Mahasiswa ITB Ciptakan Alat Deteksi Stres Lewat Urine, Akurat Hingga 90%

Nikita Rosa - detikEdu
Sabtu, 23 Apr 2022 13:00 WIB
Ilustrasi wanita stres atau pegang ponsel
ITB ciptakan alat pendeteksi stres melalui urine. Foto: Getty Images/iStockphoto/AntonioGuillem
Jakarta -

Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) menciptakan alat deteksi stres lewat urine. Inovasi ini berangkat dari permasalahan stres yang dialami setiap orang.

Tergabung dalan kelompok Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) Karsa Cipta, Maha Yudha Samawi (Biologi, 2019) Alifia Zahratul Ilmi (Teknik Biomedis, 2019) dan Gardin Muhammad Andika Saputra (Teknik Material, 2019) membuat sebuah alat deteksi dini sederhana gejala stres berdasarkan pemeriksaan urine yang diberi nama "Depression Test".

Gardin menjelaskan bahwa orang yang mengalami stres pastinya akan mengalami perubahan konsentrasi pada beberapa zat dalam urine mereka.

"Jadi kami memanfaatkan fase ini. Karena senyawa-senyawanya mengalami perubahan karakter spesifik kalau sudah dikasih sinyal. Dari sana, kami bisa mendeteksi orang yang mengikuti percobaan ini sudah sampai tahap depresi atau belum," jelas Gardin dalam laman resmi ITB, Kamis (21/4/2022).

Inovasi ini bermula dari pengembangan tugas yang dikerjakan Yudha, sang ketua kelompok, saat menjalani Tahap Persiapan Bersama (TPB) di SITH ITB. Yudha kemudian mengajak teman-temannya dan membuat proposal di masa TPB.

Namun, terdapat berbagai kendala dalam perancangan alat ini. Pengembangan alat baru bisa dibuat saat tahun kedua perkuliahan yang di mana waktu tersebut banyak diisi oleh kegiatan orientasi atau ospek jurusan.

Selain itu, mereka juga merasa saat itu wawasan yang mereka miliki masih dasar. Ditambah dengan masa pandemi membuat kegiatan ini tak bisa dilakukan di laboratorium yang akhirnya menghambat proses pengambilan data dan analisis.

Syukurnya, kendala dapat dilewati dengan kerja sama dan koordinasi. Mereka menyempatkan waktu untuk melakukan diskusi, menguatkan komitmen, mengatur skala prioritas, dan mengetahui sistem kerja di jurusan kuliah masing-masing untuk dapat mengatur waktu.

Selain itu, pembagian tugas yang efisien juga menjadi kunci sukses pengembangan alat ini. Pembagian tugas yang diterapkan di kelompok ini berdasarkan dari jurusan kuliah setiap anggotanya.

Yudha bertugas untuk membuat planning dan mengatur urusan sumber daya. Gardin bertugas untuk urusan administrasi dan pembuatan laporan. Sementara Alifia dari Teknik Biomedis bertugas untuk membuat desain arduino, desain grafis, dan presentasi.

Hasilnya, alat yang pendeteksi stres ini memiliki akurasi di angka 90 persen. Hasil alat ini dikalibrasi dengan tes BDI (Beck Depression Inventory) yang saat ini umum digunakan di kedokteran jiwa. Sehingga terdapat 3 level penderita depresi, yakni rendah, sedang, dan berat.

Kelompok PKM ITB ini berharap, inovasi yang mereka ciptakan bisa bermanfaat bagi banyak orang di masa depan.

"Kami berharap alat ini akan ada disetiap fasilitas kesehatan indonesia. Jadi orang yang memiliki masalah mental jadi lebih mudah untuk mengatasi dan menanggulanginya sehingga orang tersebut tidak perlu melalui berbagai hal rumit yang menghambat kesembuhannya," tegas Gardin.

Simak juga 'Saat Kolaborasi Kampus ITS-ITB Daftarkan Paten Mobil Listrik, Ini Bentuknya':

[Gambas:Video 20detik]



(lus/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia