Kikan Cokelat Temukan Jalan Hidup Bermusik Berkat Sekolah-Guru Suportif

Kikan Cokelat Temukan Jalan Hidup Bermusik Berkat Sekolah-Guru Suportif

Trisna Wulandari - detikEdu
Minggu, 27 Nov 2022 10:00 WIB
Band Cokelat.
Band Cokelat. Kikan Cokelat ceritakan guru-guru dan sekolah yang mendukungnya bermusik sejak SMA.
Jakarta -

Bagi Namara Surtikanti alias Kikan Cokelat, masa SMA adalah salah satu masa tidak terlupakan. Selain bisa aktif basket, cheerleaders, dan band, sekolah pun baginya mendukung untuk mengembangkan minat dan bakatnya. Proses tersebut mengantarkannya hidup dari musik seperti hari ini.

"Momen-momen di mana kita manggung buat perpisahan, atau buat pensi (pentas seni) sekolah lain, itu aku merasa cikal bakalnya hari ini jadi musisi gitu ya," kata vokalis band Cokelat ini.

"Kalau enggak pernah melewati masa-masa itu, aku juga enggak pernah sadar bahwa minat dan ketertarikanku di musik itu sangat besar dan akhirnya malah hari ini benar-benar hidup dari musik. Jadi aku rasa, itu one of the best things lah yang pernah terjadi di dalam hidupku sepanjang sekolah," sambungnya.

Alumnus SMA Charitas Jakarta ini menuturkan, baik guru, sistem, dan metode pembelajaran semasa sekolah memungkinkan ia dan siswa lain tidak hanya menghabiskan waktu di kelas dan di bidang akademis.

Kikan mengingat, ada banyak waktu yang disediakan bagi siswa untuk ikut ekstrakurikuler agar potensi siswa terasah, berprestasi, dan berani menjajaki ajang-ajang kompetisi.


"Guru sangat merangkul. Sekolah sangat open. Kalau mau latihan di sekolah, disediakan slot waktunya latihan di luar jam pelajaran. Menurutku, sebagai siswa, aku jadi merasa di-support dan tidak dihalang-halangi," tuturnya.

"Jadi menurutku, itu malah bentuk support yang sangat besar dan buatku jadi motivasi, 'ini sudah disediakan waktu, disediakan tempat, kita enggak bisa gitu-gitu aja. jadi sebaiknya kita berprestasi juga'," sambung Kikan.

Ia bercerita, para guru di masa SMA punya ciri khas yang membuatnya hormat dan terus teringat.

"Guru-guru di SMA-ku sangat berkarakter, hahahaha. Sampai saat ini yang aku nggak akan bisa lupa itu guru olahraga, Pak Dibyo--Pak Sudibyo. Itu guru olahraga aku. Ada juga guru biologi, Pak Robert, sangat membekas. Galak banget. Pak Listyo, guru matematika. Itu juga masih teringat," katanya mengenang.

"Memori-memori itu masih diingat banget, dan sekarang baru bisa paham kenapa ya dulu begitu, misalnya galak, hahaha, setelah punya anak yang sudah beranjak dewasa juga," imbuh Kikan.

Kikan menuturkan, guru olahraganya, Pak Dibyo, punya ciri khas komunikasi yang lebih terbuka. Sebagai guru olahraga, ia banyak mengajar dengan praktik di luar kelas ketimbang teori.

"Jadi sistem approaching-nya lebih menyenangkan buat kami, sabar juga, yang di waktu bersamaan juga memecut semangat kami," kata Kikan.

"Misal pas ambil nilai lompat jauh atau lompat tinggi, dia akan bilang, ayo dong jangan mau kalah sama yang lain, tetapi dia nggak dalam artian membanding-bandingkan sama yang lain. Jadi sangat menyenangkan kelasnya itu," kisahnya.

Kreativitas para guru di tengah keterbatasan, baik dalam menciptakan inovasi dan pendekatan agar siswa senang belajar, baginya perlu menjadi concern bersama.

"Buatku, segala bentuk kreativitas, yang lahir dari kondisi keterbatasan, merupakan sesuatu yang tidak ternilai harganya. Guru, sebagai insan yang pengabdiannya seumur hidup, pekerjaannya sangat mulia. Dalam keterbatasannya, dia melahirkan inovasi, sistem, atau metode tersendiri mengakali keterbatasan itu," ucapnya.

"Itu jadi satu hal yang perlu jadi concern bersama. Dari keterbatasan ini aja, mereka bisa mengajar. Buatku ini harus jadi perhatian khusus dari pemerintah, siapa pun, di mana pun, agar sistem belajar-mengajar di Indonesia bisa tetap maksimal," tegasnya.

Ia menggarisbawahi, harapannya, dari guru yang berinovasi, akan melahirkan juga siswa yang kritis dan mampu mencari solusi masalah Indonesia.

"Guru yang berinovasi akan melahirkan anak-anak, murid-murid, yang menjadi kreatif juga ke depannya, punya kemampuan problem solving yang baik. Artinya, tidak begitu saja menyerah pada keadaan, bagaimana critical thinking itu dibangun dan menjadikan anak Indonesia sebagai anak kreatif," pungkasnya.



Simak Video "Penampilan Cokelat Buka Panggung Konser Sheila On 7 di Jakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/nwk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia