaru.

"Kebaya menurut modelnya secara garis besar dibagi menjadi dua, yaitu kebaya Kartini (berpotongan V, model ini sering dipakai oleh Ibu Kartini), dan kebaya kutubaru, [yaitu] kebaya dengan potongan bahan yang menghubungkan sisi kanan dan kiri badan," kata Didiet.

Kebaya pendek dapat dibuat dari berbagai jenis bahan katun dan biasanya tanpa motif atau polos, namun bisa dilengkapi hiasan bordir atau sulam. Seiring waktu, kebaya pendek juga muncul dari bahan sutra, brokat, nilon, lurik, hingga bahan sintetis.

Kebaya panjang, di sisi lain, lebih banyak dibuat dengan bahan beludru, brokat, sutra yang berbunga, dan nilon bersulam. Kain kebaya panjang biasanya digunakan pada upacara pernikahan.

Kebaya Sunda

Kebudayaan China juga memberikan pengaruh pada berkembangnya kebaya Sunda. Dikutip dari Sejarah Perkembangan Budaya Sunda oleh Irma Russanti, S.Pd., M.Ds, garis penutup kebaya Sunda menutup hingga di bawah perut.

Kebaya Sunda dikenakan juga bersama ornamen yang menyimbolkan status sosial. Menak Sunda, contohnya, menggunakan onamen asmen dari emas atau menyerupai warna emas berbentuk flora yang menunjukkan gelar atau kepangkatan seseorang.

Ornamen kebaya dipasang di area penutup hingga area leher belakang serta di sekeliling bagian bawah lengan dan badan kebaya.

Nah, seperti apa asal-usul kebaya di daerah detikers?



Simak Video "Songket Jadi Warisan Budaya Malaysia, Netizen Indonesia Tak Terima"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia