Harga Kerbau di Toraja Bisa Capai Miliaran Rupiah, Ini Kata Guru Besar IPB

Anatasia Anjani - detikEdu
Rabu, 19 Jan 2022 15:00 WIB
Di Toraja ada pasar khusus hewan yang terletak di sebuah pasar Bolu, kabupaten Toraja Utara.
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Tana Toraja memiliki kebudayaan khas yang berhubungan dengan kerbau. Kepercayaan dan kebudayaan itu telah diwariskan secara turun-menurun. Kerbau yang dimaksud adalah kerbau belang.

Menurut Guru Besar Pemuliaan dan Genetika, Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB), Ronny Rachman Noor, kerbau belang di Tana Toraja tidak hanya melambangkan kesejahteraan pemiliknya. Melainkan juga digunakan untuk upacara pemakaman Rambu Solo.

Dalam upacara tersebut, kerbau dikorbankan dalam ritual pemakaman. Semakin banyak kerbau yang dikorbankan maka semakin baik kehidupan mendiang di alam baka. Hal tersebutlah yang membuat harga kerbau belang itu mahal.

"Oleh sebab itu harga seekor kerbau belang berkisar antara ratusan juta sampai 1 miliar rupiah dan sangat tergantung pada pola warna kerbau belang ini," ujar Ronny yang dikutip dari laman IPB, Rabu (19/1/2022).

Kerbau belang juga memiliki pola warna yang beragam dan pola tersebut memiliki nama sendiri. Salah satu pola warna yang paling penting dan berharga adalah Tedong Bonga Saleko.

"Kerbau belang yang masuk kategori Tedong Bonga Saleko memiliki warna dasar hitam dengan corak warna putih dengan ciri khas pola tertentu. Jarangnya kemunculan kerbau belang dengan pola warna ini membuat harga seekor Tedong Bonga Saleko dapat mencapai 1 miliar rupiah," kata Ronny.

Untuk itu tim dari IPB, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Swedish Agriculture University (Swedia) dan Uppsala University (Swedia) melakukan penelitian untuk mengungkap pola warna yang unik pada kerbau belang itu.

Ronny bercerita melakukan penelitian ini bukan perihal mudah karena kerbau belang dianggap sebagai hewan yang sakral. Akhirnya setelah bernegosiasi dengan masyarakat, tim IPB diperbolehkan melakukan penelitian.

"Setelah melakukan kesepakatan dengan tetua dan masyarakat adat, tim peneliti ini diizinkan untuk mengambil sperma kerbau belang yang telah dikorbankan dalam upacara dan diambil dari saluran epididymis. Walaupun kerbau sudah mati, sperma masih dapat hidup dan bertahan di saluran epididymis selama beberapa saat," ujar Ronny.

Dengan menggunakan teknik tersebut diharapkan populasi kerbau belang dapat bertambah dan terjaga kelestariannya. Selain itu dari penelitian itu juga ditemukan adanya mutasi DNA di gen MITF yang menjadi penyebab adanya pola belang.

"Ke depan, embrio kerbau belang yang memiliki mutasi sangat spesifik ini dapat dikembangkan untuk memperbanyak populasi kerbau belang jika pada suatu saat nanti kerbau belang Toraja statusnya langka dan hampir punah," kata Ronny.

Ronny juga berpendapat dengan mengetahui penyebab dan mekanisme warna belang pada kerbau belang Toraja dapat dilestarikan dengan baik. Ia juga mengatakan gen yang dimiliki kerbau belang merupakan salah satu plasma nutfah khas Indonesia.



Simak Video "Tradisi Tangkap Ikan, Bentuk Ucap Syukur Warga Toraja Atas Hasil Panen"
[Gambas:Video 20detik]
(atj/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia