Mahasiswa UNS dan Warga Karanganyar Kembangkan Bisnis Jamur

Devi Setya - detikEdu
Sabtu, 23 Jul 2022 10:00 WIB
Mahasiswa UNS dan Warga Karanganyar Kembangkan Bisnis Jamur
Mahasiswa UNS Kembangkan Bisnis Jamur Foto: Humas UNS
Jakarta -

Desa Jatirejo, Kecamatan Jumapolo, Kabupaten Karanganyar sudah lama dikenal sebagai salah satu sentra penghasil jamur. Kini, warga kian ahli dalam mengolah jamur setelah berbisnis bersama mahasiswa UNS.

Mahasiswa Program Studi (Prodi) Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Fatata A'izza Rosyada merintis usaha Jatirejo Jamur atau yang disingkat dengan Jare Jamur. Usaha ini berawal dari skema bentuk pengabdian masyarakat bidang social entrepreneurship.

Tak disangka, bisnis jamur ini sekarang justru berkembang pesat dan bisa membantu meningkatkan penghasilan masyarakat sekitar. Pada dasarnya, daerah ini memang dikenal sebagai sentra penghasil jamur. Namun, pemanfaatannya belum maksimal.

Dilansir dari laman resmi UNS (22/7), Fatata menceritakan, perintisan bisnis ini berawal dari kegiatan kemahasiswaan yang sering dilakukan Himpunan Mahasiswa Matematika (Himatika) FMIPA UNS. Di kegiatan pemberdayaan masyarakat tersebut, ia memutuskan untuk berkegiatan di Desa Jatirejo, Kecamatan Jumapolo, Kabupaten Karanganyar.

"Kami melihat Desa Jatirejo memiliki potensi budidaya jamur yang besar. Bahkan per bulannya bisa menghasilkan 3-5 ton jamur per bulan, baik jamur tiram atau jamur kuping. Namun sayangnya, hasil produksi jamur yang dipanen belum bisa dimaksimalkan oleh masyarakat desa, kata Fatata.

"Hal ini karena keterbatasan akses teknologi dan akses pasar. Maka melihat permasalahan tersebut, kami berupaya membantu masyarakat Desa Jatirejo dalam meningkatkan pengolahan pasca panen jamur," sambungnya.

Pemberdayaan masyarakat yang dilakukan Fatata ini berfokus pada peningkatan nilai ekonomi jamur pasca panen. Jenis jamur yang dihasilkan dari desa ini terbilang banyak, mulai dari jamur tiram hingga jamur kuping. Aneka jamur ini tersedia dalam keadaan basah maupun kering.

Kisah Bisnis Jamur Warga Karanganyar dan Mahasiswa UNS

Miris dengan petani jamur yang terkena dampak COVID-19

Selama pandemi COVID-19, Fatata mengatakan, banyak petani jamur di Desa Jatirejo yang penghasilannya menurun. Permintaan pasar terutama pada jamur tiram juga cenderung turun.

"Melihat hal ini, kita tertarik untuk membantu menyiasati hal tersebut," ujar Fatata.

Gadis yang juga menjadi semi-finalist di IdeaNation Innovation Competition tahun 2019 ini menambahkan bahwa selama ia bersama tim berada di Desa Jatirejo, banyak petani jamur yang menjual jamurnya secara mentah. Padahal sebenarnya, jamur ini bisa diolah menjadi produk konsumsi sehingga meningkatkan nilai jualnya.

Jamur yang diolah dalam keadaan setengah matang atau matang, akan memiliki masa simpan yang lebih lama sehingga bisa awet. Hal ini berpengaruh pada faktor pemasaran yang bisa terbuka lebih luas.

Melakukan konsultasi dengan dosen pembimbing

Demi bisa mewujudkan niat baiknya, Fatata melakukan konsultasi dengan dosen pembimbing. Bak gayung bersambut, sang dosen menawarkan program yang bisa diterapkan di desa penghasil jamur ini.

"Dari sekitar bulan April - Mei kita konsultasi bersama dosen pendamping dan ternyata ada Program Holistik Pembinaan dan Pemberdayaan Desa (PHP2D). Selanjutnya kita rancang skema kegiatan yang akan kita bawa ke masyarakat di desa tersebut," terang Fatata.

"Dari hasil survei di lapangan, ternyata memang benar bahwa potensi jamur di Desa Jatirejo sangat melimpah, tapi untuk pemasaran masih terbatas. Setelah dilakukan survei pula, kita juga berinisiasi untuk mengolah produk jamur menjadi makanan," sambungnya.

Fatata tidak sendiri, ia bersama timnya juga memberikan penanganan terhadap limbah baglog jamur supaya tidak mencemari lingkungan. Sebelumnya, limbah baglog jamur hanya dibuang secara sia-sia.

Merintis Jare Jamur

Fatata dan timnya lantas mulai merintis usaha Jare Jamur pada Juli 2021. Nama ini dipilih dari bahasa Jawa. Kata jare yang bermakna "katanya", jadi Jare Janur artinya "katanya jamur".

"Kita pilih singkatan yang unik agar pas orang baca itu ada proses berpikir dan akhirnya terkenang nama produk tersebut," imbuh Fatata.

Diakui Fatata, sekilas produk olahan Jare Jamur ini memiliki kesamaan dengan produk jamur yang lain. Namun, yang membedakannya adalah produk Jare Jamur telah bekerja sama dengan petani lokal dan ibu-ibu di Desa Jatirejo.

"Produk ini juga punya cita rasa produk yang khas, murah, dan enak, serta tentunya awet tanpa bahan pengawet. Dengan membeli produk Jare Jamur, konsumen juga ikut membantu memberdayakan petani dan masyarakat di Desa Jatirejo," kata Fatata.

Saat ini, produk olahan Jare Jamur terdiri dari makanan siap santap yaitu jamur tiram crispy dan jamur kuping crispy. Selain itu, juga ada nugget jamur, serta jamur cireng rujak dalam bentuk frozen.

Banyak suka duka yang dialami Fatata maupun masyarakat desa. Namun, ia berpesan untuk terus bergerak, terus evaluasi, serta terus belajar dari siapa pun, kapan pun, dan di mana pun.



Simak Video "Kebakaran di UNS Solo, Mahasiswa Dievakuasi dari Jendela"
[Gambas:Video 20detik]
(dvs/twu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia