Kemendikbudristek: Jalur Rempah Bakal Perkuat Ekonomi via Pengetahuan Lokal

Anatasia Anjani - detikEdu
Sabtu, 05 Jun 2021 21:00 WIB
Ada wahana baru yang bertajuk The Legend of Sriwijaya Empire di Bekasi. Kita bisa bermain sambil belajar untuk mengenal kekayaan sejarah jalur rempah Kerajaan Sriwijaya.
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Kemendikbudristek Hilmar Farid menilai, jalur rempah dapat dijadikan kekuatan ekonomi berbasis pengetahuan lokal. Ia juga mengatakan bahwa dengan adanya jalur rempah dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar dari masa lalu.

"Ingin mengembangkan pengetahuan melalui jalur rempah? Indonesia memiliki semuanya. Tetapi sharenya dikeseluruhan market itu sangat kecil. Jalur rempah itu kekuatan ekonomi berbasis pengetahuan lokal," papar Hilmar dalam Simposium Amerika Eropa (SAE) Iberia 2021 via Youtube, Sabtu (5/6/2021).

Hilmar menjelaskan jalur rempah merupakan archipelago (penghubung) dan laut justru menjadi elemen penghubungnya. Dengan adanya jalur rempah, menurut hemat Hilmar dapat menghubungkan satuan masyarakat di berbagai wilayah.

"Jika melihat dari sejarah, rempah-rempah dan perdagangan sangat berkaitan erat. Jalur rempah lahir karena perdagangan antar pulau. Kunci jalur rempah adalah jalur pengetahuan," jelas Hilmar.

Hilmar menambahkan, berbicara mengenai kebudayaan dan pengetahuan itu sangat abstrak. Untuk itu diperlukan adanya strategi untuk mengelola budaya. Di sini kemudian jalur rempah menjadi langkah intervensi. Jalur rempah sebagai sebuah narasi dan platform aksi.

"Bisa menggunakan jalur rempah sebagai sumber belajar dari masa lalu. Konsep mengembangkannya yaitu dengan Polity atau network. Basis dari network adalah connectivity. Kualitas yang diperlukan adalah toleransi dan keterbukaan," jelas Hilmar.

Lebih lanjut, menurut data indeks yang disampaikan Hilmar, Indonesia adalah negeri- negeri bio dan cultural diversity nomor satu. Salah satu kekayaannya yaitu rempah-rempah.

"Jika berbicara rempah, pengetahuan itu sangat esensial dan mesti dikembangkan. Cultural resources yang perlu kita gali. Fokus jalur rempah adalah wellness. Lebih mengandalkan peran aktif dari orang. Hal ini dilakukan dengan gotong royong untuk memajukannya," ujar Hilmar.

Pengembangan jalur rempah juga dilakukan dengan rencana aksi. Rencana aksi ini terbagi menjadi dua, pertama yaitu perlindungan kekayaan intelektual dan hal itu masih jauh dari kata selesai. Perlindungan kekayaan intelektual dilakukan dengan CBD atau protokol Nagoya yaitu sistem Data Kebudayaan Terpadu.

"Kedua yaitu pengembangan dan pemanfaatan dilakukan dengan riset pangan dan obat herbal, memperkuat idea to market. Penguatan hulu dan hilir. Diharapkan hasilnya bukan hanya produk melainkan juga informasi (dari museum sampai media), pariwisata, dan kegiatan lainnya. Memang tantangannya dalam jalur rempah ini adalah investment," tutup Hilmar.



Simak Video "Rumah Makan Kampung Laut, Kuliner Laut Maha Nikmat dari Semarang"
[Gambas:Video 20detik]
(nwy/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia