Deputi Kemenko PMK : Pendidikan Karakter Butuh Sinergi Tri Pusat Pendidikan

Trisna Wulandari - detikEdu
Rabu, 02 Jun 2021 13:30 WIB
Ilustrasi Kampus UI, Depok
Foto: Grandyos Zafna/detikFOTO
Jakarta - Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Modernisasi Beragama Kemenko PMK Agus Sartono menuturkan, sinergi orang tua, institusi pendidikan formal, dan masyarakat atau tri pusat pendidikan perlu untuk membangun pendidikan karakter manusia Indonesia.

Hal ini disampaikan Agus dalam webinar Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Indonesia (UI) episode 3, 'Pendidikan Indonesia untuk Masa Depan Bangsa dan Kemanusiaan', Rabu (2/6/2021).

Menurut Agus, pendidikan karakter dan keadaban menjadi upaya menjawab tantangan industri 4.0 dan memaksimalkan bonus demografi 2020. Berdasar Sensus Penduduk 2020, penduduk usia produktif 15-64 tahun yakni 70,72%. Kondisi ini membuat Indonesia berada pada masa bonus demografi.

Agus mengatakan, pendidikan manusia Indonesia saat ini merupakan masa depan bangsa nanti. Untuk itu, sinergi tiga pihak tersebut diperlukan untuk memastikan SDM Indonesia punya kualitas dan karakter yang baik, terutama di masa bonus demografi.

"Setidaknya dilihat dari tingkat pendidikan yang diperoleh dan kesehatan. Kita masih jauh dari itu," kata Agus.

Ia menambahkan, pendidikan merupakan rekayasa sosial yang terencana untuk membentuk karakter dan membangun keadaban. Untuk itu, sinergi tiga pihak untuk pendidikan manusia Indonesia penting dilakukan tidak hanya di usia produktif manusia, namun sejak sebelum kelahiran.

"Pendidikan bukan membuat orang cerdas, pandai hukum, matematika, atau ekonomi. Tidak cukup. Harus berkarakter dan punya keadaban," kata Agus.

Agus menuturkan, di sisi orang tua, pemeliharaan anak sejak sebelum kelahiran lewat penjagaan tutur, psikologis, dan kondisi ibu mendukung anak untuk tumbuh siap merespons tantangan Indonesia dalam proyeksi 2035-2045.

"Ini penting, sebab anak yang tumbuh dalam kondisi kekerasan dan bullying akan mengalami tantangan untuk tumbuh dengan baik," kata Agus.

Ia menambahkan, adapun jenjang pendidikan anak usia dini memegang peranan penting dalam pembentukan karakter seorang manusia. Adapun pendidikan dasar dan menengah seperti SD hingga SMA sederajat punya porsi berimbang dalam mendidik karakter dan kognitif anak.

"Sementara pendidikan tinggi lebih ke pendidikan kognitifnya. Maka mengapa menceramahi mahasiswa soal pendidikan karakter jika sejak dini ini tidak ditumbuhkan. Masa pendidikan tinggi itu sudah lebih ke kognitif," kata Agus.

Agus mengatakan, beberapa aspek pendidikan karakter yang perlu ditanamkan yaitu etos kerja semangat kerja keras, orientasi ke proses ketimbang hasil, bergotong royong, dan memiliki integritas.

"Integritas ini yang terpenting, agar bersama bergotong royong dengan baik. Lalu agar tidak berorientasi pada hasil dengan mengabaikan proses yang benar. Juga agar menikmati prosesnya, bersemangat tidak mudah menyerah," kata Agus.

Agus menuturkan, integritas secara sederhana merupakan bentuk kejujuran kepada diri sendiri akan apa yang baik dan benar.

"Honesty to ourselves. Membangun karakter bukan hanya know the good, tetapi juga desire to do the good, dan lebih penting, do the good, over and over again. Tanpa integritas, karakter itu akan meaningless," katanya.

Ia mengatakan, anak perlu contoh dan teladan dari guru, yaitu orang tua, guru di sekolah, dan atasan di tempat kerja.

"Contohkan apa yang baik dan benar. Integritas itu tumbuh dari kebiasaan berulang hingga menjadi karakter. Ini rangkaian panjang proses pendidikan. Pendidikan karakter baru berhenti ketika seseorang wafat," kata Agus.

Adapun Ketua MWA UI Saleh Husin menuturkan, pendidikan formal butuh bersinergi mendidik manusia indonesia bersama industri, komunitas, lembaga kemasyarakatan, dan lembaga pemerintah atau swasta.

"Bagaimana (pendidikan formal) berperan pada pendidikan karakter dan tidak hanya sekadar pada kecerdasan," kata Saleh pada webinar yang sama.

Terkait pendidikan untuk masa depan bangsa, Rektor UI Ari Kuncoro menuturkan, kegagalan mengusai teknologi saat ini melahirkan kemiskinan literasi teknologi.

Menurut Ari, pandemi yang memunculkan tantangan pada pendidikan membutuhkan sinergi untuk menerapkan terobosan pendidikan saat ini, seperti PJJ dan lokalisasi pendidikan.

"Untuk menjawab menyiapkan pendidikan agar dapat berperan dalam menyiapkan masa depan bangsa," kata Ari dalam webinar yang sama.



Simak Video "4 Upaya Perbaikan Sistem Pendidikan RI yang Terus Diupayakan Nadiem"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia