Jatuh Bangun Dosen UM Surabaya Raih Beasiswa, Ditolak 12 Kali & Kini Lolos S3

Nikita Rosa - detikEdu
Jumat, 17 Jun 2022 18:00 WIB
Dosen UM Surabaya peraih beasiswa S3 di Eropa
Foto: Dosen UM Surabaya peraih beasiswa S3 di Eropa/Dok. UM Surabaya
Jakarta -

Achmad Hidayatullah tidak lahir dari keluarga akademisi. Kisah inspiratifnya berawal di Panti Asuhan Muhammadiyah Sumenep.

Dalam wawancara dengan Universitas Muhammadiyah Surabaya, Ahmad menjelaskan kedua orang tuanya adalah seorang petani. Semasa kecil ia sering membantu bapaknya mencangkul.

Karena keterbatasan ekonomi, Dayat memutuskan tinggal di Panti Asuhan sejak SMP hingga SMA. Ia memutuskan untuk tinggal di sana agar bisa bersekolah secara gratis.

Dayat menjelaskan bahwa di panti ia tak bisa hidup mewah seperti anak-anak pada umumnya. Bahkan hanya sekadar untuk membeli jajan saat waktu istirahat ia tak bisa, karena di panti tidak menyediakan uang saku.

"Bersyukur saya pernah ditempa di panti. Saya belajar disiplin, menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Belajar ilmu agama secara mendalam dan yang terpenting saya bisa bersekolah," jelas Dayat dikutip dari laman UM Surabaya.

Pernah Jualan Empek-empek hingga Cleaning Service di Apotek

Saat memutuskan kuliah di Surabaya hidupnya tidak langsung mudah. Menurutnya, pada saat itu universitas di Indonesia belum menyediakan beasiswa bidikmisi seperti saat ini. Kalau di kampus ada beasiswa BBM dan PPM, Dayat selalu gagal.

"Dulu saat masuk kuliah dibantu panti. Tapi untuk biaya makan saya tetap sulit. Waktu itu harga sayur satu plastik Rp 500-1.000. Setiap hari saya makan seadanya," terang Dayat.

Dayat juga sering membeli tempe dan dimakan mentah untuk lauk.

"Pernah sehari baru bisa makan jam 12 malam karena benar-benar tidak ada uang waktu itu. Pernah juga saya satu minggu lauknya ikan kering karena diberi teman," imbuhnya.

Karena keterbatasan ekonomi yang dialaminya, Dayat memutuskan untuk berkuliah sambil bekerja. Ia bekerja sebagai penjual empek-empek hingga menjadi cleaning service.

14 Kali Gagal Ditolak Kampus Luar Negeri

Menurut Dayat sebelum ia diterima di University Of Szeged Hungary ia sempat ditolak belasan kampus luar negeri. Pada percobaan kampus ke-13 dan 14 ia dinyatakan lolos. Ia menjelaskan kegagalan yang ia alami hampir membuatnya stres dan putus asa.

"Saya sempat frustasi karena tidak lolos-lolos study. Saya menyendiri mencari tempat sepi dan menghindari keramaian," ujarnya.

Dayat menjelaskan ia sudah memutuskan untuk studi di dalam negeri jika usahanya ke-12 gagal. Namun berkat kerja kerasnya ia diterima di dua kampus luar negeri yakni National Dong Hwa University Taiwan dan University Of Szeged Hungria. Namun ia memutuskan mengambil universitas di Hungaria dengan beasiswa.

Itulah cerita inspiratif Ahmad dari berjuang di panti hingga mendapat beasiswa S3. Inspiratif banget ya, detikers!



Simak Video "Moorissa Tjokro: Berpikir Kritis Jadi Keterampilan yang Wajib Diasah"
[Gambas:Video 20detik]
(nwy/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia