Cerita Pemburu Beasiswa

Kisah Mahasiswa RI Raih Beasiswa di Rusia: Pindah Kampus Demi Beasiswa

Trisna Wulandari - detikEdu
Jumat, 21 Mei 2021 16:00 WIB
Mahasiswa di Rusia
Foto: Teguh Imanullah
Jakarta -

Teguh Imanullah, mahasiswa RI di Rusia, semula sudah berkampus di program sarjana jurusan Kimia Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, Jawa Tengah. Kendati demikian, mimpinya untuk berkuliah dengan beasiswa belum padam.

Mahasiswa jurusan Nanomaterials, Belgorod State National Research University ini bercerita, ia sempat menyiapkan diri mengikuti seleksi berbagai beasiswa S1 di luar negeri sejak bersekolah. Namun, siswa lulusan MAN Insan Cendekia Jambi ini kemudian sibuk dengan tuntutan hafalan, persiapan ujian madrasah, SNMPTN, dan SBMPTN.

"Waktu itu tahun 2015, saat itu sudah tahu ada beasiswa pemerintah Rusia, dari ayah teman. Tapi tahunya beberapa hari (menjelang) mau tutup (pendaftaran)," kisah Teguh kepada detikEdu dalam Program Lipsus detikcom dengan PPID (PPI Dunia), ditulis Kamis (20/5/2021).

Teguh menuturkan, meskipun tidak sempat mendaftar di tahun itu, ia sudah mulai tertarik mengambil beasiswa pendidikan di Rusia.

"Beberapa alumni (sekolah-sekolah di Jambi) menawarkan bimbingan beasiswa ke luar negeri, ada yang berkuliah di Rusia, Jerman, Turki," kata Teguh.

Teguh bercerita, kurangnya informasi beasiswa ke Rusia saat itu terbantu oleh teman dan ayah temannya yang kerap mengontak Pusat Kebudayaan Rusia.

"Teman saya ambil kuliah di Teknik Pertambangan, Unsri, jadi bareng mau ambil beasiswa ke Rusia. Tapi dulu website-nya belum ada, dokumen dikirim via pos. Beberapa kali bolak-balik Jakarta - Undip untuk pendaftarannya," kenangnya.

Ia menuturkan, satu tahun pembukaan pendaftaran beasiswa ke Rusia diisinya dengan menyiapkan persyaratan beasiswa sambil berkuliah di jurusan Kimia Undip.

Menurut Teguh, salah satu persyaratan beasiswa yang menantang yaitu research plan. Sebab, rencana penelitian perlu menggambarkan visi dan misi penelitian dan studi selama berkampus dengan detail.

Mahasiswa di RusiaMahasiswa di Rusia Foto: Teguh Imanullah

"Untuk research plan, yang benar-benar saya perhatikan itu idenya apa, proyeksi manfaatnya bagi Indonesia, dan bagi Rusia, dan bagi hubungan kedua negara tersebut. Itu jadi kunci. Risetnya agak lama, cari-cari referensi sama senior, dikaitkan dengan hasil riset (waktu ikut Pekan Kreativitas Mahasiswa) PKM. Tetapi setelah studi nanti, research plan boleh berubah," kata Teguh.

Teguh mengaku sempat tidak terlalu fokus kuliah saat menyiapkan pendaftaran beasiswa.

"Gambling sekali waktu itu. Nilainya pas-pasan. Saya habisin waktu di Rohis dan Himpunan. Karena harus ke Jakarta beberapa kali, sempat tidak masuk kelas. Tapi tetap ikut UAS," jelasnya.

Memilih Jurusan dan Negara Tujuan Beasiswa

Teguh bercerita, di sisi lain, ia mantap dengan jurusan dan perguruan tinggi pilihannya di Rusia justru saat tengah berkuliah di Undip. Teguh memilih jurusan Nanomaterials di Belgorod State National Research University.

Menurut Teguh, mengambil sebuah program perkuliahan berdasarkan jurusan adalah hal yang penting bagi calon mahasiswa. Terlebih bagi mahasiswa yang akan pindah kampus sepertinya dan ingin mengambil jalur beasiswa.

"Saya lihat jurusan dulu, karena saat berkuliah akan sering interaksi sama orang jurusan, sama orang departemen. Kita akan ditanya (orang lain) dari jurusan apa, kebisaannya apa. Sayang sekali, apalagi kalau beasiswa, tapi salah jurusan," kata Teguh.

Teguh bercerita, jurusan Nanomaterials ia kenal lebih jauh saat sudah mulai berkuliah di jurusan Kimia Undip. Saat itu ia tergabung dalam klub nanoteknologi Nano Sains Forum (Nasafor) Undip dan mendapat pendanaan dalam riset mengenai penanganan limbah batik.

Ia menambahkan, melihat pemanfaatan nanomaterials bisa berguna bagi banyak orang dan inspirasi dari kakak angkatan di Nano World Indonesia menjadi salah satu pertimbangan mengambil jurusan.

"Dari segi ilmu pengetahuan, (ilmu ini) bisa masuk banyak studi, seperti (teknik) sipil, migas, industri pesawat, kereta api, dan chip komputer. Proyeksi masa depannya juga bagus. Implementasinya dipakai di manapun, jadi seksi sekali dari segi lapangan kerja," terang peraih medali perunggu Kompetisi Sains Madrasah (KSM) Kementerian Agama ini.

Adapun jurusan yang diincarnya, Nanomaterials, tersedia di beberapa perguruan tinggi di Rusia.

Teguh menuturkan, riset terkait ilmu tersebut juga menjadi riset prioritas di Rusia, sehingga pelaksanaan dan pendanaannya didukung pemerintah. Salah satu kampus riset terkait nanomaterials tersebut kelak menjadi tempat Teguh berkuliah, yaitu Belgorod State National Research University.

"Ini mendorong saya masuk ke kampus yang sekarang. Menyandang predikat national research university, jadi dana risetnya banyak," jelasnya.

Menurut Teguh, keterkaitan negara tujuan dengan jurusan yang diambil saat memburu program beasiswa juga menjadi pertimbangan pendukung.

"Meskipun istilahnya bermula di Jepang, tapi pengembangannya cukup baik di Rusia. Termasuk industri roket. Juga fokus mengenai materi alam. Nanoteknologi jadi industri kekuatan negara," kata Teguh.

Teguh bercerita, kendati sudah mantap dengan keputusannya, ayahnya semula tidak begitu setuju dengan pilihan jurusannya.

"Ortu saya ikut riset jurusan, awalnya tidak setuju. Adik saya juga, sampai ke prospek gajinya, kerjanya, belajarnya apa," kenangnya tertawa.

Belajar bahasa hingga fasih

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Dirut TransJ Didemo Mahasiswa untuk Mundur dari Jabatan!"
[Gambas:Video 20detik]

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia