Mengangkat Anak Jalanan Lewat Pendidikan, Ini Cerita Sanggar Senja

Trisna Wulandari - detikEdu
Minggu, 12 Des 2021 18:00 WIB
Adi bersama anak-anak Sanggar Senja
Adi bersama anak-anak Sanggar Senja. Foto: Dok. Adi Supriyadi
Jakarta -

Identitas kerap kali menjadi masalah ketika masuk sekolah. Tidak punya Kartu Keluarga dan akte kelahiran bisa menyulitkan pendaftaran. Di samping itu, anak jalanan terkadang juga ditolak pihak sekolah karena berbagai stigma.

Bagi anak jalanan, masalah administratif dan stigma tersebut menjadi hambatan untuk bisa mengenyam pendidikan, lebih-lebih memenuhi wajib belajar 12 tahun.

Kendala ini yang berupaya diatasi Yayasan Secerah Anak Negeri Jaya (Senja), yang dikenal sebagai Sanggar Senja. Pendiri yayasan, Adi Supriyadi menuturkan, sanggar yang dirintis sejak 29 Juli 2011 ini menjadi wadah bagi anak-anak jalanan, terlantar, dan kaum marjinal untuk menjemput pendidikan.

"Karena mereka rentan dengan pendidikan, tidak seperti anak-anak pada umumnya yang mempunyai keluarga pada umumnya, punya KK, identitas, KTP, NIK dan kartu kelahiran," kata Adi dalam rangkaian kegiatan Fellowship Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan dan Paragon Innovation and Technology, ditulis Minggu (12/12/2021).

Pendidikan untuk Anak Jalanan

Sekolah Swasta

Adi menuturkan, per 2018, Sanggar Senja sudah membebaskan akte kelahiran 120 anak jalanan. Sebagian mengatasnamakan anak ibu, sebagian lagi anak Negara. Sebanyak 50 anak Sanggar Senja mengenyam pendidikan formal di sekolah. Sementara itu, anak-anak putus sekolah melanjutkan pendidikan paket A, B, dan C.

Ia mengaku, memang tidak mudah bagi anak-anak untuk bisa mengenyam pendidikan formal di sekolah. Syarat administratif seperti NIK untuk terdaftar di Data Pokok Kependidikan (Dapodik), kata Adi, lebih sulit terpenuhi ketimbang mengurus pendidikan anak yatim. Ketiadaan database anak, sambungnya, disiasati Sanggar Senja dengan mendaftarkan anak-anak ke sekolah swasta.

"Karena mereka tidak mempunyai database, jadi jaminannya antara saya dengan yang punya yayasan (sekolah swasta). Dalam 5-10 tahun ke depan, saya harus menerbitkan database NIK dan akte kelahiran anak-anak yang sudah bersekolah di sekolah swasta," tutur Adi.

Membangun Identitas

Adi mengaku, anak-anak jalanan sering ditolak masuk sekolah karena berbagai stigma yang muncul dari identitas dan usia.

"(Padahal) wajib 12 tahun, tapi anak sering ditolak masuk sekolah karena banyak alasan: ketuaan, dan membuat profil sekolah kurang bagus," kata Adi.

Identitas anak, kata Adi, lantas dibangun di Sanggar Senja. Selepas belajar, anak-anak Sanggar bisa belajar bermusik di studio, pencak silat, dan pengajian bagi yang muslim.

"Jadi kita ajarkan akhlak, moral, kasih sayang, NKRI, bahwa kita di Indonesia. Kita tanamkan nilai perjuangan, nasionalisme, Allah. Jadi mereka harus punya toleransi pada semua agama, karena kita bukan negara satu agama. Kita berbeda-beda bangsa, suku, budaya, bhineka tunggal ika," jelas Adi.

"Kita ajarkan welas sih dan damai, tidak ikut-ikutan berantem dan provokasi, jadi saling merangkul. Walaupun tidak ada pelajaran PMP, tetap kita tanamkan hak dan kewajiban mereka sebagai warga negara," imbuhnya.

Anak-Anak Senja

Setiap anak di Sanggar Senja punya kisah berbeda-beda. Adi menuturkan, beberapa anak anak di antaranya menjadi korban perdagangan anak dan terlantar. Ada juga mengalami kekerasan dan dipaksa menjadi pengemis. Anak-anak yang ditemuinya tidur di depan toko dan terminal tersebut, kata Adi untuk pindah ke Sanggar Senja.

Dari sekitar 130 anak yang dibina, 22 di antaranya tinggal di Panti Asuhan Sanggar Senja.

"Ada juga yang kabur-kaburan, angkanya tidak tetap. Yang tinggal (di panti) itu yang mau mengikuti kegiatan salat, mengaji, dan aktivitas lain. Makan, minum sekolah, insyaallah kita bayarin. Kalau yang di luar (tidak di panti), belajar saja. Kalau mereka mau kemari dan belajar, alhamdulillah," tuturnya.

Sinergi

Adi menuturkan, dirinya semula membiayai Sanggar Senja dari penghasilan sebagai musisi dan pemilik studio musik. Hasil manggung, sewa studio, sewa sound system, jasa bikin lagu, lipsync, dan pembuatan jingle, sambungnya, bisa bantu menambah dana untuk Sanggar. Di panggung, tidak jarang ia juga memperkenalkan sanggarnya.

"Ketika saya nyanyi di panggung saya perkenalkan sanggar saya. Alhamdulillah mereka datang kasih beras dan baju bekas," tuturnya.

"Kalau ada orang wedding sewa sound system dari saya, lalu pemainnya pengamen, saya pakaikan baju. Kalau disuruh panggung, (harus) dibayar. Saya biasakan biar enggak ngamen terus di jalan," imbuhnya.

Untuk mendidik dan mengasuh anak-anak, Adi juga berkolaborasi dengan berbagai relawan dan kontributor. Relawan dari Bogor, salah satunya, menjadi tutor dan mengajar anak-anak selepas sekolah bersama Adi.

Sementara itu, kerjasama dengan Paragon Innovation and Technology, sambungnya, memungkinkan panti yang semula mengontrak kini punya tempat sendiri.

"Saya butuh dukungan untuk mengurangi populasi anak jalanan, supaya mereka tidak dekat dengan kriminal di jalan: Insyaallah kalau mereka punya ilmu, dan kita dampingi dengan benar," ucapnya.

Suci Hendrina, Head of CSR and Corporate Communication Paragon Innovation and Technology menuturkan, ia semula mendapat informasi tentang Sanggar Senja dari karyawan Paragon yang mengenal kiprah sanggar ini. Dari pertemuan dengan anak-anak di Sanggar, tuturnya, mereka di antaranya kembali untuk berbagi cerita.

"Kita sangat senang sekali, banyak juga adik-adik yang sudah hafal dengan kakak-kakak Paragonian (karyawan Paragon). Dan mudah-mudahan interaksi itu bisa membangun semacam motivasi bahwa adik-adik bisa seperti kakak-kakak," kata Suci.

Evelyn, salah satu anak Sanggar Senja menuturkan, dirinya berharap bisa jadi orang sukses saat dewasa. "Biar jadi kaya, supaya bisa bantu adik-adik yang lain di sini," kata siswa sekolah kelas 6 SD yang menginjak usia 11 tahun ini.

Sementara itu Mando, anak laki-laki di Sanggar Senja menuturkan, ia bercita-cita jadi tentara kelak saat dewasa. "Mau membela negara," tutur anak 10 tahun ini.



Simak Video "Hotel di Polandia Tampung Ratusan Pengungsi Anak Yatim Piatu Ukraina"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia