Kisah Mahasiswa RI di Rusia: Tradisi Linguistik dan Tantangan Belajar di Negara Beruang Putih

Trisna Wulandari - detikEdu
Senin, 28 Jun 2021 12:03 WIB
Rizal, mahasiswa RI kuliah di Rusia
Foto: Rizal Agung Kurnia
Jakarta - Rizal Agung Kurnia semula dibuat penasaran dengan situasi politik internasional Rusia dan citra negatif negara tersebut. Karena itu, ia menjadikan Negara Beruang Putih tersebut menjadi topik skripsinya di prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB Unair). Siapa sangka, kesempatan untuk melanjutkan studi Magister Filologi di Kazan (Volga Region) Federal University atau KFU.

Rizal menuturkan, ia menjadi salah satu dari beberapa alumni Unair yang melanjutkan studi di Rusia. Ia mengatakan, informasi untuk studi di negara ini bisa diperoleh di Facebook Pusat Kebudayaan Rusia, akun instagram @permiraofficial, dan laman education-in-russia.com.

Ia menuturkan, jika kamu juga tertarik studi di Rusia,memerhatikan informasi jurusan dan kampus secara terperinci. Sebab, program studi di Rusia sangat spesifik.

"Saran saya, jangan hanya baca informasi laman kampus yang berbahasa Inggris, karena informasinya tidak cukup lengkap. Kita perlu baca yang berbahasa Rusia, tapi terjemahkan di aplikasi penerjemahan yang kita punya, itu lebih baik," jelas lulusan tahun 2014 tersebut, seperti dikutip dari laman Unair.

Rizal menuturkan, ia sendiri mengambil magister Filologi karena tertarik pada bidang lingusitik. Menurutnya, Rusia memiliki tradisi linguistik yang sangat kuat dan mendalam. Bahasa Rusia yang tergolong rumpun Indo-Eropa baginya membuat bahasa ini memiliki banyak kategori yang rumit. "Namun, bagi saya itu adalah tantangan," ucap Rizal.

Ia bercerita, di kelasnya, kamus menjadi barang wajib agar makna suatu kata dapat dipelajari secara menyeluruh. Sebab, suatu kata memiliki beragam arti dan cara penggunaan. Menurutnya, ia bukan seorang filolog tanpa adanya kamus.

"Bahkan, teman satu kelas yang berbangsa Rusia, juga dituntut untuk menggunakan kamus," kata Rizal.

Menurut Rizal, Rusia memiliki tradisi ilmu pengetahuan yang serius, kuat, dan mendalam. Tradisi ini menjadikan sebuah hal bisa dipandang dari banyak sudut pandang. "Ini yang membuat Indonesia perlu belajar dari Rusia, sehingga dapat lebih bijak dalam mengambil keputusan," ujar Rizal.

Tantangan di Rusia

Belajar di Rusia bagi Rizal tidak mudah dan perlu keseriusan. Kendati demikian, Rizal menuturkan, dirinya mulai terbiasa. Pada 2019, ia berangkat ke Kazan untuk menempuh kelas persiapan dan lanjut kuliah pada 2020.

Rizal menuturkan, selama 2 tahun berada di Rusia, ia mendapati tantangan bahasa dan kultur. Menurutnya, masyarakat Rusia tidak mau mencampuri urusan orang lain selama tidak dilibatkan guna menghormati batas privasi. Ia bercerita, dirinya pernah dipelototi petugas keamanan saat mengembalikan kunci sambil tersenyum.

"Tersenyum pada orang yang tidak dikenal itu hal yang aneh di Rusia," kata Rizal.

Ia menambahkan, cuaca di Rusia juga menjadi tantangan tersendiri. Ia harus membiasakan diri dengan suhu musim dingin yang mencapai puncaknya sekitar 35 derajat celcius pada Desember hingga Februari. Rizal menuturkan, kendati dinginnya menggigit, ia tetap memadatkan masa studinya di sana dengan berkuliah dan berorganisasi sebagai staf Kajian Strategis di Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Rusia (Permira),

Rizal juga menjadi penyiar di program Sehari Bersama Rusia (Siberia) dan Asisten Manager di Radio Perhimpunan Pelajar Indonesia di Dunia atau PPI Dunia. Bagi Rizal, berkegiatan membuatnya juga semakin mengenal negara rantaunya tersebut. "Sehingga tidak ada waktu yang terbuang percuma," katanya.

Gimana detikers, minat lanjut studi ke Rusia?





Simak Video "Indekos Hingga Kuliner di Unair yang Para Maba Harus Tahu"
[Gambas:Video 20detik]
(lus/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia