Kisah Cetha, Tunanetra yang Raih Beasiswa S2 Australia Sisihkan Ribuan Pendaftar

Kristina - detikEdu
Rabu, 22 Jun 2022 11:30 WIB
Cetha Nilawaty, tunanetra yang berhasil lolos beasiswa S2 di Australia menyisihkan ribuan pendaftar.
Cetha Nilawaty, tunanetra yang berhasil lolos beasiswa S2 di Australia menyisihkan ribuan pendaftar. Foto: Facebook/Cetha Nilawaty
Jakarta -

Ilmu yang bermanfaat akan menjadi salah satu amalan yang tidak terputus meskipun nyawa telah meninggalkan jasad. Begitulah filosofi seorang Cheta Nilawaty.

Meski memiliki keterbatasan karena dinyatakan tunanetara saat berusia 34 tahun tak menyurutkan semangat Cheta untuk belajar. Bahkan meski harus ke negeri seberang. Cheta yang kini berusia 40 tahun berkesempatan mendapatkan beasiswa S2 dari Australia Awards Scholarships. Usia yang terbilang tidak lagi muda untuk ukuran mahasiswa pada umumnya.

Dulu Cheta bukanlah penyandang disabilitas hingga ia berusia 34 tahun. Namun, takdir menggariskannya menjadi tunanetra setelah ia mengalami ablasio retina atau sobeknya retina. Kejadian ini berlangsung pada 2016 lalu.

Cheta menamatkan studi S1 di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran (Unpad) pada 2005 silam. Setelah lulus, ia sempat bekerja di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Pernah juga ia bekerja sebagai customer service di Citibank.

Hingga sekitar akhir 2006 awal 2007 ia mengikuti seleksi di Tempo dan diterima sebagai jurnalis sejak 2007 hingga sekarang.

"Selama 2007 sampai 2022 ini saya belum pernah sekolah lagi jadi ini saya S2, master. Saya memulainya di usia yang cukup tua, sekarang saya masuk usia 40 tahun," cerita Cetha kepada detikEdu, Senin (20/6/2022).

Keinginan Cetha untuk studi lanjut memang sudah ada sejak dulu. Ia memutuskan untuk mencari beasiswa karena keterbatasan ekonomi. Ia mulai berburu beasiswa sejak ia masih bisa melihat.

Melepas Beasiswa Pemerintah Korea Demi Rawat Sang Ibu

Pada 2012 Cetha lolos seleksi beasiswa dari pemerintah Korea, Korean Government Scholarship Program (KGSP). Namun, kesempatan tersebut tidak diambil karena pada waktu yang bersamaan ibunya sakit.

Sebagai anak tunggal, Cetha lantas memilih untuk melepas beasiswa studi di Korea dan merawat sang ibu meskipun awalnya sempat dilema. Waktu itu, ia juga harus mengembalikan stipend living yang sudah diberikan sebesar Rp 5 juta.

"Tentu saya milih jaga ibu saya karena ibu saya nggak bisa diulang ya. Tapi kalau masa muda, cita-cita masa muda insya Allah kalau masih semangat pas udah tua itu masih bisa dikejar," ucapnya.

Dinyatakan buta total>>>

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia