Perjuangan Seorang Kakek Wujudkan Mimpi Jadi Fisikawan di Usia 89 Tahun

Puti Yasmin - detikEdu
Senin, 08 Nov 2021 18:30 WIB
Perjuangan Kakek Wujudkan Mimpi Jadi Fisikawan di Usia 89 Tahun
Foto: Dok. Universitas Brown/Perjuangan Seorang Kakek Wujudkan Mimpi Jadi Fisikawan di Usia 89 Tahun
Jakarta - Seorang kakek bernama Manfred Steiner akhirnya berhasil mewujudkan cita-cita kecilnya menjadi seorang fisikawan. Uniknya, hal itu terwujud di usia yang tak lagi muda, yakni 89 tahun. Bagaimana kisahnya?

Sebelum menjadi seorang fisikawan, Steiner merupakan dokter. Ia mengaku hal itu sesungguhnya merupakan harapan dari orang tuanya, sedangkan dirinya selalu mendambakan untuk menjadi fisikawan.

"Ini adalah mimpi lama yang dimulai di masa kecil saya. Saya selalu ingin menjadi fisikawan," kata dia dikutip detikEdu dari laman Universitas Brown, Senin (8/11/2021).

"Saya tahu fisika adalah hasrat saya yang sebenarnya pada saat saya lulus SMA. Tetapi, setelah perang, paman dan ibu saya menyarankan saya untuk mengambil kedokteran karena itu akan menjadi pilihan yang baik setelah perang yang bergejolak ini," sambung dia.

Steiner pun menghabiskan masa mudanya dengan mendalami bidang kedokteran. Hal itu dirasa karena baginya nasihat orang tua adalah yang terbaik dan bijaksana.

Ia pun berhasil mendapat gelar sebagai dokter medis di tahun 1955 dari Universitas Wina. Selepas itu, ia pergi ke Washington, Amerika Serikat untuk menyelesaikan training-nya dan magang di bidang hematologi di Universitas Tufts di bawah bimbingan Dr William Damashek yang juga dikenal sebagai ahli hematologi klinis terkemuka di Amerika pada masanya.

Steiner pun memperoleh gelar PhD dalam biokimia pada tahun 1967. Tak lama, ia ditawari sebagai ahli hematologi di program Kedokteran yang baru didirikan di Universitas Brown dan pindah ke Rhode Island.

Pada tahun 1968 ia diangkat sebagai asisten profesor Kedokteran dan di tahun 1978 menjadi profesor Kedokteran. Kecerdasannya juga membuatnya menjadi Kepala Bagian Hematologi sekolah kedokteran di tahun 1985 hingga 1994.

Steiner resmi pensiun di tahun 2000. Namun, hasrat dan kecintaannya pada dunia fisika tak pernah hilang, bahkan ia mengaku tak pernah berhenti memikirkan fisika dan memutuskan untuk mengejar mimpi kecilnya.

"Fisika selalu menjadi bagian diri saya. Dan ketika saya pensiun dari kedokteran dan mendekati usia 70, saya memutuskan untuk memasuki dunia fisika," terang Steiner.

Ia memulai mimpinya kembali dengan mengambil kelas fisika di Massachusetts Institute of Technology (MIT). Kemudian, ia pindah ke program Fisika di Universitas Brown dengan mengambil program sarjana di tahun 2000.

Selama masa perkuliahan tersebut, Steiner menjadi mahasiswa yang paling tua usianya. Namun, ia mengaku teman-temannya senang memilikinya dan memperlakukannya dengan baik.

Menjelajahi fisika membuat Steiner tak sadar, karena ia telah banyak mengambil kelas dan membuatnya bisa diterima di sekolah pascasarjana sebagai PhD calon sarjana Fisika. Namun, beberapa masalah kesehatannya membuat ia menunda beberapa waktu.

Akhirnya, Steiner resmi memasuki program PhD dan berhasil menyelesaikan persyaratan untuk gelar PhD dalam Fisika. Ia mengaku sangat gembira.

"Rasanya sangat senang. Saya benar-benar di puncak dunia. PhD adalah salah satu yang paling saya hargai karena itu adalah salah satu yang saya perjuangkan sepanjang hidup saya," papar dia.

Tetapi, dengan dua gelar PhD yang telah dia miliki dan karier terkemuka di bidang kedokteran, Steiner tak pernah merasa berpuas diri. Saat ini, ia sedang mengerjakan ulang bagian dari disertasinya untuk publikasi dan melanjutkan pekerjaan fisika teoretisnya.

"Meski saya sudah tua, saya ingin terus belajar fisika. Dan bahkan setelah menulis dan menerbitkan makalah ini, saya ingin melanjutkan penelitian saya. Saya selalu berusaha menjaga otak saya tetap tajam. Fisika tentu membantu melakukan itu," ungkapnya.

Walaupun melalui perjalanan yang panjang untuk mewujudkan mimpi kecilnya, Steiner tak pernah menyesal. Sebab, ia bisa merasa bahagia memiliki kehidupan yang baik dan banyak teman.

"Saya tidak benar-benar menyesalinya sekarang. Itu adalah kehidupan yang baik dan saya membuat banyak teman baik. Rasanya sangat enak, terutama setelah saya mendapatkan gelar PhD dan bekerja di bidang kedokteran akademik. Tetapi, fisika selalu mengintai di belakang," jelas dia.

Tak lupa, ia memberikan nasihat kepada semua yang yang mendekati masa pensiun untuk melakukan apa saja yang membuatnya bahagia. Sementara, untuk para anak muda yang bimbang, ia menyarankan untuk mengerja impian mereka.

"Saya pikir anak muda harus mengejar impian mereka apapun mereka, mereka akan selalu menyesal jika tidak mengejar impian mereka," tutup dia.

Simak Video "Cerita Inspiratif Fanboy yang Berhasil Raup Cuan Gara-gara K-Pop"
[Gambas:Video 20detik]
(pay/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia