Franka Makarim: Anak Perempuan Rentan Alami Kekerasan di Lingkungan Sekolah

Nikita Rosa - detikEdu
Selasa, 08 Mar 2022 21:16 WIB
Anting Franka Makarim
Foto: Instagram/@ferryfahrizal
Jakarta -

Istri Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Franka Makarim selaku Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemendikbudristek, mengatakan anak perempuan rentan mengalami kekerasan di lingkungan sekolah. Franka mengatakan bahwa anak-anak perempuan rentan mengalami kekerasan dengan berbagai bentuk.

"Anak-anak perempuan rentan mengalami kekerasan. Dari kata-kata hingga seksual di lingkungan sekolah, di berbagai fase kehidupan dengan berbagai cara," ujar Franka dalam webinar Hari Perempuan Internasional 2022 oleh Kemdikbudristek yang diselenggarakan secara daring, Selasa (8/3/2022).

Lulusan Northumbria University ini menambahkan bahwa kekerasan tersebut tidak dapat dibenarkan atau dianggap remeh. Hal itu sangat berdampak pada anak.

"Tidak boleh dianggap remeh, dijustifikasi, karena dampak ini akan bertahan seumur hidup," kata Franka.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kemendikbudristek Suharti mengatakan, kekerasan akan terus berlangsung karena korban merasa tidak ada ruang aman bagi mereka. Menurutnya, korban merasa takut melapor karena khawatir mendapat hal-hal yang tidak diinginkan.

Suharti juga menjelaskan bahwa dalam Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia, ditemukan kekerasan yang terjadi di Indonesia karena pemikiran yang salah.

"Kekerasan yang diterima ada verbal hingga kekerasan fisik, seringnya terjadi di konteks pendidikan. Banyak kekerasan yang dianggap kenakalan biasa. Kenakalan anak-anak yang sering terjadi. Bukannya diproses (tapi) dianggap bahwa itu cuma biasa, itu lumrah, membully teman-temannya. Ini yang perlu kita ubah," katanya.

Suharti juga menjelaskan trauma yang dialami korban sangat besar. Bahkan menyebabkan korban putus sekolah karena merasa malu dan takut.

Dalam hal ini, Kemendikbudristek telah mengeluarkan Permenristekdikbud No. 30 tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi untuk menangani kasus kekerasan seksual dalam perguruan tinggi. Langkah ini diambil agar kasus kekerasan seksual dapat ditekan dan tersedianya ruang aman bagi korban.

Di tempat yang sama, Putu Andani, Psikolog dan Co-Founder dari TigaGenerasi menjelaskan peran orang tua dan sekolah dalam membantu korban kekerasan seksual.

"Misal kena kekerasan fisik dan verbal cuma ke psikolog saja. Tapi semua pihak yang menjadi support system anak harus membantu. Orang tua pendampingan sehari-hari, dibawa konseling juga, dan kerja sama dengan pihak sekolah," kata Putu.

Webinar Hari Perempuan Internasional diadakan untuk merayakan Hari Perempuan Internasional. Tahun ini, tema yang diangkat adalah #BeraniBantuBeraniBicara untuk membantu perempuan agar berani mengungkapkan pikiran dan berkembang di bidang yang digeluti.



Simak Video "Respons Masyarakat Tentang Kebijakan Kemendikbudristek"
[Gambas:Video 20detik]
(nwy/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia