Mengenal Pendidikan Taman Siswa, Warisan Perjuangan Ki Hajar Dewantara

Anatasia Anjani - detikEdu
Minggu, 12 Des 2021 09:00 WIB
Ookok pikiran ki hajar dewantara
Foto: Fuad Hasyim
Jakarta -

Taman Siswa merupakan warisan perjuangan Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara. Sebenarnya apa itu pendidikan Taman Siswa? Jika detikers, belum mengetahuinya simak penjelasan berikut ya!

Pendidikan Taman Siswa

Pendidikan Taman Siswa awalnya terbentuk pada saat Ki Hajar Dewantara dan Douwes Dekker (Dr. Danudirdja Setyabudhi) beserta Cipto Mangoenkoesoemo diasingkan ke Belanda. Hal ini karena memprotes rencana perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dan Prancis.

Walaupun diasingkan, ia aktif dalam organisasi pelajar asal Indonesia di Belanda. Dengan mengikuti organisasi tersebut, ia memiliki cita-cita untuk memajukan pendidikan di Indonesia untuk para pribumi.

Ki Hadjar mendalami masalah pendidikan dan pengajaran hingga meraih penghargaan Europeesche Akte. Pada tahun 1918, Ki Hadjar kembali ke Indonesia dan bergabung dengan sekolah binaan dengan saudaranya.

Kemudian pada tanggal 3 Juli 1922, Ki Hajar mendirikan perguruan Taman Siswa. Ia mendirikan lembaga ini untuk memberikan kesempatan dan hak pendidikan yang sama bagi para pribumi yang tidak didapatkan seperti priyayi atau orang-orang Belanda.

Melalui pendidikan Taman Siswa, Ki Hadjar menanamkan rasa kebangsaan pada anak didiknya. Metode pendidikan Taman Siswa adalah dengan menggabungkan perspektif barat dengan budaya nasional tetapi Taman Siswa tidak mengajarkan kurikulum pemerintah Hindia Belanda.

Karena mengusung nasionalisme Indonesia itulah, pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar pada 1 Oktober 1932. Ki Hajar Dewantara tetap gigih memperjuangkan haknya hingga ordonansi itu dicabut.

Selain itu Ki Hajar juga rutin menulis mengenai pendidikan dan kebudayaan berwawasan kebangsaan. Tulisan-tulisan tersebut kemudian menjadi dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia.

Ajaran Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara meraih gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) karena mewarkan tiga ajaran seperti 'Ing ngarsa sung tulodo, ing madya mangun karsa dan tut wuri handayani.' Konsep ini bermakna, 'Di depan memberi teladan, di tengah memberi semangat, dan di belakang memberi dorongan.'

Ia juga mengeluarkan konsep belajar tiga dinding. Filosofi ini menjelaskan tidak ada batas atau jarak antara dunia pendidikan di dalam kelas dengan realitas di luarnya.

Maksudnya sebaiknya sekolah tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga kemampuan lainnya.

Ki Hadjar juga mengajarkan pendidikan bersifat memerdekakan manusia. Maksudnya dengan pendidikan manusia diajarkan untuk memiliki otonomi berpikir dalam mengambil keputusan, bermartabat serta memiliki mentalitas demokratik.

Selain itu, pendidikan harus dimulai dari pemahaman mengenai konsep mendidik itu sendiri, melalui konsep penguasaan diri. Jika peserta didik mampu menguasai dirinya, maka mereka juga akan mampu menentukan sikapnya sebagai pribadi yang mandiri dan dewasa.

Demikianlah penjelasan mengenai pendidikan Taman Siswa. Semoga nilai-nilai baiknya dapat diamalkan ya!



Simak Video "Isi Kuliah Subuh, Anies Cerita Upaya Bung Karno Berantas Buta Huruf"
[Gambas:Video 20detik]
(atj/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia